Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Peter Gontha, Bos Java Jazz Festival

Akhir-akhir ini, telinga saya akrab dengan nama Peter Frans Gontha. Saya mudah mengingat pria kelahiran Semarang pada 4 Mei 1948 ini karena ciri khas kepala plontosnya. Penampilannya yang sederhana, ramah, dan santai juga membuat Peter Gontha cukup mudah dikenal. Prinsip Peter Gontha adalah pikirkan apa yang bisa diberikan kepada negara tanpa menanyakan apa yang diberikan oleh negara. Klasik memang, tetapi dengan mengibarkan bendera Jakarta International Java Jazz Festival selama tujuh tahun ini, Peter Gontha telah mengantarkan Indonesia ke panggung dunia.

Sejak kecil putra dari pasangan Willem Gontha dan Alice ini memang akrab dengan musik, khususnya musik jazz. Ayahnya membentuk big band di perusahaan minyak Shell di Surabaya, grup jazz bernama BPM Shell itu adalah grup jazz pertama di Indonesia. Ketika itu musik jazz masih sangat langka dan dianggap sebagai musik kelas atas. Grup jazz BPM Shell tersebut digawangi oleh Willem Gontha, Bubi Chen, Jack Lesmana, dan Maryono. Semua nama itu terdengar sangat akrab karena mereka adalah musisi jazz senior Indonesia. Pada pertengahan 1980-an, Peter Gontha membentuk grup jazz Bhaskara. Dewi, putri Peter Gontha, juga menekuni musik jazz. Namun Peter Gontha tidak terlalu meniti karir sebagai musisi jazz, dia malah malang melintang di dunia bisnis.

Tahun 1970, ibunya memberikan tiket ke Belanda dan seorang Peter Gontha muda mulai berjuang di negeri orang. Peter Gontha mengaku dulu dia sangat keras kepala dan ketika harus bertahan di luar negeri dia harus terbuka. Akhirnya setelah melalui seleksi ketat, Peter Gontha mendapatkan pekerjaan di perusahaan Shell Belanda. Bekerja sebagai staf biasa, Peter Gontha hanya mendapatkan gaji sebesar 400 gulden per bulan, setara dengan Rp. 300.000,-. Peter Gontha lalu mendapatkan beasiswa belajar akunting di Praehap Institute Belanda dari perusahaannya.

Selama kuliah itu, pekerjaan apa pun diambil Peter Gontha untuk bisa bertahan hidup. Pekerjaan sebagai sopir taksi, pelayan restoran, kelasi, dan bahkan pembersih kerat kapal pun pernah dialaminya. Peter Gontha juga pernah menjadi awak kapal pesiar Holland-American Line yang melintasi trans-Atlantik. Lima tahun Peter Gontha berjuang hidup di Negeri Kincir Angin itu. Almarhum Alex Frans, ayah tiri promotor handal Adrie Subono, kemudian membawa pulang Peter Gontha ke Indonesia pada tahun 1975.

Peter Gontha ditawari bekerja di Citibank New York dengan bayaran Rp. 75.000,- per bulan. Meski dengan gaji yang jauh lebih rendah, Peter Gontha percaya Indonesia memberikan kesempatan berkarir yang lebih baik. Sebagai asisten wakil presiden Citibank New York, Peter Gontha membawahi bank-bank di Jakarta, Athena, Kuala Lumpur, dan New York. Empat tahun di Citibank New York, Peter Gontha kemudian bergabung dengan American Express Bank. Karena prestasinya di Citibank New York, Peter Gontha ditunjuk sebagai kepala Amex Bank di Asia yang bertugas mengawasi bank-bank di 14 negara Asia. Ketika itu, Peter Gontha berkantor di Hong Kong.

Tahun 1983, setelah empat tahun bergabung dengan Amex Bank Peter Gontha kemudian ditarik Bambang Trihatmojo untuk bergabung dengan Group Bimantara. Ketika menjadi eksekutif di Group Bimantara, Peter Gontha sangat dekat dengan keluarga mantan presiden Soeharto. Group Bimantara berani membayar Peter Gontha dengan gaji yang besar. Namun seiring runtuhnya kerajaan Soeharto, Peter Gontha harus mengakhiri karirnya di Group Bimantara pada tahun 1998.

Setelah beberapa waktu nama Peter Gontha sempat menghilang, Peter Gontha kemudian tampil sebagai seorang pengusaha sukses. Peter Gontha mempunyai beberapa perusahaan besar yaitu antara lain Plaza Indonesia Royalty, The Grand Hyatt Jakarta, Bali Intercontinental Resort, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Surya Citra Televisi (SCTV), Indovision, PT Chandra Asri Indonesia, PT Tri Polyta Indonesia, dan Firstmedia.

Berkat perusahaannya yang sangat banyak, Peter Gontha kemudian ditunjuk sebagai “Donald Trump” dalam reality show “The Apprentice Indonesia”. Peter Gontha dianggap sebagai pengusaha sukses yang mempunyai kredibilitas tinggi dan mempunyai gaya hidup yang sesuai dengan kesuksesannya. Peter Gontha kemudian mendapat julukan “Donald Trump Indonesia”, setelah pada pertengahan 1990-an mendapatkan julukan “Rupert Murdoch Indonesia” karena kesuksesannya di bisnis media.

Sebenarnya Peter Gontha telah memiliki segalanya, khususnya kekayaan materi. Namun di usia yang mendekati masa pensiun, Peter Gontha ingin menggabungkan dua sisi kehidupannya yaitu bisnis dan musik jazz. Pada tahun 2005, Peter Gontha berhasil mewujudkannya dengan menggelar Jakarta International Java Jazz Festival untuk pertama kalinya. Ajang Java Jazz Festival kemudian berhasil menjadi barometer jazz dunia. Peter Gontha lalu mendapatkan satu julukan lagi, “The Godfather of Jazz Indonesia”.

Tidak hanya sebagai proyek raksasa, Java Jazz Festival lebih sebagai ekspresi idealisme musik seorang Peter Gontha. Hari ini, Jakarta International Java Jazz Festival 2011 telah dimulai. Mulai dari artis lokal seperti Dira J. Sugandi sampai artis papan atas dunia seperti Santana berhasil didatangkan ke Indonesia pada gelaran Java Jazz Festival ke-tujuh ini. Great Job, Peter! The Godfather of Jazz!

21 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *