Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Tanjung Puting memang terkenal menjadi ‘rumah’ bagi orangutan. Begitu dapat kesempatan untuk melihat orangutan di habitat aslinya, saya tidak melewatkannya. Hari Sabtu pagi, 2 November 2013, saya terbang ke Pangkalan Bun bersama empat teman, Titi, Lio, Windra, dan Heston. Kecuali Titi, ketiga teman yang lain baru saya kenal di bandara. Kata Titi, ‘traveling with strangers‘ itu seru. Dari Jakarta hanya ada dua maskapai penerbangan yang menuju Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, yaitu Trigana Air dan Kal Star Aviation. Penerbangan kami ke Pangkalan Bun dengan Trigana Air cukup menyenangkan.

Pesawat mendarat di Bandara Iskandar tepat pukul 10.55 WIB, tidak ada perbedaan zona waktu antara Jakarta dan Pangkalan Bun. Begitu turun dari pesawat, saya baru ngeh ternyata cukup banyak orang asing dalam penerbangan ini. Taman Nasional Tanjung Puting memang lebih terkenal di luar negeri daripada di negeri sendiri. Media internasional seperti National Geographic menyebutkan Taman Nasional Tanjung Puting sebagai satu-satunya pilihan untuk melihat orangutan di habitat aslinya. Dan Bandara Iskandar menjadi pintu gerbang pertama bagi wisatawan atau ahli primata yang ingin mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting.

Selain dari Jakarta, Bandara Iskandar dapat dicapai dari beberapa kota lain seperti Semarang, Surabaya, Pontianak, Ketapang, Sampit, dan Banjarmasin. Saat hendak mengambil bagasi, kami disambut oleh Bang Ennog, guide kami selama di Taman Nasional Tanjung Puting. Sambil menunggu bagasi, kami berkenalan dan ngobrol sedikit tentang perjalanan kami nanti. Dari bandara, perjalanan kami dilanjutkan menuju Pelabuhan Kumai dengan menggunakan taksi bandara. Perjalanan dari Bandara Iskandar sampai Pelabuhan Kumai tidak jauh, hanya sekitar 10 kilometer. Cuma 25 menit duduk manis di taksi sudah bisa melihat besarnya Sungai Kumai.

Hulu Sungai Kumai terletak di Desa Pangkalan Banteng dan bermuara di Teluk Kumai, langsung menghadap ke Laut Jawa. Sambil melihat panorama Sungai Kumai, dua kru kapal kelotok membantu kami mengangkat tas backpack kami. Oh ya, selain dengan pesawat, Taman Nasional Tanjung Puting sebenarnya bisa juga dicapai dengan kapal laut dari Tanjung Priok, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak bisa sampai ke Pelabuhan Kumai ini, tapi kayaknya masih jarang sih pengunjung Taman Nasional Tanjung Puting yang menggunakan moda transportasi ini. Kebanyakan kapal yang bersandar adalah kapal petikemas atau kapal CPO.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Setelah kami naik, kapal klotok mulai bergerak mengantarkan kami menyusuri Taman Nasional Tanjung Puting selama empat hari ke depan. Tepat sebelum berangkat, kami berlima mejeng dulu di geladak depan klotok yang diabadikan oleh bidikan kamera Bang Ennog. Sambil duduk santai, kami lalu menerima brief singkat dari Bang Ennog tentang rute yang akan kami tempuh, tata tertib, dan faktor keamanan yang harus kami perhatikan. Selain Bang Ennog, di kapal klotok ini kami juga ditemani Bang Khadir (nahkoda), Ibu Inun (koki), dan Bang Andi (kru kapal). Kata Bang Ennog, semua kru kapal ini siap membantu jika diperlukan.

Kapal klotok kami terdiri dari dua bagian; atas dan bawah. Bagian atas terdiri dari geladak depan yang dilengkapi dengan dua kursi panjang untuk selonjoran, ruang tengah yang dibagi menjadi tiga bagian (tempat kursi santai, tempat tas, dan meja makan), dan bagian buritan. Bagian atas kapal klotok ini menjadi ‘kekuasaan’ kami, sedangkan bagian bawah kapal menjadi ‘kekuasaan’ kru kapal, hehehee. Di bagian bawah kapal klotok ini terdapat haluan kapal, ruang kemudi, lambung kapal yang dijadikan tempat istirahat kru kapal, dapur sekaligus tempat tidur Ibu Inun, tempat cuci piring, dan toilet yang terletak tepat di bawah buritan.

Di area Pelabuhan Kumai, saya melihat ada banyak kapal yang bersandar seperti kapal pasir, kapal petikemas, kapal nelayan, dan kapal Bugis. Menurut Bang Ennog, orang Bugis memberikan nama “Kumai” yang artinya “kembali ke pangkuanku”. Selain orang Bugis, etnis lain yang tinggal di Kumai antara lain orang Dayak, orang Jawa, dan orang Madura. Di tepian Sungai Kumai, ada banyak perkampungan nelayan tradisional. Kami juga melihat banyak bangunan tinggi di tepian sungai yang dijadikan rumah burung walet. Tidak sampai 5 kilometer dari pelabuhan, kami sampai di pertemuan Sungai Kumai dan Sungai Sekonyer.

Jika lurus terus akan sampai ke Laut Jawa, tapi tujuan kami ke Taman Nasional Tanjung Puting maka kami belok kiri dan menyusuri Sungai Sekonyer. Memasuki muara Sungai Sekonyer, menu makan siang kami sudah siap dan kami langsung berkumpul di meja makan. Itulah pengalaman pertama kali saya makan di kapal klotok, makan sambil melihat pemandangan di kanan-kiri sungai. Lucunya, air minum kemasan saya bergetar seperti mendidih, sepertinya karena getaran dari mesin motor tempel yang menggerakkan kapal klotok kami. Makan siang kami semakin lengkap dengan cemilan Amplang, kerupuk ikan khas Kalimantan.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Kata Bang Ennog, awalnya Sungai Sekonyer ini bernama Sungai Buaya. Konon orang Dayak dulu menjadikan buaya sebagai hewan peliharaan dan banyak buaya yang lepas ke sungai ini. Sampai sekarang masih banyak buaya di sungai ini lho. Sejarahnya, pada masa penjajahan Belanda ada kapal perompak berlabuh di muara sungai ini, namanya Kapal Sikuner. Kapal Sikuner itu akhirnya tenggelam tepat di muara sungai setelah ditembak dengan meriam oleh pejuangan bernama Bujang. Sejak saat itu, penduduk setempat merubah sebutan Sungai Buaya menjadi Sungai Sekonyer dari nama Kapal Sikuner yang dialihbahasakan.

Setelah memasuki muara Sungai Sekonyer, di kanan-kiri sungai dipenuhi pohon nipah (Nypa fruticans Wurmb) yang sangat rimbun. Menurut Bang Ennog, pohon nipah di tepi Sungai Sekonyer ini menjadi tempat bermain sekaligus tempat mencari makan beberapa satwa primata seperti monyet, orangutan, dan lutung. Bang Ennog juga menunjukkan beberapa rumah primata itu di beberapa pohon yang tinggi. Rumah ini dibuat dengan mengumpulkan daun-daun hingga berbentuk seperti atap, fungsi utamanya adalah untuk melindungi diri saat hujan turun. Walah baru kepikiran, gimana ya mereka bertahan saat hujan turun di tengah itu. 🙁

Bang Ennog lalu ngasih tahu, kalau lagi beruntung kami bisa melihat satwa-satwa langka itu. Duh langsung senang banget dengernya, kami yang nongkrong di geladak depan langsung lihat ke kanan-kiri sungai di rerimbunan pohon. Titi yang pertama kali melihat sekumpulan monyet yang lompat-lompatan di pohon nipah. Akkk senengnya melihat monyet bermain di alam bebas seperti itu. Meskipun tidak banyak, kata Bang Ennog semakin masuk ke dalam area Taman Nasional Tanjung Puting makin banyak satwa yang bisa kami lihat di kanan-kiri sungai. *langsung pecut Bang Khadir yang mengemudikan kapalnya pelan-pelan* Hahaha.

Kata Bang Khadir, kecepatan kapal klotok ini sekitar 10-15 km/jam. Sengaja menggunakan kecepatan segitu agar kami bisa menikmati pemandangan. Kalau kami pengen melihat sekumpulan satwa bermain, Bang Khadir bersedia menghentikan laju kapal klotoknya. Kalau enggak sabaran, di Taman Nasional Tanjung Puting juga ada alkon (perahu mesin) dan speedboat. Alkon biasanya digunakan untuk yang hobi mancing, sedangkan speedboat digunakan untuk wisatawan one-day-trip karena lajunya lebih kencang. Dan memang benar, laju kapal kelotok sangat pas untuk menikmati pemandangan di sepanjang Sungai Sekonyer ini.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Setelah masuk sekitar 10 kilometer dari muara sungai, kami sudah resmi masuk ke area Taman Nasional Tanjung Puting setelah melewati dermaga kecil yang menjadi batas taman nasional ini. Dari situ, vegetasi tanaman di kanan-kiri sungai mulai berubah yang awalnya didominasi pohon nipah kini sudah berganti menjadi pohon rasau atau pandan duri, ada duri di daun pohon rasau ini. Kami bisa mencium aroma pandan dari atas kapal, ajaib! 🙂 Setelah itu kami mulai menemukan dermaga-dermaga kecil di sebelah kiri sungai yang menjadi pintu masuk ke Desa Tanjung Harapan, satu-satunya desa di Taman Nasional Tanjung Puting ini.

Dan akhirnya kami sampai juga di Camp 1 Taman Nasional Tanjung Puting setelah dua jam menyusuri Sungai Sekonyer. Tepatnya, kami sampai di Camp Tanjung Harapan pukul 13.55 WIB, jadi masih ada waktu sekitar satu jam karena pada pukul 15.00 WIB akan ada feeding orangutan. Inilah yang ditunggu-tunggu, melihat orangutan berkumpul untuk makan pisang yang diberikan para rangers. Biasanya para guide menyusun itinerary mereka menyesuaikan waktu feeding orangutan ini. Hebatnya, Bang Ennog pintar mengatur jadwal ini, jadi kapal kelotok kami yang pertama bersandar di dermaga Camp Tanjung Harapan.

Sambil menunggu waktu feeding orangutan, kami mengunjungi Visitor Information Centre yang di dalamnya terdapat beberapa informasi tentang sejarah berdirinya Taman Nasional Tanjung Puting. Kerajaan Kotawaringin dan Pemerintah Hindia Belanda menjadikan kawasan Tanjung Puting seluas 205.000 Hektar untuk melindungi satwa langka Orangutan (Pongo pygmaeus) dan Bekantan (Nasalis larvatus) sejak 18 Agustus 1938. Awalnya kawasan Tanjung Puting hanya dijadikan suaka margasatwa dan statusnya dirubah menjadi taman nasional sejak tahun 1984. Kini luas kawasan TN Tanjung Puting menjadi 415.040 Hektar.

Di Visitor Information Centre Camp Tanjung Harapan itu juga memiliki beberapa koleksi seperti bentuk telapak kaki Beruang Madu, Kucing Hutan, Babi Hutan, dan Orangutan yang pernah ditemukan di Taman Nasional Tanjung Puting. Selain pusat informasi itu, di Camp Tanjung Harapan ini juga ada demplot koleksi tanaman obat dan anggrek. Ada juga program penanaman pohon kenangan di Camp Tanjung Harapan ini, nanti di dekat pohon yang akan ditanam akan diberikan papan berisi nama penanam, tanggal, dan negara asal. Lio lalu nyeletuk, “Om-om, pohon aja punya kenangan. Masak om nggak..” *lalu pingsan*

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Di belakang pusat informasi juga ada beberapa bangunan yang dijadikan pondok kerja, camp staf, dan guest house. Katanya sih di dalam hutan belakang ada helipad juga tapi kami tidak sampai ke sana. Setelah muter-muter di sekitar dermaga, kini saatnya menuju tempat feeding orangutan. Bang Ennog berpesan untuk membawa raincoat, sepatu, handuk kecil, dan menggunakan lotion anti-nyamuk agar tidak kena malaria. Titi malah sudah minum tablet anti-malaria. Jarak tracking menuju feeding station orangutan idak sampai 1 kilometer, hanya sekitar 10 menit. Bang Ennog menjelaskan beberapa tanaman dan pohon yang kami temui.

Di perjalanan kami juga melewati sebuah area tidak berpohon yang dipenuhi dengan pasir putih, lalu saya ‘berhalusinasi’ itu adalah pasir di pantai. 🙂 Sama seperti ketika kami pertama kali bersandar di dermaga Camp Tanjung Harapan, kami juga tim pertama yang sampai di feeding station dan ternyata Roger, orangutan yang paling berkuasa di Camp Tanjung Harapan ini. Ketika kami datang, Roger langsung melihati kami tapi dengan posisi yang tetap tenang, sama sekali tidak merasa terganggu. Roger duduk di sebuah panggung kayu sementara kami hanya boleh berdiri dengan jarak sekitar 5 meter dari sisi depan panggung kayu itu.

Memang begitu safety rules di Taman Nasional Tanjung Puting ini, jarak 5 meter dianggap jarak aman untuk para pengunjung. Selain itu kami juga harus mematuhi peraturan tidak memotret dengan flash, apalagi ketika memotret bayi orangutan karena dapat merusak mata bayi orangutan tersebut. Kami juga dilarang memberikan makanan untuk orangutan secara langsung. Jika kita memang ingin memberi makanan untuk orangutan lebih baik kita memberikan donasi kepada pengelola agar mereka yang menyediakan makanannya. Itu lebih aman. Selain itu, kami juga dilarang makan atau minum ketika berada di depan orangutan.

Sebagai tamu, kami harus menghormati safety rules agar orangutan tetap lestari dan kami juga tetap aman tanpa gangguan dari orangutan. Ketika kami sampai, ranger di Camp Tanjung Harapan belum sampai di feeding station. Kami pun sempat foto-foto narsis beberapa kali di depan Roger, namun tetap tidak melewati tali pembatas yang telah dipasang. Tiba-tiba hujan turun, kami langsung menggunakan payung dan raincoat karena tidak ada tempat berteduh. Sementara Roger tetap tenang di panggung kayu itu. Tidak lama setelah hujan reda, ranger datang membawa satu tas penuh berisi pisang untuk Roger dan kawan-kawan.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Sebagai orangutan penguasa, Roger sangat ditakuti. Beberapa orangutan datang karena melihat ranger datang namun tidak langsung berani mengambil pisang di panggung kayu. Jadi beberapa orangutan terlihat menunggu Roger beranjak dari panggung kayu, namun Roger tampak menikmati makan sorenya. Akhirnya ada sepasang ibu-bayi orangutan yang berani turun mendekati panggung kayu, namun terlihat mereka masih takut. Begitu turun dari pohon, mereka tidak langsung mengambil pisang tapi melihat-lihat dulu. Ketika pandangan Roger terpaku pada pengunjung yang melihatnya barulah dia berani mengambil pisang.

Dengan cepat sang ibu orangutan ini memasukkan beberapa pisang ke mulutnya, menggenggam beberapa pisang lagi, dan langsung kembali memanjat pohon. Itu semua dilakukan begitu cepat agar Roger tidak marah, sementara sang bayi orangutan tetap bergelayutan di badan ibunya. Di atas pohon barulah sang bayi disuapi oleh ibunya. Setelah pisangnya habis, ibu-bayi orangutan itu kembali mencuri kesempatan untuk mengambil pisang di panggung kayu. Usahanya selalu berhasil dan Roger tidak marah. Sementara orangutan lainnya masih menunggu di atas pohon dan sayangnya Roger tidak juga beranjak dari panggung kayu itu.

Saking asiknya mengamati tingkah laku Roger dan kawan-kawan yang lagi makan sore, saya tidak menyadari ternyata feeding station itu sudah dipenuhi oleh puluhan pengunjung yang kebanyakan adalah turis asing. Dan saya tahu kalau sebagian besar dari mereka adalah yang satu pesawat dengan kami tadi siang, jumlahnya ada sekitar 50-an orang. Selain kami berlima, hanya ada dua pengunjung lokal dari Bogor, di luar itu bule semua. Antara bangga dan sedih, tapi gapapa yang penting orangutan tetap lestari. Tepat pukul 16.00 WIB, kami meninggalkan feeding station Camp 1 dan langsung naik klotok lagi menuju camp selanjutnya.

Tujuan kami selanjutnya adalah Camp 2 Pondok Tanggui dan disanalah kami akan melewati malam pertama kami di Taman Nasional Tanjung Puting. Begitu keluar dari dermaga Camp 1 Tanjung Harapan, kami bisa langsung melihat dermaga utama Desa Tanjung Harapan di sebelah kiri sungai. Dari atas klotok, saya bisa mengamati kondisi dermaga yang sedang dalam perbaikan. Saya juga bisa melihat rumah warga yang tidak jauh dari dermaga. Ingin rasanya bermalam di Desa Tanjung Harapan, tapi karena hari sudah sore kami harus segera ke Pondok Tanggui. “Besok kita juga akan singgah ke Desa Tanjung Harapan,” kata Bang Ennog.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Bang Ennog juga memberitahu kalau sebelum sampai di Camp 2 Pondok Tanggui, kita bisa melihat bekantan di dahan-dahan pohon tidak jauh dari sungai. Senangnya minta ampun, saya langsung nongkrong di geladak depan. Selama ini kan saya lihat Bekantan hanya di kebun binatang atau dari boneka Dufi, sang maskot taman hiburan Dunia Fantasi Ancol, punya Dedek Diana. Kami sudah melewati Pesalat, sebuah zona pemanfaatan khusus untuk reboisasi lahan yang dilaksanakan oleh Friends of The National Park Foundation (FNPF). Sebagai mitra Balai TNTP, organisasi ini telah mereboisasi lahan seluas 200 hektar sejak tahun 2003.

Pesalat juga dijadikan pusat pendidikan konservasi dan lingkungan hidup. Di Pesalat, wisatawan sebenarnya juga bisa menanam pohon endemik di area hutan bekas terbakar. Untuk para peneliti dan wisatawan yang ingin bermalam, Pesalat juga memiliki fasilitas camping ground. Pesalat juga punya daya tarik tersendiri yaitu jamur yang bisa mengeluarkan cahaya di malam hari. Sayangnya, Pesalat tidak masuk dalam itinerary kami. Jadi ya cuma lewat saja. Mana yang ditunggu belum datang. Lihat ke atas pohon di kanan-kiri sungai, jika ada gerakan di dahan langsung dikira Bekantan. Tidak langsung melihat Bekantan sih, tapi tiga monyet ini menjadi awalnya.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Setelah sekitar 40 menit perjalanan air dari Tanjung Harapan, akhirnya kami menemukan sekumpulan besar Bekantan yang bermain di dahan pohon. Kami meminta Bang Khadir menghentikan kapal klotok sebentar agar kami bisa melihat Bekantan-bekantan nan lucu itu. Posisi sekumpulan Bekantan itu berada di sebelah kanan sungai, kami hanya berjarak sekitar 5 meter dari dahan pohon terdekat. Ada banyak sekali Bekantan-nya, mungkin 50-an ekor. Ada juga beberapa monyet yang ikut bermain di pohon yang sama. Serunya lagi, Bekantan-bekantan itu tidak takut ketika kami berhenti. Mereka asyik bermain atau memakan dedaunan.

Bahkan di dahan yang paling dekat dengan geladak depan klotok kami ada anak Bekantan yang asik bermain dan sesekali memakan dedaunan muda. Tingkahnya sungguh menggemaskan. Ada juga anak Bekantan yang mencari ibunya lalu minta susu. Menyenangkan sekali bisa melihat aktivitas Bekantan-bekantan ini. Rasanya ingin berlama-lama di situ, tapi kami harus jalan lagi. “Di sana nanti ada Bekantan lebih banyak lagi,” kata Bang Ennog. Dan benar tidak sampai seratus meter, kami menemukan lagi beberapa kumpulan Bekantan di dahan pohon. Kami bisa melihat Bekantan-bekantan itu dari jauh karena dahan pohonnya cukup tinggi dan jumlahnya banyak sekali.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Bekantan-bekantan ini duduk santai di ujung dahan pohon. Tampaknya Bekantan-bekantan ini menikmati waktu menjelang matahari terbenam karena waktu itu sudah pukul 17.00 WIB. Di setiap dahan pohon ada sekitar belasan Bekantan. Ketika kami datang, Bekantan-bekantan ini langsung memperhatikan kami tapi tidak takut lalu pergi. Bekantan-bekantan ini hanya melihat-lihat saja dan masih duduk santai di tempatnya masing-masing. Kalau dari mata telanjang sih tidak terlihat jelas, tapi dari bidikan kamera dan lensa tele saya ada pemandangan beberapa ibu Bekantan yang sedang mengelus-elus bayinya yang kulitnya masih kehitam-hitaman.

Yang paling seru justru ketika kapal kami berada tepat di bawah dahan pohon tempat Bekantan-bekantan itu duduk. Dari situ terlihat sekali posisi duduk Bekantan karena tidak terhalang oleh rimbunnya dedaunan. Pemandangan ekor-ekor Bekantan yang menjuntai dan sesekali digoyang-goyangkan itu tidak akan terlupakan. Begitulah perjalanan kami menuju Camp 2 Pondok Tanggui. Di kanan-kiri Sungai Sekonyer banyak ditemui Bekantan yang duduk santai menyambut matahari terbenam. Ada yang dalam rombongan besar, ada yang dalam rombongan kecil, dan ada yang cuma sendirian. Mungkin ini Bekantan jomblo. Hehehe.

Selain itu, kami juga bertemu dengan beberapa rombongan kapal klotok lain yang dalam perjalanan pulang. Dari arah yang berlawanan dnegan kami dan waktu itu sudah hampir Maghrib, ada dua kemungkinan yaitu mereka menginap di Tanjung Harapan atau langsung pulang ke Pangkalan Bun. Dari beberapa kali berpas-pasan dengan kapal klotok lain, kami menemukan kebiasaan baru. Secara spontan kami melambaikan tangan sambil mengucap “Hai hai..” jika berpas-pasan dengan kapal klotok lain. Hal ini sama-sama kami lakukan kepada wisatawan lokal dan wisatawan luar negeri. Meskipun saling tidak kenal, suasananya jadi akrab sekali.

Akhirnya kami sampai juga di dermaga Camp 2 Pondok Tanggui. Lagi-lagi, kamilah yang pertama merapat ke dermaga. Waktu itu sudah pukul 17.30 WIB, jadi matahari sudah hampir tenggelam. Karena di dermaga Pondok Tanggui ini tidak ada penerangan sama sekali, suasana mulai gelap. Kami mulai turun ke dermaga untuk sekadar duduk santai, tentunya dengan membawa senter masing-masing. Dari dermaga itu, kami bisa melihat beberapa Bekantan dan mendengar suara-suara burung dan satwa-satwa lain dari dalam hutan. Di dermaga sederhana itulah, kami akan menghabiskan malam pertama kami di Taman Nasional Tanjung Puting.

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan

Tanjung Puting Menjadi Rumah bagi Orangutan dan Bekantan
6856 Total Views 1 Views Today
36 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *