Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Hari Selasa lalu, 17 April 2018, saya dan beberapa teman blogger mengunjungi salah satu desa binaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (“Indocement”) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Indocement memiliki sebuah gudang semen di Bandung yang berbatasan langsung dengan dua desa yaitu Desa Cimerang dan Desa Cimarame.

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Uniknya, Indocement tidak hanya memiliki program CSR (corporate social responsibility) di dua desa tersebut, tetapi juga di Jati Endah yang terletak 30 km dari gudang semen tersebut. Program CSR Indocement tersebut terfokus di Kampung Jati Baru RT 17, Desa Jati Endah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Kesan pertama masuk kampung tersebut, saya lihat hampir setiap rumah punya hidroponik jadi terlihat asri.

Indocement memiliki strategi khusus untuk memberdayakan masyarakat di desa binaan dengan menciptakan Local Hero. Sesuai dengan 5 Pilar CSR Indocement, local hero ini diciptakan untuk mengembangkan masyarakat secara berkelanjutan agar masyarakat bisa mandiri dalam sejumlah aspek seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan. Hingga akhir tahun 2017, Indocement telah menciptakan 149 local hero yang tersebar di 39 desa binaan yang tersebar di Citeureup, Palimanan, Tarjun, Bandung, Lombok, dan Cigading.

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Kisah sukses Kampung Jati Baru diawali oleh sepasang suami-istri bernama Wawan Gusnawan dan Nining Nurhayati. Bapak Wawan dulu adalah seorang Ketua RW 17 yang memiliki motivasi untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang pengelolaan lingkungan. Warga kampung menganggap sepele sampah karena menganggap sampah akan terurai dengan sendirinya, apalagi ada petugas kebersihan dari kelurahan. Namun saat banjir datang, warga yang membuang sampah sembarangan malah menyalahkan pemerintah, padahal perilaku mereka itu yang menyebabkan banjir.

Penolakan warga tidak menyurutkan pasangan ini untuk mengubah wajah kampungnya. Beberapa warga mencibir ketua RW over-acting, tetapi Bapak Wawan pun berpikir keras bagaimana caranya agar bisa menyadarkan warga. Akhirnya Bapak Wawan “terpaksa menyalahgunakan wewenangnya” sebagai ketua RW. Setiap kali ada warga yang meminta surat pengantar, Bapak Wawan akan mewajibkan warga tersebut mengikuti program ramah lingkungan yang dijalankannya. Kalau tidak mau ikut program tersebut, Bapak Wawan tidak akan pernah memberikan tanda tangannya.

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Cara itu manjur dan warga pun mulai menyadari manfaat dari program ramah linkungan tersebut. Sampah yang selama ini menjadi momok akhirnya bisa bermanfaat setelah diolah. Kesehatan dan kenyamanan warga pun terjaga. Keberhasilan program ramah lingkungan membuat Kampung Jati Baru didaulat menjadi salah satu angkatan pertama program Kampung Ramah Lingkungan Indocement. Sejumlah program baru pun diterapkan di Kampung Jati Baru agar masyarakat bisa mandiri.

Saat Bapak Wawan mengelola Unit Pengelolaan Sampah (UPK), Ibu Nining juga menggerakkan warga Kampung Jati Baru untuk melakukan kegiatan urban farming. Itulah yang saya lihat pertama kali masuk kampung tersebut, hidroponik banyak menempel di pagar atau di dinding rumah warga. Ibu Nining mengajak warga untuk menggunakan lahan tak terpakai seperti pekarangan dan pinggir jalan. Tidak hanya menanam, warga juga dilatih melakukan pembibitan, pembuatan pupuk organik, perawatan, pemanenan, dan pengelolaan hasil panen.

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Dari sampah organik yang dikelola Unit Pengelolaan Sampah, warga mengolahnya menjadi pupuk kompos. Dengan program ini, Bapak Wawan dan Ibu Nining menggerakkan warga untuk mengatasi masalah sampah dan juga bisa menghasilkan tanaman pangan seperti sayur dan buah. Dengan begitu, Kampung Jati Baru menjadi bersih, sehat, dan asri. Bahkan saat ini Unit Pengelolaan Sampah sudah dikembangkan menjadi Sekolah Pengelolaan Sampah berkat dukungan penuh dari Indocement.

Saat berkunjung ke Kampung Jati Baru kemarin, kami mengikuti kelas di Sekolah Pengelolaan Sampah tersebut. Sekolah tersebut berada dalam satu bangunan dengan Unit Pengelolaan Sampah dan sudah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti kursi, layar monitor, dan alat peraga. Siapapun bisa belajar mengenai cara mengelola sampah organik/non-organik, daur ulang, sistem kompos, pengelolaan biodigester, kerajinan dari bahan limbah, urban farming, dan masih banyak lagi.

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Pada tahun 2010, Ibu Nining menggagas program Arisan Berhemat yang artinya Bersih, Hejo (hijau dalam bahasa Sunda), dan Bermanfaat. Dengan program tersebut, warga bisa menyelesaikan masalah sampah, menciptakan kampung asri dengan urban farming, dan bisa mendapatkan manfaat dari pengelolaan sampah serta bahan makanan dari lahan terbatas. Untuk menambah nilai ekonomis dari hasil pertanian, Ibu Nining mengajak warga untuk mengolahnya menjadi beragam camilan. Selain itu ada juga program produksi abon, keripik, kerupuk, dan kue dari hasil ternak ayam dan lele warga Kampung Jati Baru.

Setahun berjalan, Arisan Berjalan bertranformasi menjadi Kelompok Wanita Tani (KWT) Jati 17 yang awalnya memiliki 34 anggota. KWT Jati 17 kemudian dilebur dengan program Keluarga Berencana menjadi Unit Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Sajati 17. UPPKS Sajati 17 ini dibina oleh Dinas Unit Pelaksanaan Teknis Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa (UPT PPKB) Kecamatan Cilengkrang. Melalui UPPKS inilah, warga Kampung Jati Baru bisa memperoleh akses untuk bekerjasama dengan sejumlah dinas di tingkat kabupaten sampai tingkat provinsi.

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Kesuksesan Kampung Jati Baru mengelola lingkungan dan memberdayakan warganya mendapat apresiasi dari sejumlah pihak. Berbagai pihak berkunjung ke Kampung Jati Baru untuk melihat program pengelolaan lingkungan, tidak hanya dari Indonesia sejumlah pihak dari luar negeri pun sering berkunjung ke kampung ini. Pada tahun 2014, delegasi peserta Training Course on Innovative Holticulture and Agro Business yang diadakan Kemenlu dan Kementan mengunjungi Kampung Jati Baru. Delegasi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pun pernah ke kampung ini.

Setelah melihat manfaat program Indocement di Kampung Jati Baru, kami diajak ngobrol santai dengan Direktur Independent Indocement Kuky Purnama dan Manajer CSR Indocement Sahat Panggabean di Hotel De Paviljoen Bandung. Bapak Kuky Purnama menjelaskan bahwa CSR Indocement selalu mengaju pada Triple Bottom Line yaitu Profit, People, dan Planet. Pilar CSR tersebut tetap dipegang Indocement meskipun HeidelbergCement menjadi pemegang saham mayoritas sejak tahun 2001. Bahkan program CSR Indocement mendapat dukungan dari program The HeidelbergCement Sustainability Ambitions 2020.

Sepasang Local Hero Indocement di Kampung Jati Baru

Bapak Sahat menjelaskan program CSR Indocement memiliki banyak program yang disesuaikan dengan kebutuhan warga setempat. CSR Indocement juga tidak sebatas program filantropi tetapi juga memberdayakan warga di desa binaan agar bisa berkembang dan mandiri. Karena itulah local hero sangat dibutuhkan untuk memotivasi warga. Dengan program keberlanjutan tersebut, Indocement berharap bisa memperbanyak desa binaan. Indocement butuh lebih banyak local hero seperti seperti Bapak Wawan dan Ibu Nining.

4105 Total Views 12 Views Today
3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *