Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Mereka yang Lebaran bukan di Kampung Halaman

Saat-saat lebaran adalah waktu ideal untuk berkumpul dengan kerabat keluarga di kampung halaman. Terutama bagi perantau-perantau yang mencari nafkah jauh dari kampung halamannya. Misalnya Riskha, orang Palembang yang menjadi pegawai negeri sipil di Jayapura. Setiap lebaran ia pulang kampung untuk bertemu seluruh anggota keluarganya meskipun harus membeli tiket pesawat seharga puluhan juta. Ada juga Ashgar, mahasiswa asal Ternate yang sedang menuntut ilmu di Jakarta. Lebaran kali ini, ia pulang setelah tahun lalu ia absen lebaran di kampung halaman. Kisah-kisah mereka yang mudik ke kampung halaman memang selalu mengharukan.

Polisi Membagikan Peta Mudik

Lebaran kali ini, saya tidak mudik ke Klaten karena Dedek Diana masih terlalu ‘merah’ untuk diajak mudik. Akhirnya kami berlebaran di Cikarang, rumah simbahnya Dedek Diana. Rasa sedih sudah pasti terasa saat mendengarkan suara takbir menggema. Namun saya ingat suatu ungkapan bahwa “Jika ingin bersyukur lihatlah orang-orang di bawahmu”. Sesaat saya terbayang orang-orang yang tidak mudik ke kampung halaman seperti saya. Ternyata banyak juga, mulai dari mereka tak punya ongkos pulang sampai mereka yang sudah rutin lebaran di Jakarta karena semua keluarganya sudah diboyong ke Jakarta.

Dari beberapa orang yang saya kenal, memang banyak yang berlebaran di Jakarta karena semua keluarganya sudah menetap di Jakarta. Mulai dari cucu sampai kakek-neneknya sudah tinggal di Jakarta, sehingga Jakarta seolah sudah menjadi kota kampung halaman. Ada juga keluarga kecil yang tak mudik karena tidak ingin terjebak macetnya jalur pantura. Mereka lebih memilih mudik di luar waktu lebaran, misalnya di saat liburan akhir tahun. Jika ditanya “apakah tidak kangen kampung halaman saat lebaran?”, mereka pasti merasa sedih meskipun kadang tak terucapkan.

Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya ketika sudah tidak mudik selama lima tahun. Ketika malam takbiran, ia tiba-tiba merasa sedih yang berlebih. Rasa rindu pada orangtua dan kampung halaman sudah tak tertahankan. Akhirnya saat itu juga ia pulang dengan memacu sepeda motornya sendirian. Lebaran bukan di kampung halamannya sendiri memang sungguh terasa, begitulah yang saat ini saya rasakan. Namun ternyata ada yang lebih ‘menderita’ dibandingkan saya. Setiap kali melihat mereka yang harus tetap bekerja di saat lebaran, saya kembali merasa tersentuh. Di saat orang berkumpul di kampung halaman, mereka ini harus tetap mencari nafkah.

Saya perhatikan banyak juga yang masih bekerja saat lebaran. Lihatlah di televisi, mereka yang tetap bekerja saat lebaran antara lain polisi lalu lintas, sopir, masinis, nahkoda, pilot, dan semua orang yang umumnya bekerja di bidang transportasi. Saya selalu menaruh hormat pada mereka yang tetap bekerja sepenuh hati meskipun mereka sebenarnya punya hak yang sama untuk mudik ke kampung halaman. Mereka semua yang melayani para pemudik di terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara dengan sopan dan penuh keramahan pantas menerima penghargaan.

Menurut saya, masih mending saya yang lebaran di kampung halaman orang daripada mereka yang lebaran di tempat kerja. Salam hormat saya untuk mereka.

8551 Total Views 2 Views Today
37 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *