Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Seni (Itu) Uang

Sulitnya menciptakan sebuah karya seni sama sulitnya dengan mengartikan kesuksesan sebuah karya seni. Baik pencipta maupun penikmat karya seni akan kesulitan untuk mendefinisikan kesuksesan sebuah karya seni. Misalnya, bagi semua penikmat musik sebuah lagu sangat sukses di pasaran namun bagi penciptanya lagu itu hanya lagu biasa. Ada juga seorang pelukis yang menilai lukisannya sangat sukses berhasil menuangkan seluruh ekspresinya namun dianggap sangat tidak populer oleh para penikmat seni. Saking sulitnya definisi sukses sebuah karya seni itu, secara gampang sebuah karya seni dinilai sukses bila sudah menghasilkan banyak uang.

Film yang paling sukses adalah film yang paling banyak mengumpulkan uang, begitu gampangnya. Memang tak bisa dipungkiri, semua penggiat seni juga membutuhkan uang untuk hidup. Mungkin ada beberapa kasus, misalnya seorang seniman yang sudah kaya raya. Bagi seniman jenis ini hasil karyanya tidak akan terpengaruh oleh apresiasi apa yang akan didapatkannya. Baginya, karyanya sukses bila sudah bisa menampung semua yang ingin disampaikannya dalam karya seninya itu. Tapi berbeda dengan seniman yang hidup dari karya seni yang dihasilkannya. Misalnya seorang penulis bila bukunya tidak laku di pasaran maka penghasilannya pun surut.

Menurut saya, seorang seniman yang sebenarnya harus bebas dari pengaruh uang. Meskipun penghidupannya didapatkan dari buku yang dijualnya ke pasaran, seorang penulis seharusnya bisa menulis secara bebas dan lepas tanpa batasan-batasan tema atau tenggat waktu yang diberikan oleh penerbit. Secara ekstrim saya mencontohkan seorang pelukis yang sebenarnya. Ketika memainkan kuasnya, seorang pelukis tidak perlu memikirkan apakah lukisannya nanti akan dibeli seorang kolektor dengan harga yang sangat mahal atau malah hanya diberikan kepada seorang pengagum lukisannya tanpa imbalan sepeser uang pun.

Ketika berkarya, seorang seniman seharusnya memusatkan perhatian untuk menghasilkan sebuah karya seni terbaiknya. Namun pada jaman industrialisasi seperti ini, seni pun menjadi sebuah komoditi. Tak bisa dipungkiri, industrialisasi seni ini juga sedikit banyak mempengaruhi bagaimana cara kerja seorang seniman menghasilkan karya seninya. Tapi saya tetap percaya ada seniman yang idealis mempertahankan prinsipnya dalam berseni, meskipun tantangan industrialisasi cukup besar. Industri musik misalnya, dulu setiap lagu terasa sangat istimewa karena hanya beberapa saja yang dihasilkan. Tapi sekarang lagu-lagu sangat mudah dihasilkan, secara kuantitas industri musik sangat sukses saat ini.

Soal kualitas, kita masih perlu membahas lebih jauh. Tidak aneh lagi, sekarang ini seorang yang hanya menyanyikan lagu asing dengan menerjemahkan liriknya seolah seorang seniman musik. Saya lebih suka menyebutnya dengan seniman gadungan, mereka membajak lagu orang lain seolah lagu itu hasil karya asli mereka. Sekarang berbicara tentang hak cipta memang sungguh mengharukan, undang-undang masih belum menjangkau untuk melindungi sepenuhnya sebuah karya seni. Pembajakan hasil karya seni ada dimana-mana, sama halnya dengan pembajakan sebuah karya seni yang dilakukan oleh seniman lainnya. Industrialisasi seni memang membuat seni itu sendiri berantakan. Karena uang, seni murni dan seni gadungan hampir tidak bisa dibedakan. Hampir sama kaburnya antara politik dan uang. Ada uang ada politik dan di situlah seninya berpolitik.

Ilustrasi dari http://galeribogor.net/

5797 Total Views 2 Views Today
55 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *