Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Wayang Kulit dan Masa Kecil Saya

Masa kecil saya begitu kental dengan budaya Jawa, salah satunya yang paling saya ingat adalah wayang kulit. Saya kerap diajak Bapak nonton wayang kulit sampai larut malam, padahal ketika itu saya baru berumur sekitar lima tahun. Kalau pagelaran wayang kulit tidak jauh dari rumah biasanya saya dan Bapak jalan kaki saja. Namun bila saya merasa lelah, Bapak kemudian menggendong saya. Kalau tempatnya cukup jauh, Bapak biasanya membawa sepeda onthel dan saya membonceng di belakang. Pernah suatu ketika saya sudah tertidur, Bapak kemudian mengikatkan saya di punggungnya dengan kain sarung sembari terus mengayuh sepeda. Meskipun selalu pulang dalam keadaan tidur, saya tidak pernah menolak ketika diajak Bapak nonton wayang kulit lagi.

Festival Dalang Bocah Wayang Kulit

Semakin sering saya nonton wayang kulit, saya juga semakin tahu nama-nama dalang. Saya kagum kepada mereka karena bisa membuat wayang-wayang itu seolah hidup, berbicara, dan membawa kisah sepanjang malam. Di kampung saya, Klaten, banyak sekali dalang ternama. Sebut saja, Ki Narto Sabdo, Ki Anom Suroto, Ki Tantut Sutanto, Ki Warsito Jati, Ki Warseno Slank, Ki Poedjosoemarto, Ki Gangsar, Ki Tomo Pandoyo, Ki Sutikno Slamet, Ki Kandhalesana, dan masih banyak lagi. Sayangnya saya tidak sempat nonton dalang Ki Narto Sabdo. Dalang yang juga pencipta ratusan lagu ini merupakan dalang terbaik sepanjang masa. Ki Narto Sabdo yang pernah menciptakan lagu Caping Gunung itu begitu tersohor dan mendapatkan pengakuan dari dalang-dalang lainnya.

Selain karena gending-gendingnya, orang-orang juga menyukai bagaimana dalang yang meninggal pada akhir tahun 1985 ini menyisipkan humor-humor dalam adegan keraton yang biasanya kaku. Meskipun sangat jarang saya saksikan, saya juga mengenal nama-nama dalang tersohor dari luar Kabupaten Klaten. Mereka adalah Ki Manteb Sudharsono dari Karanganyar, GPH Benowo dari Keraton Surakarta, Ki Purbo Asmoro dari Solo, Ki Joko Hadiwijoyo dari Semarang, dan Ki Enthus Susmono dari Tegal. Bila dalang-dalang ternama itu tampil, ribuan penonton datang dari lintas Kabupaten. Dalang-dalang tersohor itu kerap tampil dalam event nasional dan bahkan internasional. Ki Enthus Susmono bahkan baru menuntaskan tour wayangnya di lima lokasi di Kota Jakarta.

Pagelaran wayang kulit biasanya dilakukan pada pesta pernikahan, syukuran, sunatan, dan perayaan 17-an. Ketika kakak saya sunat, saya senang sekali karena Bapak akan nanggap wayang untuk sunatan anak sulungnya. Saya duduk di samping Bapak ketika Ki Tantut Sutanto datang ke rumah untuk memastikan hari, tanggal, dan lakon (judul cerita wayang) yang akan dibawakan. Senang sekali rasanya, apalagi ternyata Bapak memilih lakon Wahyu Putro Sejati. Mungkin Bapak hanya nanggap wayang sekali ini, hanya untuk kakak saya. Saya pikir, mungkin Bapak hanya memberi saya lakon ini saja. Lakon Wahyu Putro Sejati ini bercerita tentang perjuangan seorang ksatria yang selalu mendapatkan anugerah karena kesucian niatnya.

Kenangan tentang masa kecil saya dan wayang kulit seolah kembali pada akhir pekan kemarin. Sesampai di depan Museum Bank Indonesia, tepatnya di dekat Halte Busway Kota, banyak kerumunan di pelataran museum tua itu. Ternyata ada event Festival Dalang Bocah Nasional 2011 yang menampilkan 23 dalang cilik dari berbagai daerah. Ketika saya datang, dalang cilik Dio Maulana sedang tampil membawakan lakon Gondomono Thundung. Dalang cilik kelahiran Jakarta ini dengan apik membawakan wayang kulit aliran Surakarta. Lakon Gondomono Thundung menceritakan kisah patih Gondomono yang difitnah dan akhirnya harus menyerahkan jabatannya untuk menghindari perang saudara. Meskipun masih beumur 13 tahun, dalang bocah Dio Maulana bisa β€œndalang” dengan lancar dan memukau penonton yang hadir.

Festival Dalang Bocah Nasional 2011 merupakan event yang diselenggarakan Bank Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya asli Indonesia yang sudah diakui secara internasional ini. Bank Indonesia dalam event ini bekerja sama dengan Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) dan Senawangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia). Festival Dalang Bocah Nasional 2011 ini merupakan rangkaian Festival Wayang Indonesia 2011 yang sebelumnya sudah diselenggarakan di beberapa lokasi, seperti di Museum Wayang dan Gedung Pewayangan Kautaman TMII. Di sela-sela acara Festival Dalang Bocah Nasional 2011, saya melihat beberapa dalang bocah yang sedang tidak tampil. Mereka memenuhi sebuah stand yang menjual beberapa aksesori wayang dan buku-buku tentang wayang.

Festival Dalang Bocah Wayang Kulit

Yang paling menyenangkan adalah melihat dalang bocah yang baru berumur delapan tahun. Melihat itu, rasanya saya yakin anak saya kelak masih bisa melihat pertunjukan wayang kulit seperti saya waktu kecil dulu. πŸ™‚

40 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *