Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Suka Duka Photoblogger yang Bukan Official Photographer

Yang namanya hobi tentu ada suka-dukanya. Kalau sudah hobi biasanya sih lebih banyak sukanya dibanding dukanya. Kalau lebih banyak dukanya bisa dinamakan “hobi yang menyiksa”. Selain hobi ngeblog, saya juga punya hobi lain yaitu motret. Jadi sekarang, hampir semua foto di blog saya adalah hasil bidikan kamera saya. Meski saya tidak gemar memberi watermark pada foto-foto saya. Karena itu saya senang menyebut diri saya sebagai seorang photoblogger. Kemana-mana nenteng kamera dikira fotografer, bahkan ada yang ngira saya “Alay Ber-DSLR”.

Ketika motret di tempat umum, saya kerap kira seorang wartawan. Pengennya motret candid eh tiba-tiba yang mau dipotret malah nanya gini, “Nanti masuk koran apa, Mas?” Duh, kesempatan nih. Saya langsung sodorin kartu nama sambil bilang, “Saya seorang photoblogger, Mbak, mungkin foto Mbak akan muncul di blog saya.” Asik, kan? Awalnya enggak kenal, tiba-tiba ada kesempatan mempromosikan blog saya di dunia nyata. Seneng banget rasanya mempromosikan blog dengan blusukan, karena mempromosikan blog di dunia maya itu sudah terlalu mainstream.

Suka Duka Menjadi Photoblogger yang Bukan Official Photographer

Yang lebih menggembirakan lagi, kalau orang yang kita potret tiba-tiba mengunjungi blog saya dan meninggalkan komentar. Padahal enggak kenalan apalagi ngasih kartu nama, karena fotonya candid. Pembaca bernama Aremania ini berkomentar langsung di blog saya setelah melihat foto istri dan anaknya ada di blog saya. Tapi bingung juga darimana orang itu tahu saya posting foto istri dan anaknya di blog saya. Entah karena anaknya yang kebetulan membaca blog saya, biarlah itu menjadi rahasia, yang tentu membuat saya merasa senang ketika mengingatnya.

Tapi motret dengan kamera gedhe di tempat umum itu kadang enggak enak juga karena di beberapa tempat ada larangan untuk memotret, misalnya di stasiun dan di rumah sakit. Padahal kan niatnya mau self-portrait tapi karena aturannya memang begitu ya mau gimana lagi. Padahal dengan kamera ponsel, motret di tempat-tempat itu secara diam-diam juga bisa. Tapi sesekali curi kesempatan gapapa sih, tapi ya tetap harus melihat situasi dan kondisi. Misalnya, jangan asal narsis di atas rel dan tiba-tiba ada kereta api yang lewat. Bisa bahaya, kan?

Suka Duka Menjadi Photoblogger yang Bukan Official Photographer

Sama halnya ketika motret konser, ada aturan-aturan yang harus saya perhatikan. Tanpa flash, tidak boleh lebih dari satu lagu, dan tetap perhatikan orang di belakang siapa tahu terhalang oleh kamera. Karena bukan seorang official photographer, setiap kali motret konser ya harus berdesak-desakan di tengah penonton yang “buas”. Di konser apapun, suasana di depan panggung tetap dihebohkan oleh para fans sejati. Biasanya saya memilih di barisan depan namun tidak tepat di tengah, lebih enak dari samping. Salah satunya ya karena bisa menghindari “amukan” penonton.

Di saat-saat terdesak oleh penonton, saya membayangkan enaknya para official photographer yang punya area steril untuk memotret aksi panggung. Paling-paling berebut tempat dengan sesama fotografer dan tentunya tidak menghalangi penonton. Namun memotret di tengah-tengah penonton punya sensasi sendiri karena saya bisa ikut merasakan euforia para penonton sambil mengabadikan aksi panggung sang musisi. Apalagi setelah melihat hasil foto sendiri, rasanya tidak perlu minder dengan para official photographer. *dilempar rompi Offiicial Photographer*

Suka Duka Menjadi Photoblogger yang Bukan Official Photographer

Beberapa waktu lalu, saya dan istri memperoleh undangan meliput sebuah acara fashion show. Ketika masuk ruangan kami ditanya, “Media tulis atau foto?”. Dengan santai saya jawab kalau saya dari media foto dan istri saya dari media tulis, padahal dua-duanya blogger. Tempatnya dipisah, media foto tempatnya kecil berhadapan langsung dengan catwalk, sedangkan media tulis berada di samping, digabung dengan para undangan. Itulah pengalaman pertama saya bersama dengan para official photographer.

Rasanya seneng banget bisa motret official photographer, tapi ya minder juga karena saya enggak pakai rompi official photographer. Tapi untungnya ada beberapa wartawan foto yang pakai baju biasa. Enaknya, motret bersama official photographer itu posisinya sudah pas karena para model pasti akan melihat ke arah kumpulan official photographer. Tapi yang enggak enak, saya harus motret sambil jongkok karena beberapa official photographer dan videographer merasa terhalangi. Padahal cuma geser kepala beberapa centi doang. 🙁

34 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *