Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Pagi Terindah di Taman Nasional Tanjung Puting

Pagi itu adalah salah satu pagi terindah dalam hidup saya. Setelah tidur pulas dengan kapal klotok, pagi itu saya terbangun karena suara burung-burung di balik rimbunnya hutan. Selain suara burung yang bersautan, ada juga suara beberapa bekantan yang bermain di dahan-dahan di dekat dermaga tempat kapal klotok kami bersandar. Arus pelan Sungai Sekonyer membuat kapal klotok bergoyang seperti ayunan tidur bayi.

Awalnya malas untuk bangun, apalagi belum ada satu pun teman dan kru kapal yang bangun. Perlahan membuka kelambu dan melihat keluar, ternyata sudah cukup terang, meski matahari belum terlihat. Akhirnya saya menjadi orang yang pertama bangun, turun ke dermaga, dan duduk sendiri menikmati suara burung dan melihat bekantan bermain di dahan yang tidak terlalu tinggi. ย Hanya beberapa meter dari tempat saya duduk.

Taman Nasional Tanjung Puting

Pondok Tanggui, begitu nama dermaga itu, menjadi tempat favorit untuk bermalam bagi pengunjung Taman Nasional Tanjung Puting. (Baca juga : Tanjung Puting Menjadi Rumah Bagi Orangutan dan Bekantan). Salah satu alasannya adalah karena waktu feeding orangutan di Camp 2 Pondok Tanggui ini pukul 09.00 WIB. Kalau menginap di dermaga lain tentu susah untuk mencapai Camp 2 Pondok Tanggui sepagi itu. Karena pertama kali sampai di dermaga, kapal klotok kami mengambil posisi paling bagus.

Meskipun dermaga itu kecil dan tidak berlampu sama sekali, ada 4 kapal klotok yang bersandar pagi itu. Hanya 2 kapal klotok yang bersandar di Dermaga Pondok Tanggui, 2 lagi harus bersandar di pohon besar. Tidak lama setelah itu, beberapa kru kapal mulai bangun. Yang pertama adalah Ibu Inun yang sudah mulai aktivitas di dapur. Bang Khadir, Bang Andi, dan Bang Ennog akhirnya turun ke dermaga juga.

Taman Nasional Tanjung Puting

Tidak lama setelah itu,ย Titi, Lio, Windra, dan Heston juga sudah bangun. Beberapa kru kapal klotok pun ikut bergabung dengan kami, salah satunya adalah Bang Jefri. Dari obrolan ngalor-ngidul, akhirnya Bang Jefri cerita kalau dulunya dia pernah bekerja sebagai ranger di Camp 2 Pondok Tanggui. Pekerjaannya rutinnya adalah menjaga persediaan makanan orangutan di gudang hingga melakukan feeding setiap hari.

Obrolan di dermaga itu semakin riuh karena beberapa kru ngobrol dengan bahasa Kumai yang terdengar lucu. Hehehe. Dari obrolan itu, saya jadi tahu ternyata pengunjung kapal kelotok di depan kami sedang berbulan madu. Huhuhu. Di sela-sela obrolan itu, Bang Khadir turun ke bagian bawah dermaga dan mandi byar-byur, padahal air sungai waktu itu cokelat gitu. “Sudah biasa,” kata Bang Khadir.

Taman Nasional Tanjung Puting

Karena tidak mandi sejak kemarin dari Jakarta, awalnya saya pikir bisa mandi pagi itu. Ternyata saya harus menunda mandi lagi. Di Pondok Tanggui itu tidak ada sumber air bersih. Sebenarnya di kapal klotok ada persediaan air bersih namun terbatas untuk memasak. “Nanti di camp selanjutnya airnya bersih,” begitu janji Bang Ennog. Bang Ennog dan teman-teman lalu “memermak” tampilan kapal kelotok.

Terpal penutup digulung, kelambu dirapikan, begitu juga dengan kasurnya. Semua perlengkapan tidur kami kemudian dipindah ke bagian bawah kapal kelotok. Setelah beres, kami pun naik kapal kelotok lagi beres-beres, sikat gigi, cuci muka, dan cuma ganti baju. Menu sarapan kami pun sudah dihidangkan di atas meja. Sarapan sederhana, tanpa mandi pagi, dan tanpa sinyal. Pagi itu terasa aneh tapi indah.

19 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *