Perang Sosial Media Jokowi-Ahok vs Foke-Nara di Putaran Kedua

Sehari setelah hari pemilihan, Jokowi-Ahok semakin populer di sosial media dengan Share of Awareness sebesar 53,3 persen, sedangkan Share of Awareness Foke-Nara merosot tajam ke angka 21,3 persen. Bahkan, perbincangan di sosial media mengenai Hidayat-Didik, Faisal-Biem, Alex-Nono, dan Hendardji-Riza mulai beralih ke Jokowi-Ahok. Nilai net sentiment indeks Jokowi-Ahok sebesar plus 23,88 dan Foke-Nara sebesar minus 30,9 menunjukkan cercaan dan pujian yang terjadi di timeline. Net sentiment indeks Foke-Nara semakin turun karena terus menyerang Jokowi-Ahok dengan tuduhan politik uang dan isu SARA. Foke-Nara sepertinya tidak sadar telah melemparkan bumerang untuk dirinya sendiri karena sosial media sudah cukup dewasa untuk menyikapi semua hal.

Boneka Jokowi-Ahok

Namun perkembangan sosial media begitu dinamis, berita bagus dan berita buruk tersebar dengan cepat seolah tanpa kontrol. Kampanye hitam mulai dilakukan di sosial media melalui akun-akun pseudonim. Akhir-akhir ini akun pseudonim @TrioMacan2000 menarik perhatian karena secara tiba-tiba berbalik arah menyerang Jokowi-Ahok. Hal ini terasa aneh karena pada putaran pertama @TrioMacan2000 menyerang habis-habisan Foke-Nara, salah satunya dengan mengungkap Korupsi Ala Bang “Kumis” Foke. Selain @TrioMacan2000, kini semakin banyak akun resmi, pseudonim, anonim, dan bakkan akun bot yang bekerja untuk Foke-Nara. Usaha Foke-Nara sedikit membuahkan hasil, net sentiment indeks Foke-Nara mulai meningkat dari -24,6 persen (20 Juli 2012) menjadi hanya -8,81 (28 Juli 2012). Sementara Jokowi-Ahok mengalami penurunan drastis dari 26,6 menjadi hanya 3,93.

Jika tren di sosial media terus seperti ini, bukan tidak mungkin Foke-Nara akan menjadi lebih populer dibandingkan Jokowi-Ahok. Tapi jika diamati, tim khusus sosial media Foke-Nara sudah bekerja keras untuk mencapai hasil seperti sekarang ini. Di media online, tim khusus ini menciptakan berita-berita positif tentang Foke-Nara, misalnya Foke diberitakan mengecam bullying di Don Bosco. Pemberitaan ini terasa tidak seimbang, misalnya di situs megapolitan.kompas.com, Foke-Nara diberitakan 27 kali sedangkan Jokowi-Ahok hanya 8 kali. Di Twitter, tim ini mengelola akun-akun pseudonim yang akan mengungkapkan isu negatif tentang Jokowi-Ahok agar net sentiment indeksnya terus merosot.

Foke-Nara vs Jokowi-Ahok

Foke-Nara vs Jokowi-Ahok

Namun dinamika sosial media berjalan begitu cepat, data PoliticaWave menunjukkan kebangkitan nilai sentiment indeks pasangan Jokowi-Ahok. Pada tanggal 3 Agustus 2012, Jokowi-Ahok memperoleh net sentiment indeks sebesar 38.05 persen sementara Foke-Nara turun pamor dengan net sentiment indeks sebesar minus 38.05 persen. Hal ini sepertinya terjadi karena bumerang isu SARA yang dilempatkan tim Foke-Nara. Maksudnya ingin menyerang Jokowi-Ahok, namun masyarakat telah sadar politik dan kini menghakimi Foke-Nara dengan sentiment negatif. Kini tim Foke-Nara harus bekerja lebih keras lagi. Di putaran kedua ini, tim sukses Foke-Nara sepertinya masih melirik blogger sebagai salah satu buzzernya.

Kali ini saya ingin membuat pengakuan, di putaran pertama kemarin tim Foke-Nara menghubungi saya dan beberapa rekan blogger lainnya. Namun tim Foke-Nara sepertinya tidak melihat foto di halaman About Gie saya. :)

Catatan : Tulisan ini merupakan bagian terakhir/keempat dari empat tulisan bersambung mengenai “Perang Sosial Media di Pilkada DKI Jakarta 2012“.

, , , Jakarta Gie

32 thoughts on “Perang Sosial Media Jokowi-Ahok vs Foke-Nara di Putaran Kedua

  1. kadang isu yang di tampilkan sosmed gak terlalu berpengaruh juga mas…pamor jokowi masih tinggi.

    saya sebagai warga jakarta, tau lah kinerja si kumis kayak apa..gak ada perubahan dan gebrakan. Gebrakan paling keliatan adalah makin banyaknya mall yang berdiri, yah lumayan buat nyelipin duit ke kantong sendiri.

  2. data data survey belum tentu sesuai he he,
    semakin panas aja ni kursi gubernur jakarta,,,
    janji janji manis lagi di tebar oleh calon gubernur,,he he he

  3. Jokowi semakin populer aja semenjak ia mengendarai esemka. Kiprahnya sebagai walikota Solo cukup membuatnya diperhitungkan dalam pemilukada DKI Jakarta, apalagi warga solo juga mendukungnya meskipun tidak terlibat dalam pemungutan suara.

  4. Kayaknya ketetapan masyarakat pemilih nggak goyah oleh issue di sosial media, apalagi orang Jakarta terkenal cerdas…
    Saya yakin keramaian di sosial media juga cuma rame dowang tapi nggak begitu ngefek.
    Dan saya yakin Jokowi menang… :D

  5. Saya pribadi sebagai pengguna beberapa social media mengatakan gak begitu ngefek pengaruh social media tersebut dalam rangka perolehan pengumpulan suara ‘coz saya hanya melihat bukti sepak terjang para kandidat dalam melaksanakan tugasnya selama ini dan saya berharap Pak Jokowi bisa menang dalam pilkada nanti.

    Selamat menunaikan ibadah puasa Mas Gie, mohon maaf baru bisa singgah lagi disini.

    Salam.. .

  6. perang di sosmed sih masih lebih oke dibanding perang berbalut ceramah… kalau sampe kejadian, sungguh ter..la..lu.. *pake cengkok dangdut*

  7. Senjata makan tuan mas. yang terbaru masalah bang Rhoma yang notabene timsesnya Foke. Hmm, iya sih denger-denger banyak yang jadi buzzernya mereka. sekali tweet berapa ya itu? :D
    saya sendiri yang bukan orang Jakarta, kok semakin kasihan dengan Foke ya. Ambisi banget menguasai DKI. Apa takut masalah-masalahnya akan terungkap oleh KPK?

  8. mas, kenapa harus diakhiri seri posting ini ?
    paling tidak diteruskan sampai selesai pemilihan…
    analisanya bagus, berbasis data….

    saya tunggu bagian ke-5 :)

  9. Wakakak… kotak-kotak-ers

    Agak “zonk” kayaknya tuh tim Foke-Nara saat ngeliat About-nya Mas Gie :D
    yah, siapapun yang memimpin mudah2an bisa memimpin Jakarta dengan baik, warganya aman menjalankan ibadah, penerapan sistemnya, bersosialisasi, dukung wirausaha.. jangan gampang “kemakan” antek asing.

    best regards

  10. Bukan hanya strategi marketing saja yang harus dijalankan, tapi strategi komunikasi pun harus dilakukan agar dapat meraih kesuksesan dalam pilkada di ibukota ini. Segala bentuk komunikasi harus dibuat serapi mungkin agar tidak kepleset dalam berkomunikasi yang menyebabkan hilangnya kepercayaan publik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *