Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Seniman-seniman Tanpa Panggung di Jakarta

Terlepas dari segala hiruk pikuknya, saya mengagumi kota Jakarta karena banyak seniman yang tinggal di kota ini. Tidak hanya seniman-seniman di sanggar atau gedung kesenian, saya mengagumi seniman-seniman jalanan. Seniman jalanan bukan hanya pengamen, masih banyak seniman jalanan Jakarta yang terus berkarya dengan keahlian masing-masing.

Ondel-ondel di Kota Tua

Badut Kereta Komuter Jakarta Bogor

Di kereta komuter, pengamen mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa. Namun Anda bisa menjumpai badut yang beratraksi di atas kereta komuter jurusan Jakarta-Bogor. Awalnya pria di balik tokoh badut itu, Andri Hendri, berprofesi sebagai badut ulang tahun. Karena tidak selalu ada undangan pentas setiap harinya, Andri Hendri akhirnya memutuskan untuk menghibur para penumpang kereta komuter. Setiap hari, Sang Badut Kereta bisa mengumpulkan uang hingga Rp. 125.000,- dari β€œuang apresiasi” dari para penumpang kereta komuter.

Orkes Dangdut Dorong di Jakarta

Di Jakarta, pentas musik dangdut tidak hanya di acara televisi atau acara pernikahan. Hampir di seluruh wilayah Jakarta bisa ditemui orkes dangdut dorong (dangdor) yang pentas di jalanan Jakarta. Dengan gerobak berisi sound system, para musisi dangdut jalanan ini beraksi pada malam hari. Grup orkes dangdut dorong ini digawangi gitaris, penabuh gendang, pemain suling, dan vokalis seperti layaknya grup dangdut profesional. Untuk tarid, orkes dangdut ini memasang harga Rp. 40.000,- untuk satu jam pertunjukan. Orkes dangdut dorong ini bisa ditemukan di Jatinegara, Senen, Pasar Minggu, Cililitan, Kampung Rambutan, Pondok Labu, Lebak Bulus, dan Cilandak.

Lengger Banyumasan di Jakarta

Kesenian Lengger berasal dari daerah Banyumasan namun Anda bisa menyaksikannya di seputaran Jalan Thamrin Jakarta Pusat. Tini dan Astuti awalnya berprofesi sebagai penari Lengger Banyumasan di Kebumen, Jawa Tengah. Karena undangan menari di kampungnya sudah sepi, akhirnya pasangan penari ibu dan anak ini memutuskan untuk mengadu nasib ke ibukota. Dalam sehari, Tini dan Astuti bisa mendapatkan hasil sekitar Rp. 100.000,- sampai Rp. 150.000,- dari tarian Lengger Banyumasan mereka di jalanan Jakarta.

Kuda Lumping di Kota Tua Jakarta

Meski tak memiliki panggung, seniman-seniman jalanan terus berkarya karena keinginan untuk menghibur warga ibukota dan juga karena tuntutan hidup.

11133 Total Views 4 Views Today
33 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *