Selain dimeriahkan dengan ulang tahun Kota Jakarta, bulan Juni juga merupakan bulan bersejarah bagi koran Kompas. 46 tahun lalu, tepatnya 28 Juni 1965, koran Kompas pertama kali diterbitkan dengan total 4.800 eksemplar. Penerbitan koran Kompas pertama kali diusulkan oleh Jenderal Ahmad Yani kepada Frans Seda. Frans Seda kemudian menyampaikan ide Jenderal Ahmad Yani yang menginginkan surat kabar yang berimbang, kredibel, dan independen itu kepada dua sahabat dekatnya, P.K. Ojong dan Jakob Oetama. Frans Seda juga harus berjuang mengumpulkan 5.000 tanda tangan untuk memenuhi syarat surat izin penerbitan sebuah koran ketika itu.

Sebenarnya cikal bakal harian Kompas ini adalah bulanan Intisari yang pertama kali terbit pada 7 Agustus 1963. Bulanan Intisari ini diterbitkan oleh P.K. Ojong. Awalnya koran Kompas ini bernama Bentara Rakyat, namun atas usul Presiden Soekarno harian ini kemudian berganti nama menjadi Kompas. Filosofinya, sebagai penunjuk arah yang benar. Sebelum benar-benar terbit, koran Kompas selama tiga hari berturut-turut terbit sebagai koran percobaan. Modal terbitan pertama koran Kompas sebesar Rp. 100.000,- diambil dari hasil penjualan bulanan Intisari. Koran Kompas pertama kali terbit sebagai surat kabar mingguan dengan hanya delapan halaman. Perlahan-lahan, koran Kompas terbit empat kali seminggu. Tahun 1967, koran Kompas oplah kompas sudah mencapai 30.650 eksemplar.

Bagi saya, koran Kompas begitu berharga karena menjadi salah satu koran yang mengabadikan tulisan-tulisan Soe Hok Gie. Tahun 1967, tulisan perjalanan Soe Hok Gie berjudul Menaklukkan Gunung Slamet dimuat koran Kompas edisi 14, 15, 16, dan 18 September 2011. Ketika koran Kompas mulai menguasai angka penjualan surat kabar secara nasional pada tahun 1969, tulisan-tulisan Soe Hok Gie juga semakin banyak dimuat di koran Kompas. Soe Hok Gie kerap menulis tentang kritik-kritik kepada pemerintah, misalnya tulisan Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang pada 16 Juli 1969. Tulisan Soe Hok Gie yang berjudul Generasi yang Lahir setelah Tahun Empat Lima dimuat di koran Kompas edisi 16 Agustus 1969. Pada hari itu, Soe Hok Gie juga pergi ke kantor Kompas untuk mengambil honor tulisannya namun ternyata keuangan Kompas sedang terganggu.

Nyatanya sejak tahun 1969 itu, koran Kompas selalu menjadi koran paling laku di seluruh Indonesia sampai sekarang. Namun koran Kompas pernah dibredel pemerintah pada tahun 1978, bersama enam harian nasional lainnya. Ketujuh harian nasional itu dibredel karena liputan demontrasi mahasiswa di berbagai daerah menyusul pencalonan Presiden Soeharto untuk ketiga kalinya. Dua tahun setelah dibredel, koran Kompas kehilangan satu dari dua pendirinya, Petrus Kanisius Ojong. Berpuluh-puluh tahun kemudian, koran Kompas semakin berjaya dengan oplah yang mencapai 530.000 eksemplar. Bahkan, koran Kompas edisi Minggu bisa mencapai 610.000 eksemplar. Dari pencapaian itu, koran Kompas setidaknya mempunyai pembaca setia sebanyak 2,25 juta di seluruh Indonesia.

Koran Kompas yang menjadi satu-satunya harian nasional di Indonesia yang diaudit oleh Audit Bureau of Circulations (ABC) ini juga mencatat beberapa prestasi di tahun 2011 ini. Dua fotografer Kompas, Raditya Helabumi dan Lucky Pransiska, meraih perunggu pada Asia Media Award 2011. Jakob Oetama juga menerima Medali Emas Spirit Jurnalisme dari Komunitas Hari Pers Nasional 2011. Koran Kompas juga meraih penghargaan Indonesia Most Favorite Youth Brand 2011 untuk kategori media cetak dari Majalah Marketeers dan MarkPlus Insight. Koran-koran daerah yang tergabung dalam Grup Kompas juga mencatat prestasi tersendiri. Tribun Batam, Tribun Kaltim, Tribun Medan, dan Banjarmasin Post meraih penghargaan koran regional terbaik pada Indonesia Print Media Awards 2011.

Tidak hanya mendapatkan penghargaan, pada ulang tahun ke-46 ini koran Kompas juga memberikan penghargaan kepada lima cendikiawan berdedikasi. Penghargaan Kompas ini diberikan kepada lima cendikiawan yaitu Sayidiman Suryohadiprojo, M. Arsjad Anwar, Mochtar Naim, Jakob Sumarjo, dan Sitti Leila Chairani Budiman. Nama terakhir masih ada hubungannya dengan Soe Hok Gie. Leila Chairani adalah kakak ipar Soe Hok Gie. Ahli psikologi yang selama 25 tahun menulis rubrik konsultasi psikologi di koran Kompas ini menikah dengan Arief Budiman alias Soe Hok Djien. Leila Chairani yang berhenti mengisi rubrik konsultasi psikologi di koran Kompas sejak bulan Juni 2008 ini mempunyai andil besar dalam perkembangan koran Kompas.

Selamat Ulang Tahun ke-46 Koran Kompas. Semoga selalu mengangkat “Amanat Hati Nurani Rakyat”.

53 Responses to Ulang Tahun Kompas dan Kenangan tentang Soe Hok Gie

  1. Masbro says:

    Sukses selalu buat Kompas. Saya juga pernah membaca kisah perjalanan harian kompas, salut deh pokoknya.

    Dan untuk Soe Hok Gie yang selalu menginspirasi, saya menunduk hormat pada cara pandang pada dunia dan kecintaannya pada alam raya..

    Buat Mas nya, selamat malam ya Mas..

  2. isnuansa says:

    Wow, Kompas juga bisa mbayar mundur penulisnya ya? #barutau

  3. arif says:

    kompas tetap laris secara nasional. bulan depan juga makin eksis launching dreez nya kompasiana :D

  4. aRuL says:

    semoga kompas tetap menjadi media berimbang, dan mengedepankan berita yang cover both of side.

  5. fitr4y says:

    kompas sudah 46 th,, usia yg matang .. selamat ultah n tetap manjadi harian terdepan ..

    salam :)

  6. Sugito Kronjot says:

    Perjalanan Soe Hok Gie begitu panjang, beliau hebat ikut berdiri bersama kompas bersma kritikannya yang tajam.

    Selamat Ulang Tahun ke 46 Kompas.

    Semoga semakin sukses.

  7. bdangkal says:

    kompas penuh inovasi dalam pergerakannya, dan itu inspiratif…

  8. Joko Sutarto says:

    Ulasannya cukup lengkap. Saya baru tahu sejarah Kompas setelah membaca ini. BTW, apa Soe Hok Gie masih saudara Mas Gie Wahyudi? Kok sama-sama ada “Gie”-nya? :D

  9. makhluklemah says:

    ow jadi soe hoek gie itu penulis kompas ya baru tau saya,

  10. jarwadi says:

    kompas bagi saya merupakan koran yang ditulis dengan gaya yang paling enak dibaca. saya suka gaya penulisan kompas. semoga ke depan kompas dapat memberitakan sesuatu dengan lebih berimbang

  11. kupangboy says:

    Ayahku berlangganan Kompas sejak 1980an sampai beliau meninggal dunia 1999 sejak kecil saya sudah sangat mengenal Kompas sebgai bacaan keluarga…Komik Garth adalah favorit saya sayang sekali sudah tidak ada lagi. jika saja Mas Gie Wahyudi tau dimana saya bisa dapatkan lagi bundel komik Garth yang dari kompas itu saya berani beli mahal

    • giewahyudi says:

      Komik Garth sudah jadi barang langka sekarang..
      Tapi nanti kalau ada info saya kasih tahu, Mas..

      Salut dengan almarhum Bapak Mas yang sudah membaca Kompas sejak lama..

  12. rahad2six says:

    berarti perjalanan kompas dari awal terbitnya sampe sekarang terbilang enggak mulus namun jadi makin sukses :D
    sukses terus kompas :)

  13. Selamat ultah kompas, memang koran ini yang paling berkualitas diantara yang lainnya

  14. Zulmasri says:

    Selain valid dengan penyajian berita yang berimbang, ketidakberpihakannya menjadikan Kompas benar-benar menjadi kompas bagi masyarakat. Selamat buat Kompas dan juga Soe Hok Gie

  15. Sya says:

    I have been updated -again- by Mas Gie :)

  16. susisetya says:

    sejarah yang cukup lengkap tentang KOMPAS, aku baru tahu kalau yang memberi nama KOMPAS itu Presiden Soekarno, selamat ulang tahun KOMPAS, yang rasanya hingga saat ini masih menjadi koran no 1 di Indonesia…

  17. [...] amelia|uda vizon|kang dadang|mbak fitrimelinda|mamahnya enrico|mamahnya kinan|bundanya dini|mas giewahyudi|mas muh.mufti|mas herry|mas choirulhuda|bang sarimin|chocovanila|mas jier|mbak hilsya|kang [...]

  18. coekma says:

    met ultah kompas… abis ini ultah emas lho… kurang 4 tahun lageeee….

  19. Triunt says:

    saya pengen nonton Gie lagi…
    cari DVDnya yg masih clear susah bgt ya :(

  20. Mas Kholiq says:

    selamat ulang tahun buat kompas
    semoga kompas semakin baik aja….

  21. Orin says:

    Kompas dan Soe Hok Gie? Kolaborasi yang sempurna..

  22. kangmartho.com says:

    di daerahku KOMPAS sulit didapat..
    jadi saya hanya bisa baca yg versi online saja dan bergabung di kompasiana tentunya

  23. irfan handi says:

    Jadi tau sejarah KOMPAS neh mas. makaci.

  24. DV says:

    Hmmm… waktu kecil dulu aku ngga suka Kompas karena isinya “tulisan semua”.. Tapi seiring berjalannya waktu, aku semakin mengakui Kompas adalah koran terbaik di Indonesia.

    Meski kata terbaik belum tentu ter-obyektif…
    Mana ada sih koran yang bisa benar-benar ada di tengah? :)

  25. suretno says:

    Kompas + Soe Hoek Gie, Sama-sama legendaris

  26. Mabruri says:

    selamat ultah buat kompas..
    soe hoek gie… hebat

  27. Kurnia Septa says:

    Dan sekarang kompas sedang merintis jurnalisme warga dengan cikal bakalnya kompasiana. Akan terbit atau sudah terbit versi cetaknya, kalau gak salah namanya FREZZ

  28. Saya baru tahu ternyata usia kompas lebih tua dari usia ibu saya… :D

  29. DM says:

    Hingga saat ini aku belum bisa menemukan harian Nasiona yang sekredibel Kompas. Kalau untuk kandungan lokal, koran lokal barangkali lebih punya taring. Namun cara pandang serta wawasan berpikir secara luas, Kompas masih nomor satu di mataku. Membaca Kompas membuat cerdas.

  30. sibair says:

    Selamat ulangtahun buat kompas… :D

  31. Arif Riyanto says:

    “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”

    - Soe

  32. selamat ulang tahun aja buat kompas..
    semoga semakin baik dan semakin kritis sama kebijakan2 yang tidak pro rakyat

  33. foredi gel purwokerto says:

    Terimakasai atas info dan artikelnya,saya akan mencoba. salam sukses

  34. seli says:

    Saya juga pernah membaca kisah perjalanan harian kompas, salut deh pokoknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>