Menjelang dimulainya kampanye putaran pertama Pilkada DKI 2012, PoliticaWave kembali menganalisa semua percakapan di sosial media. Data yang diambil tanggal 11-17 Juni 2012 ini menunjukkan tren yang sama seperti yang terjadi pada bulan April 2012, di mana Foke-Nara dan Jokowi-Ahok begitu mendominasi. Jokowi-Ahok unggul dengan nilai sentiment indeks sebesar 25, sementara Foke-Nara memperoleh nilai sentiment indeks sebesar -50. Namun jika dilihat dari nilai EMSS, Foke-Nara unggul dengan 35 poin sementara Jokowi-Ahok memperoleh 30 poin. Sementara empat cagub-cawagub lainnya masih kalah jauh dari Foke-Nara dan Jokowi-Ahok. Data-data seperti Trend of Awareness, Share of Citizen, Share of Awareness, dan lain-lain juga menunjukkan hal yang sama. Foke-Nara dan Jokowi-Ahok menjadi dua unggulan teratas.

Ketika hari pemungutan suara sudah dekat, sosial media makin ramai dengan persaingan antar pasangan cagub-cawagub. Sesuai keputusan KPUD, kegiatan kampanye di sosial media memang diperbolehkan meskipun sudah masuk masa tenang. Akun-akun resmi masing-masing pasangan cagub-cawagub memaksimalkan “kampanye” di sosial media pada detik-detik terakhir. Berdasarkan data PoliticaWave yang diambil pada periode 4-10 Juli, Jokowi-Ahok unggul di posisi teratas disusul Foke-Nara, Alex-Nono, Faisal-Biem, Hidayat-Didik, dan Hendardji-Riza. Alex-Nono tiba-tiba menyodok ke posisi ketiga dengan Share of Exposure sebesar 13,8 persen dan Share of Citizen sebesar 26,2 persen.
Sebagai blogger, saya memperhatikan beberapa blogger mengungkapkan pendapat atau pilihannya pada Pilkada DKI kali ini. Menurut pantauan saya, kebanyakan postingan blogger memberikan dukungan kepada Faisal-Biem. Blogger-blogger pendukung Faisal-Biem antara lain Pandji Pragiwaksono, Dian Paramita, Alanda Kariza, Pangeran Siahaan, Daniel Giovanni, Aditya Mulia, Lydia Calya, dan masih banyak lagi. Jika dilihat tanggal postingan-postingan tersebut, semua blogger tersebut memberikan dukungan menjelang hari pemilihan, bahkan ada yang baru posting pada tanggal 11 Juli 2012. Di lain pihak, Blontankpoer dan Motulz memberikan dukungan kepada Jokowi-Ahok. Blog memang menjadi media yang efektif untuk menjelaskan secara detail bagaimana seorang blogger memberikan dukungan kepada salah satu pasangan cagub-cawagub.

Setelah perhitungan Quick Count selesai, semua orang terhenyak ketika Jokowi-Ahok mengungguli Foke-Nara. Orang sepertinya harus mulai mempercayai sosial media karena data sosial media tampak lebih akurat dibandingkan data survei. Yang lebih mengejutkan lagi, pasangan independen Faisal-Biem berhasil mengungguli pasangan Alex-Nono yang konon sudah “mengeluarkan dana” yang sangat besar. Kemenangan Faisal-Biem mengungguli Alex-Nono menjadi bukti nyata bagaimana kekuatan sosial media. Pasangan independen ini berhasil menjelaskan program-programnya melalui berbagai kanal sosial media, yaitu antara lain Twitter, Facebook, Youtube, dan blog. Menjelang Pilkada Putaran Kedua, Jokowi-Ahok dan Foke-Nara langsung memulai perang di sosial media.
Setelah adanya sosial media, politik berubah drastis. Dengan segala keterbukaan informasi dan cepatnya penyebaran berita, sosial media menjanjikan pembelajaran politik yang cukup baik. Jika dulu uang bisa membeli suara, sosial media bisa membalikkannya menjadi bumerang bagi calon curang tersebut.
Catatan : Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari empat tulisan bersambung mengenai “Perang Sosial Media di Pilkada DKI Jakarta 2012“.





I think they are should learn from citizen on the net
.
Iya, Bli Cahya. Sosial media punya kekuatan yang tak bisa diduga-duga..
bener juga datanya….. hebat juga social media dan kemampuan mempengaruhinya ya… canggih…
Mari kita bergabung dengan gerakan sosial media yang lebih terkontrol daripada gerakan kampanye-kampanye yang mengatasnamakan agama..
report yg bagus, mas Gie.
saya ingin tahu apakah ada kandidat yang menggunakan program review berbayar ?
Ada, Mas. Bisa dibaca di tulisan terakhir dari rangkaian tulisan saya tentang Pilkada DKI ini..
bapak-bapak itu akhirnya sadar dan melek it juga kalau sekarang itu kalau mau maju pilkada atau pemilu ngga cuman butuh sogokan duit saja tetapi perlu social influence..
saya jadi penasaran sama social influence-nya masing2 kandidat besar itu..
tetapi serius, saya tetap dukung yang kotak-kotak deh,..
buat yang raja korup no way..
Iya, Obama memang menginspirasi politisi Indonesia. Salam tiga jari, Mbak.