Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Peti Mati Sumardy dan Kreativitas yang Berlebih

Pertama kali bertemu dengan Sumardy, Si Sumarketer, saya tertarik dengan penampilan serba putihnya. Baju, sepatu, jam, dan frame kacamatanya semua putih. Ketika itu saya mengikuti kelas Akademi Berbagi di kantor Detik.com. Sebagai pelopor Word of Mouth Marketing di Indonesia, ketika itu Sumardy mengajarkan tentang social media dan iklan-iklan yang nyeleneh. Salah satunya adalah iklan Nike dimana beberapa pelari kelas dunia yang memakai sepatu Nike tapi mereka berlari tanpa busana. Konon iklan Nike itu efektif meningkatkan penjualan produk Nike.

Penampilan serba putih itu konon adalah salah satu self-branding yang dilakukan Sumarketer agar orang gampang mengenalinya. Penampilan Sumarketer masih serba putih ketika kemarin membuat heboh dengan kiriman peti matinya. Kemarin pagi, ketika orang-orang baru kembali dari liburan long-weekend, Sumardy dan beberapa karyawan Buzz & Co mengirim peti mati ke beberapa kantor media dan periklanan. Rencananya, Sumardy akan mengirimkan seratus peti mati namun upayanya terhenti setelah digelandang ke Polsektro Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kantor Buzz & Co yang beralamat di lantai 3 Senayan Trade Center langsung disambangi polisi. Dari kantor yang baru beroperasi tiga hari itu, polisi kemudian menyita 31 peti mati yang belum sempat dikirim, laptop yang berisi alamat tujuan 100 peti mati, bukuRest In Peace Advertising : The Word of Mouth Advertising”, dan mobil ambulans palsu yang digunakan untuk mengirim peti mati. Awalnya berita pengiriman peti mati dianggap sebagai sebuah aksi teror, karena sebelumnya sedang marak aksi pengiriman paket bom. Setelah berita cukup menghebohkan, pria yang pernah mengenyam pendidikan di American Word of Mouth Marketing Association pada tahun 2010 ini ternyata sedang melakukan strategi pemasaran.

Kemarin sebenarnya buku Sumardy yang berjudul “Rest In Peace Advertising : The Word of Mouth Advertising” diterbitkan sekaligus rilis situs perusahaannya. Dan pengiriman peti mati menurut Sumardy adalah cara pemasaran yang jitu. Bagi Sumardy, cara pemasaran konvensional yang dilakukan perusahaan periklanan sekarang ini sangat membosankan dan mahal. Sumardy memberikan estimasi biaya untuk membuat peti mati dan ongkos kirimnya tidak sampai 50 juta rupiah. Bila dibandingkan dengan biaya memasang iklan di media cetak atau online yang bisa menghabiskan biaya miliaran rupiah, peti mati adalah iklan yang murah tapi efektif.

Saya yakin apa yang dilakukan pria Batak ini pasti sudah dipertimbangkan secara matang. Hal ini bisa dilihat dari pihak-pihak yang dikirimi peti mati. Presenter Farhan, penulis Raditya Dika, CEO Fastcomm Ipang Wahid, CEO Bubu Shinta Dhanuwardoyo, blogger Ndoro Kakung, konsultan senior Indopasific Edelmen Vida Parady, dan direktur SalingSilang.Com Enda Nasution adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh besar dalam social media. Bila mereka dikirimi peti mati, mereka pasti akan ngomong di social media dan gaungnya akan sampai dimana-mana. Pengaruh itulah yang coba dimanfaatkan oleh Sumardy yang pernah mengikuti Net Promoter Customer Loyalty Certification pada tahun 2009 ini.

Belum lagi kantor-kantor media yang dikirimi peti mati oleh Sumardy, seperti Kompas, Detik, Tempo, Okezone, The Jakarta Post, Metro TV, RCTI, dan ANTV. Tanpa perlu membayar iklan pun, Sumardy akan menjadi topic utama pemberitaan media-media tersebut. Tujuan awal Sumardy sepertinya berjalan lancar, namanya menjadi sangat terkenal dua hari ini. Bukunya yang diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama tentu menarik perhatian para praktisi iklan. Namun sayangnya, khalayak umum kurang terbiasa dengan cara marketing yang heboh ini. Kita lebih tertarik pada masalah peti mati, teror, dan perbuatan tidak menyenangkan dibandingkan untuk menganalisa bahwa cara pemasaran yang murah dan efektif.

Sumardy yang mendapatkan gelar master marketing dari Universitas Gajah Mada ini kemudian harus mengambil resiko karena beberapa pihak melaporkan Sumardy karena dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Hari ini, penyidik Polsektro Tanah Abang menetapkan Sumardy sebagai tersangka dan dikenakan Pasal 335 Ayat 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dengan ancaman hukuman 1 tahun. Karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun, Sumardy tidak ditahan dan hanya diwajibkan lapor setiap hari Senin dan Kamis. Dengan segala resikonya, mari kita lihat seberapa jauh Sumardy bersama perusahaan Buzz & Co yang didirikannya sebelas bulan lalu.

Kadang kreativitas yang berlebih memang perlu tempat dan waktu yang tepat..

Ilustrasi dari http://antyo.rentjoko.net

8831 Total Views 2 Views Today
54 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *