Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Mesir, Hosni Mubarak, dan Mohamed ElBaradei


Sebelum isu revolusi yang menuntut Hosni Mubarak mundur, Mesir sebenarnya cukup memanas di awal tahun ini. Pada tanggal 1 Januari 2011 lalu, sebuah bom bunuh diri meledak di Gereja Al-Qiddissin, Alexandria, menewaskan 21 orang dan melukai 79 orang. Kemudian umat Kristen membalas dengan menyerang masjid-masjid dan bahkan melempari Menteri Osman Mohammed dengan batu ketika menteri perekonomian itu mengucapkan belasungkawa.

Belum selesai kasus bom bunuh diri, Mesir kembali bergejolak. Protes terhadap pemerintah dengan cara membakar diri yang dimulai oleh Mohammed Bouazizi di Tunisia ditiru juga di Mesir. Tepat setelah sebulan aksi bakar diri Bouazizi yang menggulingkan Presiden Zine Al-Abidine Ben Ali, seorang pria di Mesir juga membakar diri di depan parlemen Mesir pada 17 Januari 2011. Sehari kemudian, dua orang lagi melakukan aksi bakar diri di Mesir. Efek domino dari Tunisia mulai dirasakan di Negeri Piramida ini.

Tanggal 25 Januari 2011, rakyat Mesir mulai turun ke jalan. Belum jelas siapa yang menggerakkan rakyat Mesir ketika itu, massa yang berunjuk rasa hanya digerakkan melalui jejaring sosial Facebook dan Twitter. Meski pemerintah Hosni Mubarak mengancam akan menangkap semua demonstran, rakyat Mesir tidak takut. Gelombang massa bergerak di seluruh Mesir. Massa malah mulai menuntut Hosni Mubarak untuk mundur.

Untuk meredam massa yang semakin besar, pemerintah Mesir memblokir Twitter dan Facebook. Selain itu jaringan internet dan SMS juga sempat terganggu. Hosni Mubarak lalu menangkap sejumlah pimpinan Ikhwanul Muslimin yang diduga menggerakkan unjuk rasa besar-besaran itu. Jumat 28 Januari 2011, tokoh oposisi Mohamed ElBaradei mulai bergabung dengan para demonstran di Kairo. Mohamed ElBaradei menilai pemerintah hanya menggunakan istilah oposisi untuk memerintah secara otoriter.

Presiden Hosni Mubarak membubarkan kabinetnya dan menjanjikan reformasi sosial, ekonomi, dan politik bagi rakyat Mesir. Mohamed ElBaradei yang pernah mendapatkan Nobel Perdamaian ini kemudian mengecam sikap Hosni Mubarak yang dinilainya tidak mengerti pesan rakyat Mesir. Hari Minggu, gerakan massa makin menjadi-jadi, hingga pemerintah Mesir menyatakan bahwa militer secara de facto mengontrol Mesir. Pada hari itu juga, Hosni Mubarak menunjuk Kepala Intelijen, Omar Suleiman, sebagai wakil presiden. Sebelumnya Hosni Mubarak yang telah memerintah selama 30 tahun tidak pernah mempunyai seorang wapres.

Unjuk rasa semakin ganas karena tank-tank mulai masuk ke jalan. Korban meninggal sudah mencapai angka lebih dari 100 orang. Pada hari itu juga, kelompok oposisi, salah satunya Ikhwanul Muslimin, sepakat mengangkat Mohamed ElBaradei sebagai tokoh revolusi Mesir. Suasana Mesir yang memanas membuat seluruh negara kalang kabut memulangkan warga negaranya. Harga minyak dunia pun mulai naik. Negara-negara Barat yang awalnya sekutu Hosni Mubarak akhirnya menginginkan Hosni Mubarak turun demi stabilitas dunia. Amerika pun tak tinggal diam. Presiden Barack Obama bahkan secara langsung mengirim utusan untuk berdiskusi dengan Hosni Mubarak.

Barack Obama meminta sekutu kuat Amerika Serikat di Timur Tengah itu untuk melakukan transisi segera. Tetapi, Hosni Mubarak hanya menjawab dengan menyatakan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan lagi dalam pemilu pada September tahun ini. Demonstran semakin marah dan mencemooh sambil mengacungkan sepatu. Dalam dunia arab, mengacungkan sepatu adalah tanda penghinaan. Hosni Mubarak pun melakukan serangan balik pada demonstran anti-pemerintah dengan mengirimkan orang-orangnya ke jalanan. Bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan pro-pemerintah pun tak terelakkan. Mohamed ElBaradei meminta militer melakukan tindakan untuk menghindari bentrokan. Tetapi, militer justru melakukan serangan pada demonstran. Tindakan ini dikecam keras oleh Sekjen PBB, Ban Ki-moon.

Kamis 3 Februari 2011, parlemen Mesir dibekukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kemarin bentrokan kedua kubu demonstran terjadi lagi di Tahrir Square atau Lapangan Tahrir. Korban kembali berjatuhan, sampai hari ini total jumlah korban meninggal mencapai 300 orang. Hosni Mubarak semakin terjepit. Sekutu-sekutunya sudah tidak bisa membantu lagi, bahkan semakin memojokkan. Amerika Serikat dan Israel adalah sekutu yang sangat penting untuk Mesir yang sekarang menuntut Hosni Mubarak turun tahta.

Hari ini, Jumat 4 Februari 2011, demonstrasi besar-besaran akan dilakukan lagi setelah Shalat Jumat. Mohamed ElBaradei mengancam akan menduduki istana Hosni Mubarak. Mohamed ElBaradei yang pernah menjadi ketua Badan Atom Internasional ini telah menyatakan siap untuk memimpin Mesir melewati masa transisi. Kita tunggu saja, tidak akan lama lagi kepemimpinan Mesir akan ditarik paksa dari tangan Hosni Mubarak oleh Mohamed ElBaradei.

2503 Total Views 2 Views Today
9 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *