Advertise with Me Please send me an email to saya@giewahyudi.com

Nonton Ki Warseno Slenk di HUT Bank DKI Jakarta

Sewaktu di kampung dulu, saya sudah biasa nonton wayang kulit semalam suntuk. Melihat aksi sang dalang beserta para pesinden dan para penabuh gamelan seolah menjadi penawar rindu saya pada kampung halaman. Karena itu saya begitu senang ketika seorang teman kantor memberitahu akan ada pagelaran wayang kulit di dekat kantor. Sebenarnya saya bisa saja tidak pulang dulu dan langsung nonton pagelaran wayang kulit di Kantor Pusat Bank DKI Jakarta. Namun akhirnya saya pulang ke rumah dulu karena kangen istri dan dedek bayi.

Ki Warseno Slenk Semar Mbangun Kayangan

Setelah sepanjang hari hujan, cuaca malam itu cukup cerah dan Jalan Juanda 3 sudah dipenuhi para penonton wayang kulit. Saya tak sendirian karena ditemani Mas Koestomo (wong Klaten yang saat ini bekerja di Jakarta) dan Mas Warsito (teman kantor saya yang asli wong Kebumen). Nonton wayang kulit di Jakarta tentu lebih afdhal bila ditemani dua teman yang mempunyai nama khas Jawa banget, Koestomo dan Warsito. :) Ketika kami sampai di lokasi pagelaran wayang kulit, para penonton sudah memenuhi tempat yang sudah disediakan.

Meskipun siang harinya Jakarta diguyur hujan, malam itu cuaca cukup cerah. Sehingga penonton membeludak sampai di luar tenda yang sudah disiapkan, bahkan ada yang nonton di belakang geber (layar wayang). Pantas saja penonton malam itu penuh sesak karena dalang yang tampil adalah Ki Warseno Slenk, ada juga yang menyebutnya Ki Warseno Slank seperti nama band asal Gang Potlot itu. Dalang asli Klaten ini terkenal sejak mengikuti jejak sang kakak kandung yang juga seorang dalang terkenal, Ki Anom Suroto.

Ki Warseno Slenk Semar Mbangun Kayangan

Dalam perayaan Hari Ulang Tahun Bank DKI Jakarta ini, Ki Warseno Slenk membawakan lakon berjudul “Semar Mbangun Kayangan”. Dengan mengenakan beskap hitam, Ki Warseno Slenk tampil memanjakan para peminat wayang kulit. Dalang berusia 47 tahun ini tampil dengan ciri khasnya yang komunikatif dan slengekan, ciri khas yang memberinya nama akhir “Slenk”. Penampilan Ki Warseno Slenk semakin dimeriahkan dengan tampilnya duo pelawak, Yati Pesek dan Marwoto. Para penonton dibuat tertawa terbahak-bahak berkat kolaborasi dalang slengekan dan dua pelawak kawakan itu.

Ki Warseno Slenk memang dalang kreatif. Selain menggandeng Yati Pesek dan Marwoto, Ki Warseno Slenk juga memboyong para pesinden yang variatif, mulai dari pesinden yang kerap tampil di televisi sampai pesinden asal Wonosobo yang “ngapak” banget. Penampilan pesinden “ngapak” itu yang paling seru karena bisa nyinden sambil ngelawak bareng sang dalang dan dua pelawak itu dengan gaya khas “ngapak”-nya. Tidak hanya itu, Ki Warseno Slenk juga memadukan musik rap dengan gamelan yang bisa mengajak para pemuda untuk meminati wayang kulit.

Setelah nonton penampilan Ki Warseno Slenk, saya tak sabar untuk nonton wayang lagi. Tapi kapan ya bisa bawa dedek bayi nonton wayang?

31 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *