Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Melihat Geliat Perajin di Kampung Kaleng Citeureup Bogor

Mendengar nama Kampung Kaleng, yang terpikir pertama kali adalah kampung yang warganya mengolah kaleng-kaleng bekas menjadi berbagai produk. Saat mengunjungi Kampung Kaleng di Citeureup minggu lalu, saya baru tahu ternyata “kaleng” yang dimaksud adalah jenis-jenis logam seperti alumunium, galvalum, dan stainless. Kampung Kaleng ini terletak di Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Karena banyak warganya yang menjadi perajin logam, Kampung Kaleng kini menjadi salah satu UMKM unggulan Kabupaten Bogor. Hampir di setiap rumah ada gulungan alumunium yang menjadi bahan dasar produk andalan mereka. Setiap rumah memiliki produk unggulan masing-masing seperti oven, cetakan kue, kaleng krupuk mini, aneka loyang, kukusan/klakat, ember mini, panci, dan masih banyak lagi. Selain peralatan rumah dan dapur, perajin logam Kampung Kaleng juga memproduksi kotak surat, standing ashtray, asbak mini, kotak P3K, dan kotak donasi.

Saya dan teman-teman blogger disambut Dedi Ahmadi, pendiri Koperasi Rancage yang menaungi 120 perajin di Kampung Kaleng. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) mendorong dibentuknya Koperasi Rancage untuk menopang permodalan perajin. Selain itu, Koperasai Rancage juga membatu para perajin logam untuk memperluas pangsa pasar dan memulai pemasaran online. Sebelumnya di Kampung Kaleng sudah ada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rancage yang dibentuk tahun 2012. Dalam bahasa Sunda, Rancage berarti cakap atau mahir melakukan sesuatu.

Dedi Ahmadi melihat adanya perpecahan antar perajin logam karena ada perang harga sehingga terjadi persaingan tidak sehat. Berkat upaya Dedi Ahmadi mempersatukan para perajin di dalam wadah Koperasi Rancage, Dedi Ahmadi kini dikenal dengan nama Dedi Rancage. Hebatnya, pada bulan Juli 2018 lalu, Dedi Rancage memperoleh penghargaan Medali Satya Lencana Pembangunan dan Bakti Koperasi dan UMKM yang diberikan langsung oleh Menteri Koperasi dan UMKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

Perajin pertama yang kami kunjungi adalah Pak Acun yang memproduksi oven gas berbahan stainless dan galvalum. Ternyata oven-oven buatan Pak Acun ini banyak dipasarkan pedagang di daerah Cawang, Jakarta Timur. Di sana harganya tentu lebih mahal, kalau mau beli bisa langsung ke Kampung Kaleng atau bisa juga beli online di situsnya, kampungkaleng.com. Pak Acun bisa membuat satu oven besar, ukuran panjang 90 cm sampai 150 cm, dalam waktu dua hari. Beda lagi dengan Pak Mafhun yang khusus memproduksi oven tangkring.

Oh ya, tidak lama setelah kami sampai di rumah Pak Acun, rombongan mahasiswa Institut Teknologi Indonesia datang jadi kunjungan kali ini ramai banget. Di lokasi selanjutnya kami melihat perajin kaleng kerupuk mini dan ember mini. Ada juga perajin yang khusus memproduksi cetakan kue dengan berbagai bentuk yang lucu-lucu seperti bentuk bunga, pisang, dan Hello Kitty. Di tengah jalan, kami juga berpas-pasan dengan seseorang pesepeda motor membawa ratusan produk yang akan dipasarkan.

Selanjutnya kami menuju Koperasi Rancage, yang di depannya dipajang beberapa contoh produk perajin Kampung Kaleng. Berawal dari perseteruan antar perajin yang hanya menguntungkan pengepul, Dedi Rancage akhirnya bisa mempersatukan para perajin dalam satu wadah koperasi. Berkat bantuan dana bergulir dari CSR Indocement masing-masing Rp 20 juta, perajin logam di Kampung Kaleng bangkit. Pemasaran dari yang awalnya paling jauh ke Cawang, sekarang sudah bisa mengirim ke Batam, Kalimantan, bahkan ke Malaysia.

Dari Koperasi Rancage, kami melanjutkan kunjungan ke Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) Indocement. Awalnya lokasi P3M ini merupakan area reklamasi pasca tambang Indocement. Nggak nyangka lho, area pasca tambang bisa digunakan untuk lahan pertanian dan peternakan. Di area seluas 10,5 hektare itu, Indocement menjalin kerja sama dengan mitra kerja di desa binaan dalam berbagai rencana strategis seperti budidaya domba/kambing, budidaya sapi, budidaya puyuh, dan budidaya perikanan.

Di bidang pertanian, P3M Indocement memiliki rencana strategis pengembangan budidaya tanaman buah, jamur tiram, tanaman toga, palawija, dan philowdendron. Saat makan siang, kami dihidangi buah melon yang baru dipetik. Sepanjang tahun 2017 lalu, sebanyak 2.700 orang mengikuti kegiatan eduwisata, pelatihan, dan studi banding di area P3M Indocement ini. Indocement melaksanakan pelatihan bidang pertanian,peternakan, perikanan, dan lingkungan kepada masyarakat di 12 desa binaan.

Indocement bekerjasama dengan pihak-pihak berkompeten untuk mengembangkan P3M, salah satunya dengan Fakultas Peternakan IPB dalam mengelola Pusat Pelatihan Usaha Ternak. Indocement juga memiliki rencana strategis eduwisata yang ditujukan untuk anak-anak sekolah. Anak-anak sekolah diperkenalkan dengan budidaya peternakan, pertanian, dan perikanan. Selain itu, P3M Indocement juga memiliki beberapa fasilitas energi bersih seperti biogas, listrik tenaga kinetik, dan sel surya yang menarik bagi anak-anak sekolah.

7641 Total Views 212 Views Today
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *