Sekarang tower BTS operator seluler ada dimana-mana. Saya ingat ketika saya masih berada di salah satu sudut Provinsi Sumatera Barat. Tahun 2003, salah satu operator sudah memasang tower BTS di Lintau Buo, Batusangkar. Namun ketika itu sinyal masih belum rata karena topografi Lintau Buo yang berbukit-bukit. Kalau ingin menelepon biasanya orang harus keluar rumah dan berdiri di tepi jalan. Ketika kembali ke Lintau Buo beberapa waktu yang lalu, saya melihat tower sudah ada hampir di setiap nagari (desa).
Bicara tentang tower, ada yang unik dengan salah satu tower BTS operator seluler di Kabupaten Pamekasan. Sebuah menara masjid di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, digunakan sebagai tempat BTS provider salah satu operator seluler. Pemasangan tower operator seluler di menara Masjid Asy-Syuhada itu memicu kontroversi. Sepertinya kejadian ini baru pertama kali terjadi di Indonesia. Dan sepertinya tidak ada peraturan yang membahas pemasangan tower BTS operator seluler di menara masjid atau tempat ibadah lainnya.
Banyak pihak yang menilai hal tersebut tidak pantas. Bahkan LSM Kontralisan Centre menilai penyewaan menara masjid itu hukumnya haram. LSM Kontralisan Centre menilai masjid adalah fasilitas umat sehingga tidak pantas digunakan untuk keperluan bisnis kelompok tertentu. Meskipun tanpa merinci ulama-ulamanya, LSM ini mengungkapkan bahwa ulama-ulama se-Madura menilai penggunaan menara masjid sebagai tower operator seluler itu hukumnya haram.
Abdul mukti, ketua takmir Masjid Asy-Syuhada, menegaskan bahwa tower tersebut tidak disewakan, namun hanya kerja sama dalam bentuk kompensasi dan hasilnya untuk keperluan operasional masjid. Pihak takmir masjid agung tersebut berjanji akan mengevaluasi pemasangan tower tersebut. Setelah melakukan dialog dengan salah satu rekannya di MUI Pusat, Abdul Mukti menilai menara masjid bukan bagian dari masjid sehingga bisa digunakan untuk kepentingan umum.
Saya sendiri bingung karena MUI Pusat pun belum mengeluarkan fatwa apapun terkait pemasangan tower operator seluler di menara masjid ini. Apa mungkin karena pihak takmir masjid sudah kesulitan mendapatkan dana operasional masjid? Abdul Mukti membeberkan biaya operasional masjid per bulan adalah Rp. 22 juta, padahal dana yang masuk hanya Rp. 15 juta per bulan. Saya takut simbiosis semacam ini kalau dibiarkan bisa menyebarkan tren baru, tower operator seluler di menara masjid.



Dari umat untuk umat
Dari rakyat untuk rakyat, tapi rakyatnya masih miskin lho..
Harus diluruskan dulu pernyataan Abdul Mukti itu, apa betul menara masjid itu bukan bagian dari masjid?
Mari kita tunggu klarifikasi beliau..
Ada salah satu hadits yang intinya mengisyaratkan bahwa berdagang/berbisnis di dalam masjid adalah haram, bahkan kita yang melihat orang bertransaksi jual beli di dalam mesjid malah diperintahkan untuk mendoakan supaya sang penjual menjadi bangkrut..
Kira-kira relevan gak ya…?
Intinya sama, tempat ibadah hanya untuk ibadah dan enggak boleh untuk bisnis..
masak itu baru pertama kali?
di dekat tempat tinggalku sini, ada satu tower e*ia di dalam lingkungan mesjid. aku tau di dalam, karena mesjidnya dipagari, terus tower itu di dalam. tau deh warga situ terima ato ga. mungkin klo di jkt udah pada cuek aja apa gimana ya?
Di daerah mana Mbak?
kenapa mo dilaporin ya?
datang aja ke sini, ntar aku anterin
tg.priok sini.
Wah dilaporin? Enggak usahlah..
Biar polisi kerja.. :p
Bisnis, makin lama memang (bisa) menghalalkan segala cara.
Halal bi halal jadinya nih..
*salaman*
minal aidzin walfaizin yaaa
Untukmu, halal bi halalnya masih sangat lama, Rus.. *keplak
hmmm bener juga ya.. ntar semua operator seluler pake tower mesjid lagi.. apakah sudah tidak ada lahan lagi di indonesia.. hingga menggunakan tower mesjid”?
Lahan dan biaya pembangunan tower memang mahal katanya,,
saya tak tau kalau sudah urusan dalil²an, biar para ahli saja soal itu. yg jelas kedua pihak sama² kreatif
pembangunan tower BTS yg memang tidak murah klop ketemu dengan biaya operasional masjid yg tinggi, tp paling tidak secara pribadi bagi saya lebih bagus dari pada minta² di jalan.
setuju ini…
Setuju kreatifnya tapi menggunakan menara masjid menurut saya kurang arif..
Dan bila dikatakan “daripada minta-minta di jalan” rasanya kok enggak relevan..
Kalau ngomentari yang gini2 saya nggak berani.
Bukan karena nggak bisa tapi musti tau dulu yang sebenarnya.
Musti dihitung dulu manfaat dan mudaratnya.
Yang aneh lagi itu ada musholla di rumah makan swieke…
Gimana itu…
Iya, Pakdhe..
Selain manfaat dan mudaratnya, kita juga sebaiknya melihat kepantasannya..
wuihhh di taruh menara masjid… ckcckck cuma gara-gara uang ko bisa naruh di masjid ya.. apa gak ada tempat lain -_-
Deket dari kampung Mas Sibair kan ya?
wadhuh…
mesjid pun sekarang nyambi
nyambi jadi pemancar ponsel
hehehe…
sedj
Saya juga pengen nyambi nih, bisa enggak ya tower itu digendong..
Jasa gendong tower gitu..
Lhadalah, kok bisa ya?
Tapi saya kurang paham kalo soal beginian. Yang terbaik sajalah…
Iya, kita serahkan sama ahlinya aja deh..
salam kenal bro…
meskipun masih kontroversi…sebenarnya itu merupakan tamparan halus nagi umat juga. Biaya operasional masjid itu tidak sedikit. Apabila umat tidak dapat menutupinya, pengurus masjid mesti kreatif. Berhubung saya bukan ahlinya tapi kita buat list saja manfaat dan mudharat…banyak mana?…kalau banyak manfaatnya…yo wis silahkan diteruskam tp kalau banyakan mudharatnya langsung aja stop. gitu aja koq repot *kata alm Gus Dur*
Mbah Gus Dur harus dimintai pendapatnya enggak ya?
hehehe bagus juga tuh g papa kali y kalau sewanya gede mah
btw operasional masjid koq gede banget yaa
Jadi mendukung nih, Kang?
Deal berapa kita? hihihiiii
Bts seluler di menara masjid di Yogya pun juga ada. Kalau menurut saya sendiri tidak masalah. Peraturan pemerintah sekarang juga membatasi menara seluler yg sudah berlebihan. Jadi pemasangan bts di menara masjid atau menara lain yg sudah ada akan lebih ramah lingkungan dan tidak mengganggu tata ruang
salam
sekali lagi masjid mas, masjid
masjid loh
Rusa peduli Masjid..
saya justru tak punya masalah bila menara masjid dipakai untuk tower operator selular
Hidup memang sebaiknya tanpa masalah, Mas..
Menurut satu pemahaman bahwa jika ada perkara yang diperselisihkan maka jangan dibuat dulu sebelum jelas hukumnya.Menurut yg lain jika untuk kemaslahatan maka boleh2 saja.Menurut yg lain lagi secara taklif maka karena pembicaraan telpon ada unsur maksiat maka haramlah.Menurut yg lain lagi kalau menara BTS itu diluar tempat solat maka sah saja.Di Medan di salah sati mesjid kaum salaf maka dihalamanya banyak orang berjualan kitab2, minyak wangi dll. Kerna Makkah ada daerah haram maka toko jualan dsbnya ada dalam daerah haram itu. Sayangnya sampai saat ini kita tidak ada mengetahui apakah MUI sudah membuat fatwa tenta soal ini.Kesimpulannya sebaiknya menara BTS itu dihalaman mesjid ditunda dulu sebelum ada fatwa Ulama MUI,