Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Menjadi Official Photographer Final Jenderal Sudirman Cup 2015

Sebagai penggemar sepakbola, saya memang perlu sesekali menonton langsung di stadion, tidak hanya menjadi penonton layar kaca. Dengan menonton di stadion, saya bisa melihat kenyataan sepakbola Indonesia saat ini. Tidak semua ditayangkan dalam siaran langsung, seperti gigihnya calo menawarkan tiket, para penonton yang “menyelipkan” rokok di pintu masuk, suara suporter yang memancing emosi suporter lawan, dan masih banyak lagi. Ya begitulah kondisi persepakbolaan di Indonesia saat ini.

Meski sanksi FIFA belum juga dicabut, ada beberapa turnamen yang digelar seperti Piala Presiden 2015 dan Piala Jenderal Sudirman 2015. Sesuai namanya, Piala Jenderal Sudirman 2015 digelar untuk menghargai jasa Jenderal Sudirman. Uniknya, Piala Jenderal Sudirman 2015 dibuka pada Hari Pahlawan Nasional 10 November 2015 dan ditutup pada tanggal 24 Januari 2016 yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jenderal Sudirman.

Awalnya saya hanya ingin menonton di tribun penonton namun untungnya saya mendapat undangan dari Mahaka Sports and Entertainment selaku operator Piala Jenderal Sudirman 2015. Selain menghadiri press conference di Century Park Hotel Jakarta tanggal 20 Januari 2015, saya juga berkesempatan meliput langsung pertandingan final di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Langit cerah saat saya menuju Stadion GBK hari Minggu siang itu meski sejak pagi hujan turun di Jakarta.

Menjadi Official Photographer Final Jenderal Sudirman Cup 2015

Official Photographer

Seorang calo langsung menawarkan tiket saat saya keluar dari tempat parkir. Saat saya masuk dari pintu gerbang utara yang sudah dipenuhi penonton yang kebanyakan mengenakan jersey Semen Padang. Petugas keamanan memeriksa seluruh isi tas saya. “Rokok, korek, dan petasan tidak boleh dibawa masuk,” kata seorang petugas keamanan. Penonton yang belum memiliki tiket juga dilarang masuk dan dipersilakan membeli di loket yang berada tepat di depan pintu gerbang.

Saat ditanya mengenai tiket, saya mengaku dari media dan baru akan mengambil ID Card di Pintu XII. Awalnya petugas itu ragu, namun setelah melihat isi tas dan email undangan, saya dipersilakan masuk. “Sektor 12 tinggal jalan ke kiri saja,” kata petugas itu. Setelah menunggu beberapa menit di Sektor 12, saya baru sadar ternyata Pintu dan Sektor itu beda. Jadi, Stadion GBK itu punya 12 Pintu yang ditulis dengan Angka Romawi (I-XII). Di setiap Pintu itu ada 2 Sektor yang memisahkan penonton tribun bawah dan tribun atas.

Karena itulah saya harus berjalan memutar setengah lingkaran Stadion GBK untuk sampai di Pintu XII yang berada tepat di sebelah Pintu VIP Barat. Setelah memperoleh ID Card, saya menunggu sekitar satu jam karena awak media baru boleh masuk pukul 17.oo WIB. Saya lalu berfoto di photo booth dan membuat video timelapse. Saya juga melihat para petugas sedang melakukan sterilisasi di sekitar Pintu VVIP Barat karena Presiden Jokowi dan sejumlah pejabat juga akan menonton partai final Jenderal Sudirman Cup 2015.

Akhirnya saya diperbolehkan masuk bersama blogger dan awak media lainnya. Setelah masuk, saya dan Mas @harrismaul diberi rompi fotografer berwarna biru muda. Dengan rompi itu, saya bisa mengakses seluruh area seperti technical area, substitute bench, 4th official bench, photographer zone, tunnel, dan first aid facility. Selain itu saya juga bisa mengakses tribun media dan ruangan press conference. Ternyata saya datang sedikit terlambat karena rombongan pertama sudah menuju sisi gawang kiri, jadi saya harus menunggu beberapa saat.

Dari media centre itu, ada akses langsung menuju sisi gawang kiri karena ada sebuah lorong khusus. Sementara untuk menuju sisi gawang kanan, saya harus menaiki tangga yang berada tepat di depan tribun VIP kemudian turun lagi menuju sisi gawang kanan. Saat sampai di photographer zone, saya melihat jam ternyata sudah pukul 19.00 WIB. Wah cukup lama juga ya tertahan di media centre tadi. Penonton sudah memenuhi tribun Stadion GBK. Tribun bawah penuh semua, tribun atas hanya beberapa yang terlihat kosong.

Saya menyisiri belakang gawang tampak beberapa fotografer sudah mengambil posisi. Sejumlah crew NET pun sedang menyiapkan semua kamera untuk siaran langsung. Saya berjalan ke arah Sektor 15 beberapa suporter tampak sudah menaiki pagar sambil meneriakkan yel-yel. Setelah saya mendekat ternyata ada beberapa The Jakmania yang “menyusup” di antara suporter Mitra Kukar. Bahkan ada The Jakmania yang mengenakan kaos oranye tapi mengibarkan syal Mitra Kukar. Sebagai informasi, langkah Persija tertahan di perempat final di mana Mitra Kukar dan Semen Padang yang berhak lolos ke semifinal.

Menjadi Official Photographer Final Jenderal Sudirman Cup 2015

Sementara itu di depan tribun VIP Timur terdapat sebuah panggung pertunjukan untuk menggelar closing ceremony Piala Jenderal Sudirman 2015. Sejumlah tentara wanita berseragam lengkap tampil menyanyikan beberapa lagu sementara tentara pria memainkan alat musik. Selain itu ada juga penampilan Noah dan Slank yang ditunggu-tunggu para penonton. Penampilan Noah disambut dengan aksi para penonton yang menyalakan lampu smartphone. Dengan lagu Raja Negeriku dan Khayalan Tingkat Tinggi, Noah menyemangati para penonton.

Yang menarik dari penampilan Slank kali ini adalah Abdee Negara yang kembali tampil meski telah mengundurkan diri dari Slank karena alasan kesehatan. Oh ya, Abdee Slank juga menjadi ketua Steering Committee dalam kompetisi Piala Jenderal Sudirman 2015 lho. Dalam kesempatan itu Slank membawakan beberapa lagu seperti I Miss U But I Hate U, Juwita Malam, Slank Dance, Jurus Tandur, dan Lo Harus Grak. Millane Fernandez dan Yura Yunita juga tampil bersama Slank.

Tidak hanya tampil di atas panggung, para prajurit TNI juga melakukan atraksi terjun payung. Satu per satu penerjun payung terlihat dari lampu LED yang mereka kenakan di kedua tangan kaki. Tidak hanya terjun menuju lapangan hijau Stadion GBK, para penerjun itu juga mengibarkan bendera raksasa tim-tim yang berlaga di Piala Jenderal Sudirman 2015. Ada juga bendera NET yang merupakan official broadcaster turnamen ini. Yang paling istimewa tentu bendera peringatan 100 Tahun Jenderal Sudirman yang mendarat mulus.

Menjadi Official Photographer Final Jenderal Sudirman Cup 2015

Para penonton bersorak saat satu per satu penerjun payung mendarat. Namun penonton berteriak histeris saat seorang penerjun tersangkut di atap Stadion GBK, tepatnya di atas Sektor 22. Bendera besar itulah yang tersangkut di atas atap stadion sehingga penerjun payung itu tergantung di pinggir atap, sementara parasut terjuntai ke bawah. Mungkin karena terlalu berat menahan parasut, penerjun payung itu kemudian melepaskan parasutnya. Penerjun payung itu hanya terikat dengan seutas tali hanya beberapa meter dari atap.

Seketika prajurit TNI lain berusaha menyelamatkan rekannya itu. Akhirnya beberapa prajurit TNI naik ke atap stadion dan menarik penerjun itu dengan sebuah tali. Saya merekam aksi heroik penyelamatan penerjun payung itu. Akhirnya penerjun payung itu bisa diselamatkan dan para penonton pun bertepuk tangan atas aksi penyelamatan itu. Tidak lama setelah itu, para pemain dari kedua kesebelasan masuk ke lapangan untuk melakukan pemanasan. Para pemain pun menyapa pendukungnya dari tepi lapangan.

Saya mengambil posisi bagus di dekat tugu obor. Sangat pas untuk memotret momen-momen seru di depan gawang. Saat itu sisi belakang gawang sudah dipenuhi fotografer karena tidak lama lagi pertandingan akan dimulai. Namun sayangnya tidak lama setelah itu hujan tiba-tiba turun begitu derasnya. Saya pun ikut lari tunggang langgang menuju Pintu Merah. Pintu Merah ini merupakan pintu besar yang tidak bisa dilalui penonton yang terletak di antara Sektor 18 dan Sektor 19. Beberapa mobil, bus, dan tank tampak parkir di Pintu Merah itu.

Saya merangsek ke dalam karena hujan semakin besar. Ternyata di dalam sudah ada beberapa pemuda-pemudi yang mengenakan pakaian adat. Mereka akan membawa trofil Piala Jenderal Sudirman 2015. Ada juga sebuah tandu yang melambangkan bagaimana dulu Jenderal Sudirman berjuang melawan penjajah meski harus ditandu. Trofi Piala Jenderal Sudirman 2015 telah ditandu dari tanah kelahiran Jenderal Sudirman, Purbalingga, sejak tanggal 20 Januari 2016. Akhirnya trofi tersebut sampai di Stadion GBK untuk diperebutkan.

Hujan belum juga reda namun pemuda-pemudi itu akhirnya keluar dari Pintu Merah untuk mengantarkan trofi Piala Jenderal Sudirman 2015. Para pemain pun memasuki lapangan, namun saya masih bertahan di Pintu Merah karena hujan tidak kunjung reda. Para official photographer pun tidak tampak di belakang gawang, hanya ada videographer NET yang menyiarkan langsung laga Semen Padang vs Mitra Kukar. Beberapa fotografer tampaknya lebih memilih kembali ke tribun media daripada berbasah-basahan di pinggir lapangan.

Saya pun sempat menuju tribun VIP namun tidak nyaman sekali untuk memotret pertandingan. Akhirnya saya kembali ke posisi semula di dekat tugu obor. Dengan plastik hitam besar yang diberikan oleh panitia, saya melindungi badan dan kamera saya, sementara sepatu dan celana sudah saya relakan untuk basah-basahan. Jarang-jarang punya kesempatan bisa memotret langsung dari belakang gawang seperti ini, pikir saya. Beberapa fotografer pun kembali setelah mengenakan rain coat atau payung.

Menjadi Official Photographer Final Jenderal Sudirman Cup 2015

Dari menit awal, Semen Padang mendominasi pertandingan. Saya yang berdiri di belakang gawang Mitra Kukar ikut bersorak saat para pemain Semen Padang melakukan serangan. Rasanya ingin bersorak keras seperti yang dilakukan para penonton di tribun. Namun menonton dari pinggir lapangan rasanya lebih menggetarkan. Memang tidak seberisik suasana di tribun namun dengan menonton di pinggir lapangan saya bisa mendengarkan apa yang selama ini didengarkan para pemain bola saat bermain di lapangan hijau.

Jika menonton di tribun suasana berisik sekali karena semua orang bersorak, namun suara dari seluruh tribun bersatu di tengah lapangan. Itulah yang selama ini didengarkan para pemain bola. Aksi gemilang penjaga gawang Mitra Kukar, Shahar Ginanjar membuat sorakan suporter Semen Padang seakan terputus. Begitu juga saat Vendry Mofu gagal menyontek umpan matang dari Nur Iskandar. Kondisi lapangan yang tergenang air di beberapa titik memang menyulitkan para pemain. Hingga water break, skor masing imbang kaca mata.

Semen Padang akhirnya membuka keunggulan di menit 32 saat sundulan Adi Nugroho tidak bisa ditepis Shahar Ginanjar yang sudah mati langkah. Stadion GBK bergemuruh kencang. Sementara saya tetap bertahan di balik view finder kamera dan mengikuti kemanapun langkah Adi Nugroho melakukan selebrasi. Setelah mencetak gol, Adri Nugroho berlari ke pinggir lapangan hingga substitute bench Mitra Kukar, bersujud, dan menerima ucapan selamat dari rekan setimnya. Senang rasanya melihat Adi Nugroho beradu badan dengan Nur Iskandar.

Menjadi Official Photographer Final Jenderal Sudirman Cup 2015

Setelah tertinggal satu gol, Mitra Kukar mulai bermain keluar namun hingga babak pertama berakhir skor tetap 1-0 untuk kemenangan Semen Padang. Waktu turun minum saya gunakan untuk berteduh karena sepanjang pertandingan tadi hujan turun tanpa henti. Karena ingin sudut yang berbeda, saya pindah ke sisi gawang yang lain. Meski pertandingan sedang istirahat, tribun di belakang saya tetap ramai menyanyikan yel-yel. Ternyata mereka adalah tentara yang mendukung PS TNI meskipun tim kesayangannya tidak bermain di partai final.

Babak kedua dimulai dan saya kembali merapat ke pinggir lapangan. Mitra Kukar langsung mengambil inisiatif penyerangan untuk mengejar ketertinggalan. Sayangnya tendangan terarah Patrick Dos Santos masih bisa ditepis Jandia Eka Putra. Mitra Kukar makin mendominasi setelah Yu Hyun-Koo mendapatkan kartu kuning kedua pada menit 53. Setelah kartu merah itu, saya beranjak menuju media centre untuk mengganti baterai kamera. Ternyata di media centre disediakan kopi dan makanan ringan, sehingga saya istirahat beberapa menit.

Saat akan kembali ke lapangan, teman-teman wartawan berkumpul di salah satu meja yang ternyata menyiarkan live streaming. Lucu juga sih nonton pertandingan yang hanya berjarak beberapa meter tapi nontonnya via live streaming. Namun live streaming itu delay sekitar 5 detik. Jadi saat ada sorakan panjang dari dalam stadion, mata langsung tertuju pada layar laptop. “Ini gol pasti,” kata seorang wartawan. Dan benar beberapa detik kemudian tampak tendangan bebas Michael Orah tidak bisa ditepis Jandia Eka Putra.

Gol di menit 79 itu membuat Semen Padang tertekan dengan 10 pemain dan kedudukan imbang 1-1. Petaka untuk tim Kabau Sirah akhirnya datang di menit 89 di mana Yogi Rahadian melakukan aksi individu yang cantik melewati Ricky Ohorella sebelum melesakkan bola ke gawang Semen Padang. Pertandingan dramatis meskipun saya menyaksikan dua gol Mitra Kukar dari ruangan media centre. Setelah itu saya kembali ke lapangan untuk menyaksikan selebrasi para pemain Mitra Kukar meski hujan terus turun.

Para pemain Mitra Kukar merayakan kemenangan bersama suporter mereka, Mitra Mania, yang masih bertahan di Stadion GBK. Setelah itu para pemain Mitra Kukar menerima medali dan hadiah sebagai juara Piala Jenderal Sudirman 2015. Ada juga penghargaan khusus seperti pemain terbaik, top skor, tim fair play, wasit terbaik, dan suporter terbaik. Puncaknya adalah saat pemain Mitra Kukar menerima trofi Piala Jenderal Sudirman 2015. Setelah melakukan selebrasi di tengah lapangan, para pemain Mitra Kukar kembali mendatangi Mitra Mania yang terus menyanyikan yel-yel.

Senang rasanya bisa menyaksikan pertandingan yang dramatis ini. Meski awalnya saya mendukung Semen Padang, namun permainan kedua tim sama-sama menakjubkan. Meski didera hujan sepanjang pertandingan, rasanya ingin sekali lagi menyaksikan pertandingan dari pinggir lapangan. Meski sepakbola Indonesia masih mendapatkan sanksi dari FIFA, semoga turnamen-turnamen seperti ini tetap ada karena suporter Indonesia tetap harus menonton di stadion.

3012 Total Views 3 Views Today
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *