Perang Sosial Media Jauh Sebelum Kampanye Politik

Awal bulan April 2012, perang sosial media di Pilkada DKI 2012 sudah dimulai. Data PoliticaWaveperiode 5-11 April 2012, Jokowi-Ahok memiliki nilai “Candidate Equity” yang paling baik di antara pasangan cagub-cawagub lainnya. Garfik Candidate Equity didasarkan pada SIM score dan net sentiment. Jokowi-Ahok memiliki angka net sentiment sebesar 21.814, disusul berturut-turut Hidayat-Didik (11.519), Hendardji-Riza (4.583), Faisal-Biem (3.077), Alex-Nono (1.716), dan Foke-Nara (-945). Itu artinya, Jokowi-Ahok mendapat 21.814 poin, sementara Foke-Nara malah mendapat 945 poin negatif. Namun pada periode 18-24 April 2012, net sentiment berubah drastis. Foke-Nara menjadi peringkat pertama dengan 13.666 poin dan menggeser Jokowi-Ahok ke peringkat kedua yang memperoleh 10.089 poin. Kenaikan drastis yang diperoleh Foke-Nara menunjukkan kerja tim suksesnya yang sudah mulai turun ke sosial media. Selain itu, hasil survei yang mengunggulkan Foke-Nara sedikit banyak mempengaruhi net sentiment.

Jokowi Kampanye di Gang Sempit

Jokowi Kampanye di Gang Sempit, sempit namun luas cakupannya, seperti itu juga sosial media.

Perkembangan Candidate Equity juga hampir sama dengan perkembangan beberapa indikator lainnya, yaitu antara lain Voter’s Trend, Share of Voice, Unique User, Media Trend, Candidate Perception, Media Perception, Reply Trend, Retweet Trend, Link Trend, dan Like Trend. Seluruh indikator tersebut memiliki perkembangan yang sama dengan perkembangan Candidate Equity. Pada awal April 2012, semua indikator tersebut menunjukkan keunggulan Jokowi-Ahok. Namun pada akhir April 2012, semua indikator tersebut berbalik arah ke Foke-Nara. PoliticaWave juga menyediakan data Most Active User, Most Mention User, dan Most Retweet User. Anehnya, akun-akun yang paling aktif untuk masing-masing kandidat bukan akun resmi mereka, kecuali @HidayatDidik. Dari situ bisa disimpulkan, @HidayatDidik lebih aktif dibandingkan akun resmi kandidat-kandidat lainnya.

Memasuki bulan Mei 2012, percakapan di sosial media tentang Pilkada DKI 2012 semakin memanas, apalagi setelah semua pasangan cagub-cawagub lolos verifikasi faktual. Pada periode 19-25 Mei 2012, PoliticaWave mengukur Candidat Electability dengan membandingkan nilai EMSS dengan nilai sentiment indeks. Sentiment indeks merupakan ukuran margin perbandingan antara sentiment tiap kandidat dibandingkan dengan keseluruhan kandidat. Faisal-Biem “naik daun” pada periode ini setelah memperoleh nilai EMSS (33,78) dan sentiment indeks (64,47) terbesar di antara pasangan cagub-cawagub lainnya. Sementara Foke-Nara menempati tempat terbawah dengan nilai sentiment indeks sebesar -53,97, disusul Jokowi-Ahok di posisi terbawah kedua dengan nilai sentiment indeks sebesar -5,22. Naiknya posisi Faisal-Biem sepertinya disebabkan sosialisasi program-program di sosial media.

Data Lengkap PoliticaWave tentang Social Media Monitoring Periode 19-25 Mei 2012

Naiknya pamor Faisal-Biem di media sosial jelas terlihat pada grafik Share of Awareness yang menunjukkan hasil sebagai berikut ; Faisal-Biem (35 persen), Foke-Nara (25 persen), Jokowi-Ahok (20 persen), Hidayat-Didik (14 persen), Alex-Nono (5 persen), dan Hendardji-Riza (2 persen). Jika dilihat dari sosial media yang digunakan, ternyata ada pasangan cagub-cawagub yang hanya unggul di satu sosial media. Hidayat-Didik unggul dengan 128 status Facebook, Jokowi-Ahok unggul dengan 50 postingan blog, dan Alex-Nono unggul dengan 37 postingan forum. Satu pasangan mungkin unggul di satu sosial media, namun tidak di sosial media lainnya. Masing-masing pasangan cagub-cawagub sudah mengetahui efektivitas kampanye di sosial media. Namun masih ada pasangan yang tidak memaksimalkan sosial media, misalnya Hendardji-Riza. Tanya kenapa?

Catatan : Tulisan ini merupakan bagian kedua dari empat tulisan bersambung mengenai “Perang Sosial Media di Pilkada DKI Jakarta 2012“.

Jakarta Gie

11 thoughts on “Perang Sosial Media Jauh Sebelum Kampanye Politik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *