“Perkenalan” pertama saya pada seorang Daniel Mahendra sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun lalu. Ketika harus belajar menjadi seorang editor untuk majalah kampus, saya “berkenalan” dengan seorang Penganyam Kata, nama pena editor yang sangat mengagumi Pramoedya Ananta Toer ini. Meskipun hanya berkenalan melalui tulisan-tulisannya tentang “bagaimana menjadi editor yang baik”, saya sangat berterima kasih karena selalu diingatkan untuk menganyam kata serapi dan seindah mungkin. Meskipun awalnya saya pikir perkenalan kami hanya sampai di situ saja.

Tahun berganti tahun dan saya pun nyaris lupa siapa itu Daniel Mahendra. #maaf Hingga suatu waktu ada nama @penganyamkata di timeline Twitter saya, tepatnya dari tweet @suryaden. Saya baca namanya “Daniel Mahendra” dan tanpa ragu saya langsung follow @penganyamkata. Mulai dari mention-mention-an, saya pun mulai membaca blog Penganyamkata yang selalu menyajikan tulisan-tulisan panjang dan enak dibaca namun selalu membuat saya “berpikir lama” setelah membacanya. Tulisan ringan yang memberi saya banyak pengertian tanpa banyak menggurui, itu yang menarik.
Menurut saya, tulisan Daniel Mahendra ringan namun selalu ada hal-hal kecil bermakna yang kerap tak terperhatikan oleh saya. Tahun lalu, Daniel Mahendra berpetualang sendirian menyusuri negeri Cina, Tibet, dan Nepal. Daniel Mahendra menuliskan kisah perjalanannya itu di blognya sehingga saya seolah bisa ikut dalam perjalanan itu. Meskipun begitu, tulisan Daniel Mahendra tetap panjang, enak dibaca, dan selalu ada kisah-kisah kecil bermakna. Dalam perjalanan solo backpacker itu, saya bisa membayangkan betapa kerasnya usaha Daniel Mahendra untuk menuliskan itu semua.
Namun suatu ketika tulisan-tulisan terbaru di blog Penganyamkata tak juga muncul. Begitu juga dengan timeline @penganyamkata yang tak pernah ada tweet baru yang hadir. Saya sudah cukup lama dibuat penasaran sampai di mana petualangan Si Penganyam Kata ini. Suatu ketika gambar profil Facebook Daniel Mahendra berubah menjadi gambar sebuah buku berjudul “Perjalanan ke Atap Dunia”. Itu kan terjemahan dari “Journey to the Rooftop of the World” yang selama ini menjadi tagline(?) blognya. Saya harus langsung memesan buku baru Daniel Mahendra itu, pikir saya waktu itu.
Meskipun baru mau naik cetak, saya langsung memesan buku “Perjalanan ke Atap Dunia”. “Siap, Pakdhe. Tak catet yo.. Nanti begitu buku sudah siap, langsung tak kabari. Suwun.
”, begitu balasan dari Daniel Mahendra. Kebetulan awal bulan ini saya liburan ke Bandung, jadi saya tak melewatkan kesempatan untuk kopi darat dengan penulis yang sudah menerbitkan 21 buku ini. Ternyata saya datang dalam waktu yang kurang tepat karena lebih cepat seminggu dari launching buku “Perjalanan ke Atap Dunia”. Tepat setahun setelah dimulainya perjalanan ke tiga negara itu, 14 April 2012 buku “Perjalanan ke Atap Dunia” di-launching di Waroeng Itempoetih (sekarang berganti nama menjadi Warung Sitinggil).
Di tengah kesibukan persiapan launching buku “Perjalanan ke Atap Dunia” itu, Daniel Mahendra masih menyempatkan untuk menemui saya dan istri di Museum Konperensi Asia-Afrika. Saya dan istri merasa senang bisa bertemu dengan travel writer, apalagi ketika Daniel Mahendra menceritakan langsung kisah-kisah uniknya selamat menyusuri tiga negara itu. Bukan hanya kami yang senang bertemu dengan Daniel Mahendra, saya yakin dedek bayi juga nendang-nendang pengen ikut jalan-jalan bareng Om Daniel.
Tak berapa lama setelah launching, kiriman buku “Perjalanan ke Atap Dunia” sudah sampai di kantor saya. Sepulang dari kantor, istri saya langsung membaca buku Adun (singkatan dari Atap Dunia) dengan seksama. Istri saya sebenarnya jarang bisa menyelesaikan membaca satu buku, namun kali ini tidak. Kali ini istri saya membaca dengan seksama halaman demi halaman. Sesekali istri saya membaca sambil tertawa, misalnya ketika ada orang Nepal tiba-tiba berkata “Aku iso ngomong Jowo” kepada Daniel Mahendra atau ketika melihat potret sebuah hotel yang bernama “Hotel Panas”. Saya pun ikut tertawa riang dibuatnya.
Kisah-kisah jenaka memang kadang menghiasi perjalanan, namun tak jarang juga membuat istri saya tampak serius membaca. Misalnya, ketika Daniel Mahendra berpikir bahwa para monk di Tibet yang sedang beribadah seharusnya tidak dijadikan tontonan oleh para turis. Atau ketika Daniel Mahendra menemui orang Cina yang HAAKK JUUUHH HAAKKK JUUUHHH! di sembarang tempat, mulai dari stasiun sampai bandara. Namun perjalanan Daniel Mahendra bukannya tanpa kisah romansa. Di tepian Danau Phewa, Daniel Mahendra berkenalan dengan seorang traveler asal Perancis bernama Jeanette.
Daniel Mahendra menulis setiap kisah perjalanannya dengan apik. Mungkin banyak orang bisa menjadi seorang pelancong namun tak banyak yang bisa mengisahkannya. Seorang traveler tentu bukan hanya menceritakan sampai di mana dengan uang seberapa.





saya kira, ga musti jauh-jauh ke Tibet dkk buat cari pengalaman..,, (alesan karana nda punya fulush),
Lalu, berencana mau ke mana kita, sekarang? :p
Sekaramg bukan dua sejoli lagi tapi tiga sejoli lho Mbak
Wuuiiih…. Setelah membaca Life Traveler karya Windy Ariestanty, saya belum baca buku dengan tema perjalanan lagi nih, hehe….
Saya jarang baca buku yang berhubungan dengan travelling soalnya bikin ngiri terus ni..
wah jalan-jalan nih, saya masih berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk
waah jd pengen baca bukunya, baca buku2 tentang kisah perjalanan seseorang memang selalu menarik dan pastinya bisa menambah pengetahuan tentang berbagai tempat yang mungkin belum kita singgahi..
Iya, kita memang perlu berpetualang untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya..
Kesempatan yang menyenangkan bisa berjalan-jalan dan menuliskan pengalaman itu. Sukses selalu
pesennya pak Daniel itu serem banget tuh ya… ikutan follow beliau ah…
wahh, pengen jadi traveler..
pasti rame banget dan banyak pengalaman…
atap dunia dimimpikan, dikunjungi, kemudian diceritakan, sangat menginspirasi,,
pesannya untuk sejoli itu lho, semangat banget,
saya cuma berhenti dimimpi,huff..
mimpi sekarang untuk si adek bayi ya..
Kok tahu sih? Dikasih tahu Om Daniel ya?
oh … udah jadi buku
aku ngikutin blognya ya sejak ada cerita itu…, suka banget
Sepertinya buku yang menarik. Apakah itu buku yang diterbitkan dari blog?
Seru ya, siadek bayi juga sudah memimpikan harus jadi pembrani..
*salam kenal,asyik juga membaca blog ini,kalem dan detil.
Banyak orang yang berani bermimpi, tapi belum tentu berani mewujudkannya.
Pesan yang dituliskan dibuku itu sangat saya suka
Begitulah pesan seorang Daniel Mahendra yang akan selalu saya ingat..
Ya, emang nggak akan sama sih, dua minggu berkelana kayak gitu, tapi setidaknya, nanti pengen membuktikan betapa ribetnya travelling gendong2 bayi, hahaha…
kasian juga si bayi ^_^
Wah, judul bukunya apa & diterbitin siapa? Cerita naik gunung?
Judul buku : Perjalanan ke Atap Dunia.
Penerbit : Penerbit Medium Bandung.
Tentang perjalanan ke Tibet, Nepal, dan Cina..
Wuihhh…seru sepertinya ya mas Gie, hunting bukunya aah
sepertinya buku yang bagus tuh.. udah ada di gramed?
Keren mas…. baca dari blognya mas dan menikmati fot-fotonya aja dah keren…. foloow juga ah…. hehehe
keren..itu buku tentang perjalanan ya mas? kayak buku the naked traveler, tidak..? Kalau penulis ada yang panjang-panjang dan enak..saya suka sejuta-puisi..blognya Hasan Aspahani..
jadi pengen makan anggur nih…hehehe
Ini menarik nie tapi sedikit membuat saya “berpikir lama” setelah membacanya dan “berpikir lama lagi” untuk berkomentar, hehehe….
Keren banget. Jadi pengen berkenalan dengan beliau.
Mas Gie… buat saya, tulisan tangan si penulis yang dibuat customize untuk kita adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Dulu saya girang bukan kepalang pas seorang pengamat ekonomi nasional berkenan menuliskan sepatah dua patah kata dan menandatangani halaman pertama dari buku karangannya yang udah mulai lecek saya baca.
Btw, bojomu kalo nggak salah juga blogger ya? Namanya kok familiar..
wah..saya jg pengen bukunya…di gramedia apa sudah ada ya??? nice info mas….
mengomentari sedikit isi buku:
orang cina daratan itu memang begitu… pusing gue ama kelakuan mereka yg suka buang ludah sembarangan…belum lagi rasisnya ampunnn dah
wow, buku ya, ntar aja deh, buku baruku ada lima biji belum aku baca -_____-
Membaca rawianmu membuatku rindu pada sahabatku yang satu itu…
Ini adalah salah satu buku yang paling kunantikan hadir di Kweni.. Membaca rawianmu ini, membuatku semakin penasaran (nyontek dikit dari komen di atas)
Salam pers mahasiswa! hahaha… pantes yee isi tulisannya oke banget. kayanya lo nambah 1 fans deh, bang
::
gue/salam kenal
Buku yg wajib di baca kayaknya ini. Pasti semua pengalaman jalan-jalannya di tiga negara itu tumpah semua disini, tak hanya foto2nya yg menarik
aaahhh senengnya bisa ketemu langsung sama seorang penulis buku yak mas.. secara pribadi pula..
dan tema bukunya aku suka neh.. Traveling.. aaahhh dicatet deh bukunya buat dibeli kalau stok buku udah habis
sepertinya seru ceritanya, jadi pengen beli bukunya …
Pingback: Menikmati “Perjalanan ke Atap Dunia” dengan Daniel Mahendra « Penganyam Kata