Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Lupus ; Film, Buku, dan Pendakian

Sewaktu masih menjadi anak sekolahan, saya kerap membaca novel Lupus. Sesekali juga saya melihat film seri Lupus. Saya masih ingat ketika itu tokoh Lupus yang tengil dan cuek dimainkan oleh Irgi Fahrezi. Anak sekolah seolah wajib menikmati kisah Lupus yang sangat sesuai dengan cerita anak sekolahan. Lupus merupakan akronim dari Lupa Urusan Sekolah, sehingga kisahnya bisa membuat saya ketika itu bisa melupakan sejenak urusan sekolah yang kadang membuat kening berkerut. Seperti Catatan Si Boy, banyak penggemar film Lupus yang ingin film ini diproduksi lagi.

Mungkin karena pengaruh kisah cowok cuek itu, saya ketika sekolah masih menyamakan kisah Lupus dengan penyakit Lupus. Namun ketika kuliah, saya baru tahu kalau penyakit Lupus itu sangat mematikan. Ada yang mengatakan penyakit Lupus itu setara dengan penyakit kanker. Pada perkembangan awalnya, penyakit Lupus menyebabkan kelainan kulit berupa warna kemerahan pada pipi dan hidung. Kemudian gejalanya menyebar sampai ke seluruh wajah, lengan, rambut, dan persendian. Sekarang, penyakit Lupus menjadi semakin ganas karena bisa menyerang semua organ tubuh.

Gejala-gejala penyakit Lupus yang biasa disebut Lupus Eritomatosus Sistemik ini yang paling mencolok adalah kulit yang mudah gosong karena sinar matahari. Pada pipi penderita Lupus juga terdapat ruam merah yang menyerupai bentuk kupu-kupu di kedua pipi yang biasa disebut butterfly rash. Kadang penyakit Lupus juga menimbulkan ruam merah berbentuk cakram yang menonjol dan kadang bersisik di seluruh tubuh. Gejala lain yang disebabkan penyakit Lupus ini adalah rontoknya rambut dan rasa lelah yang berlebihan.

Penyakit Lupus yang menyerang imunitas tubuh ini sekarang menyebar pada 1-5 orang dalam 100.000 penduduk. Penyakit genetik yang bisa diturunkan ini lebih rentan terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan perbandingan 6-10 perempuan dan 1 laki-laki. Karena penderita Lupus adalah perempuan, sepuluh pendaki perempuan yang tergabung dalam tim Equatorial Peaks for Lupus (E4L) melakukan ekspedisi ke dua puncak dunia untuk memberi dukungan pada para penderita Lupus. Tim E4L yang semua anggotanya perempuan berumur di atas 40 tahun itu berhasil mendaki Gunung Cayambe (5.790 mdpl) dan Gunung Cotopaxi (5.897 mdpl) di Ekuador.

Pendakian tim E4L ditujukan untuk membuktikan bahwa perempuan mempunyai daya juang dalam menghadapi kesulitan, khususnya dalam menghadapi penyakit Lupus. Para penderita Lupus diharapkan menjaga harapan untuk tetap menjalankan aktifitasnya. Pendakian tim E4L itu diadakan untuk menyambut Hari Lupus Sedunia yang jatuh besok, 10 Mei 2011. Setiap tahun, tim E4L memang melakukan pendakian untuk menyambut Hari Lupus Sedunia. Tahun ini, selain pendakian tim E4L, perayaan Hari Lupus Sedunia juga dimeriahkan dengan terbitnya buku tentang Lupus yang berjudul “Surat untuk Tuhan”.

Buku “Surat untuk Tuhan” yang berisi kisah nyata keluarga dan penderita Lupus diterbitkan hari Sabtu lalu. Pada acara malam renungan yang bertemakan “Knot The Spirit 4 Lupus People” itu, Damien Dematra mengatakan bahwa menulis bisa menjadi terapi ampuh bagi penderita Lupus. Novelis yang juga seorang sineas itu juga mengungkapkan beberapa kisah dalam buku “Surat untuk Tuhan” itu akan diangkat ke layar lebar akhir tahun ini. Dengan buku dan film tentang penyakit Lupus, masyarakat diharapkan mempunyai kesadaran dan toleransi kepada para penyandang penyakit Lupus.

Jika buku “Surat untuk Tuhan” nanti difilmkan, setidaknya ada dua film tentang Lupus. Yang satu, Lupus “Lupa Urusan Sekolah”. Satunya lagi, benar-benar film tentang penyakit Lupus. Coming Soon. 🙂

4478 Total Views 2 Views Today
40 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *