Tak lama lagi kita akan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia untuk kesekian kalinya. Namun sebagai orang Indonesia, saya merasa belum mengenal Indonesia secara keseluruhan. Saya tak tahu banyak tentang budaya di pedalaman Kalimantan atau di pesisir Maluku Utara. Seperti kebanyakan orang Indonesia, saya juga baru “merasa memiliki” Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange, Tari Pendet, dan terakhir Tari Tor-tor setelah Malaysia mengklaimnya. Untuk itulah kali ini saya ingin mempelajari Indonesia melalui tradisi berburu babi di beberapa daerah di seluruh Indonesia.

Seekor anjing pemburu dilatih untuk menakhlukkan seekor babi hutan di Sumatera Barat. Sumber dari Akumassa.Org
Ketika pertama kali tinggal di Sumatera Barat, tepatnya di Lintau Buo, saya merasa heran ketika melihat orang membawa anjing-anjing peliharaannya. Awalnya saya pikir anjing-anjing itu “digembalakan” secara massal. Ternyata anjing-anjing itu dikumpulkan untuk memburu babi hutan yang masuk ke ladang pertanian. Babi memang menjadi hama yang paling merugikan sehingga warga dari berbagai daerah bersatu padu untuk membasminya. Perburuan babi hutan kecil-kecilan (lintas kecamatan) disebut Buru Pakan, sedangkan perburuan babi hutan besar-besaran (lintas kabupaten) disebut Buru Alek.
Setelah diketahui ada babi hutan yang masuk ke ladang pertanian, warga setempat akan mengundang warga dari daerah lain untuk berburu babi di ladang tersebut. Para pemburu babi kemudian berbagi tugas. Pemburu tuan rumah akan bertindak sebagai penyelenggara yang disebut Buru Muncak, sedangkan para pemburu yang bertindak sebagai tamu disebut Sialek. Anjing-anjing milik Buru Muncak bertugas menghalau babi agar tidak keluar dari hutan, sedangkan anjing-anjing milik Sialek bertugas mencari, mengejar, dan menggigit babi hutan.
Bagi anjing-anjing pemburu itu, menakhlukkan babi hutan tidaklah mudah karena babi hutan kuat, gesit, dan memiliki taring yang tajam. Setiap pemburu berusaha melatih anjingnya sebaik mungkin karena pemilik anjing yang berhasil menakhlukkan babi hutan akan mendapatkan kebanggaan. Kini tradisi berburu babi di Sumatera Barat tidak hanya untuk membasmi hama babi hutan, tapi juga menjadi sarana olahraga dan wisata. Bagi wisatawan asing konon harus membayar sejumlah uang untuk menyaksikan perburuan babi hutan ini secara langsung. Lebih jauh lagi, perburuan babi hutan ini telah mempererat persaudaraan karena persamaan tujuan yaitu membasmi hama babi hutan.
Tradisi berburu babi di Sumatera Barat sudah bertahan dari sejak zaman kolonial Belanda sampai sekarang. Bahkan kini tradisi berburu babi ini sudah menyebar ke provinsi lain di sekitar Sumatera Barat, yaitu antara lain Jambi, Bengkulu, dan Pekanbaru. Selain berburu babi di daerahnya masing-masing, pemburu babi hutan dari Jambi, Bengkulu, dan Pekanbaru itu juga selalu hadir jika diadakan Buru Alek Gadang di Sumatera Barat. Baru-baru ini Festival Berburu Babi se-Indonesia diselenggarakan di Batam dan dihadiri pemburu babi dari seluruh Indonesia.
Tidak hanya di Pulau Sumatera, tradisi berburu babi juga ada di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tradisi berburu babi yang sudah dilakukan turun-temurun ini biasa disebut “Maddengngeng”. Maddengngeng biasa dilakukan sebelum penanaman bibit di ladang dan sebelum musim panen. Semua warga kampung mengambil tugasnya masing-masing dalam tradisi berburu babi ini. Warga perempuan bertugas menyiapkan makanan untuk santapan para pemburu. Sementara warga laki-laki masuk hutan dengan membawa tombak dan anjing pemburu. Meskipun tidak jarang warga menjadi korban babi hutan yang mengamuk, tradisi Maddengngeng ini tetap dilestarikan.
Pada zaman dahulu tradisi gotong royong warga dalam membasmi hama babi ini sangat populer. Karena pemburu yang bisa memperoleh tangkapan babi hutan terbanyak akan mendapatkan hadiah dari Raja Bone berupa badik atau tombak. Karena warga Bone umumnya beragama Islam, babi hutan hasil tangkapan tidak dimakan, tapi dibakar dan diberikan kepada anjing-anjing pemburu itu. Konon anjing yang memakan babi bakar itu akan menjadi lebih peka terhadap bau babi hutan sehingga semakin lihai dalam menakhlukkan babi hutan.
Di Pekalongan tradisi berburu babi ini sebenarnya juga pernah ada, namun kini sudah ditinggalkan. Tradisi “Nggedheg Babi” ini diselenggarakan di Desa Lambanggelun, Kecamatan Paninggaran, yang terletak di tepi hutan. Berbeda dengan tradisi Buru Alek di Sumatera Barat dan tradisi Maddengngeng di Sulawesi Selatan, tradisi Nggedeg Babi ini tidak menggunakan anjing pemburu. Dalam tradisi Nggedeg Babi ini, warga Lambanggellun membangun gedheg (bangunan semi-permanen dari anyaman bambu) di tengah hutan yang disusun melingkar seperti benteng. Kemudian di dalam gedheg itu diisi dengan ubi dan singkong.
Selanjutnya salah satu orang pintar dari kampung melakukan ritual untuk memanggil babi hutan. Setelah babi hutan masuk ke dalam gedheg, warga membiarkan babi hutan tersebut tinggal di dalamnya selama sehari semalam. Baru setelah itu warga membunuh babi hutan tersebut dengan tombak dan parang. Sayangnya, tradisi Nggedheg Babi itu kini sudah tidak ada. Sejak sepuluh tahun terakhir warga tidak lagi melaksanakan tradisi ini karena alasan modernisasi dan konon jumlah babi tidak juga berkurang setelah dilakukan tradisi Nggedheg Babi ini.
Mengenal Indonesia dari hal-hal kecil seperti ini memang menyenangkan. Tradisi berburu babi mungkin mulai dilupakan namun kita dapat mengambil nilai-nilai ke-Indonesia-an kita dari sana. Karena babi hutan yang menyerang ladang pertanian, semua orang bersatu padu dan bahu membahu untuk membasmi hama babi hutan. Di Lintau Buo, Sumatera Barat, saya menyaksikan warga dari berbagai tingkat sosial bergabung dalam tradisi buru babi. Tak kenal rakyat atau pejabat, orang kaya atau miskin, semua bergotong royong memburu babi hutan. Semangat gotong royong itulah yang kini perlu dipupuk lagi.
Eh, ngomong-ngomong di daerah Anda ada tradisi berburu babi semacam ini, enggak? Share ya.



di tempatku ga ada babi hutan mas, adanya hama tikus yang juga diburu bersama-sama..:)
Tapi perburuan hama tikus tidak semeriah perburuan hama babi kayaknya.
Apalagi kalau tikus rumahan, orang memburu di rumah masing-masing, enggak pakai gotong royong.
Di kampung orang tua saya jarang banget babi, palingan anjing kampung yang banyak berkeliaran, tapi masa mau diburu anjingnya?
Kampungmu di mana sih, Den? Kirain anak kota.
dulu waktu kecil dikampung saya. saya sering berburu gini mas. tapi tidak dengan senjata seperti senapan atau pake anjing. saya dan teman-teman saya memasang jebakan dengan tali yang terbuat dari semak belukar. sebenarnya bukan berburu sih cuman kami dulu iseng aja menjebak babi hutan saat kami mancing dirawa yang ada didalam blantaran hutan. sering dapat mas Gie lalu ya kami beri aja sama orang yang non Islam. kadang juga lepas dari jebakan dan tertinggal taringnya mungkin kira-kira babi yang lepas dari jebakan kami dan tertinggal taringnya akan mati. secara setelah lepas taringnya banyak darah berceceran. itu sedikit cerita pengalaman waktu kecil sebagai anak kalimantan yang keturunan orang jawa
. lah kok malah curhat sih saya
Ini lokasinya di mana, Mas Andank? Di Kalimantan ya?
Keren nih dapet info tradisi berburu babi dengan cara berbeda.
Kalau bikin jebakan begini malah enak, Mas, tidak ada resiko diseruduk babi hutan yang ngamuk..
Wow saya baru tau ternyata ada Festival Berburu Babi se-Indonesia.
Kalo di daerah saya Cirebon sih gak ada tradisi berburu babi atau semacamnya mas. Kalaupun ada hama ladang paling tikus, itupun gak ada tradisi khusus untuk berantas hama tikusnya.
Di beberapa daerah tradisi semacam ini memang sudah mulai ditinggalkan, Mas. Hampir sama dengan kita yang mulai meninggalkan ke-Indonesia-an kita..
Didaerah saya, kab.sambas, gak ada yg beginian. Babi susah dicari, maklum mayoritas Muslim
Laporan diterima!
Iya, Mas. Mungkin daerahnya memang ga cocok untuk kehidupan babi hutan..
Ning Jawa Tengah kayaknya jarang sekali ada acara berburu babi tradisional…
Kalau berburu pakai senapan dan sifatnya juga sporadis sich ada
Di Bali sepertinya sudah tidak ada lagi deh yang berburu babi hutan
.
Dulunya ada ya, Bli?
Kalau ada babi ditangkap disini, psti sudah dijadikan guling. Maksudnya guling babi yang banyak penggemarnya
Salam hangat serta jabat erat selalu darin Tabanan
di deket tempat saya ada kalau musim hujan mas, tapi kalau musim kemarau gak ada babinya entah kemana, jadi berburunya cuma musim hujan aja
Tapi berburu babi di musim hujan itu susahnya minta ampun. Kondisi medan licin, tapi babi itu lincah dan gesit jadi para pemburu pasti kewalahan..
Pas dulu saya KKN di desa Mojotengah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah didaerah tersebut ada beberapa warga yang memelihara Anjing untuk berburu babi hutan. Memang didaerah tersebut banyak sekali anjing, untuk menjaga rumah sekaligus memburu babi hutan yang kerap kali merusak ladang jagung mereka.
Tapi saya sendiri belum pernah ikut berburu babi hutan, liat anjingnya saja sudah takut xixixi…..
Wah, ditempat saya jg gitu mas Gie. Di Bangka Belitung, babi hutan emang hama yg paling menjengkelkan. Kesian Ibu yg udah nanem Singkong & tumbuh subur malah dihantam sama Babi.
Akhirnya ditempat saya yg muslim sama non muslim sering kerja sama berburu babi hutan. Yg muslim beruntung Babinya dibasmi, yg non muslim dapet daging buat dimasak.
Hehe… *penuh kebersamaan
Iya, Bang..
Ini memang esensi dari gotong royong, dan ternyata dari babi hutan saja kita bisa menemukan jati diri bangsa ini. *dalem*
Pas tujuhbelasan di Bali ada lomba menangkap anak babi…. hehehe
jogja mana ada mas tradisi ini
tp saya pas ke pulang kampung ke medan dl pernah ikutan berburu babi mas..
seru juga..
babi hutan memang tidak seperti babi peliharaan yg warna merah muda itu.. lari cepat dan gesit
emang mas Tomi orang medan ya? aku baru tau.
Aku belum pernah ngeliat babi hutan.
pernah nonton cara berburu babi hutan di sumut doank tp itupun di tivi
Tidak cuma di tivi, di sini juga bisa to?
saya malah baru pertama kali lihat ini nih…. babi dikeroyok oleh tiga anjing… seru juga ya…. ini bisa dibudayakan seperti anjing menggiring domba ke dalam kandang ya… seperti di luar negeri ya…
ANjingnya sangar, hahaha… Tapi sepertinya lebih seru pakai senapan ya??
Pulau Jawa ga disebutkan sama sekali dalam postingan, soalnya orang di Pulau Jawa kalo ngeliat babi mindset nya bakal ke Babi ngepet XD
Eh Pekalongan udah disebutin -_-
Tapi kan udah ga dilakuin lagi XD
Hhehhee ketahuan, Mas. Iya, selama ini kan kata babi hanya diartikan negatif padahal kan banyak yang romantis-romantisan pakai kata baby, eh.
Saya pernah nonton film dokumenter, perburuan nya dilakukan malam hari, mungkin supaya gerak babinya jadi lambat karena gelap.
di daerah saya g ada karena gak ada babi hehehe.. paling hama tikus atau serangga aja. itu babi yang dibunuh babinya dibuang atau dimakan? huaaa
Di tempat saya kayaknya ndak ada babi hutan deh.. Hutannya juga ndak ada
Di kampung saya, Magek-Bukittinggi, barburu babi hutan itu disebut Baburu Kandiak..Tiap pekan bapak-bapak di geret anjingnya (benaran di seret karena anjing berlari lebih kencang) menuju lokasi peburuan. Di pinggang mereka tersampir tas kecil berisi makanan dan tempat air minum..Tapi daging kandiaknya gak pernah di bawa pulang, karena babi di Minang gak pernah di makan hehehe…
Di jogja kayaknya gak ada berburu babi hutan..adanya berburu babi ngepet, hehehe
tradisi berburu babi hutan utk jateng hampir2 tidak ada, mas gie. dulu waktu saya masih kecil ada tradisi berburu kijang. itu pun semata2 hanya sekadar utk lauk. tak ada ritualnya.
Saya suka daging babi tapi melihat video itu saya merasa amat kasian
Saya tak bisa berkomentar lebih banyak, ada yang kontradiktif dalam benak saya yang tak layak untuk dishare-kan di sini
Saya dulu pernah kerja di tengah hutan Pulau Siberut (Kep. Mentawai, Sumatera Barat). Di sana banyak sekali babi hutannya, sesekali pernah ada anak anak babi yang ngintipin saya mandi di sungai, hahaha.
Saya pernah dengar, perburuan babi hutan ini bahkan jauh sebelum jaman penjajahan Belanda, karena Babi hutan dibawa (kemungkinan dari Afrika) sekitar 3.000 tahun yang lalu.
Btw, saya agak kurang sreg kalau perburuan babi hutan dijadikan objek wisata. Kalau seekor hewan harus mati karena dia dianggap hama tani, mungkin masih bisa diterima. Tapi kalau harus mati demi kesenangan manusia, kok rasanya kasian amat ini makhluk :’(
Eh Mas Gie, saya akhirnya kembali ngeblog lagi nih, gara-gara kepancing iming-iming lomba. Hahahaha, payah ya motivasinya
Iya, di salah satu museum di Padang ada kok foto perburuan babi hutan yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda..
Wah di Siberut pasti keren pengalamannya ya, Mbak. Diintip sama babi hutan itu lho..
Kalau di tempat saya, babi hutan sudah lama punah! Soalnya habis diburu buat dimakan.
jka ada di Banjarmasin mungkin sya bsa ikutan
Kebetulan dikampung saya gak ada babi, jadi kalo pemburuan babi kaya gitu cuman bisa liat di acara tv
di purworejo jateng ndak ada mas gie. tapi berbicara tentang salah satu tradisi di atas, disebutkan di daerah sumatera barat ya, jadi mengingatkan tentang novel negri 5 menara. salah satunya menceritakan tradisi serupa disana
Iya, Uda Ahmad Fuadi memang berasal dari Maninjau, Sumatera Barat.
Tapi di daerah Purwokerto dan sekitarnya masih ada lho, meski sudah sangat jarang..
Seru banget ya? Ada unsur petualangannya.
iya mas Gie tepatnya di Kalimantan Selatan. Didaerah saya Desa Karang
Dulu di kampungku di kabupaten Aceh Selatan juga sering melihat rombongan pemburu babi dengan menggiring anjing-anjing mereka ke ladang di lereng-lereng gunung. Tapi sayangnya aku tidak melihat secara langsung perburuan mereka.
berburu itu mengasikkan……, mendaki bukit menurun bukit hanya untuk mencari babi…… yang merusak tanaman masyarakat .,,,,,,
mas gie ada family nya di lintau?
Saya juga sering ke lintau mas.
Ini adalah tradisi di daerah kami yaitu lintau buo sampai tanjung ampalu….setiap hari minggu dan hari rabu selalu di adakan berburu Babi….dalam seminggu dua kali….
Wahh…berburu babi memang asyik bangat,,soalnya aq pencinta buru bangat.aq memiliki 4 ekor anjing yang sudah lumayan jago berburu babi. Aq 2x dalam seminggu berburu kebetulan aq tingal dilintau juga, tepatnya jln.simpang melayu pangian lintau buo..sebelumnya aq berburu dijakarta ikut anggota PORBI JAYA tapi berburunya jauh dari pusat kota memakan waktu yang lama hinga sampai dilokasi buru, biasanya saya berangkat subuh kalau buru dijakarta..
Mantappp…..saya pencinta buru sejati.sekarang saya masih aktif berburu di lintau saya memiliki 4ekor anjing yang sudah lumayan buat berburu babi dari dulu saya sudah hobby berburu, dulu saya berburu di jakarta ikut dalam perhimpunan PORBI JAYA