Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Lihat Skyscanner Dulu Sebelum Jalan-jalan Ke Bengkulu

Salah satu alasan saya berkunjung ke Kota Bengkulu adalah karena Bung Karno pernah diasingkan selama tiga tahun di sana. Saya penasaran ingin napak tilas jejak Bung Karno dan mulai merencanakan perjalanan ke Kota Bengkulu. Setelah menyiapkan mulai dari pertengahan tahun lalu, saya akhirnya bisa berkunjung ke Kota Bengkulu pada pertengahan bulan September 2013.

Merencanakan perjalanan itu selalu menyenangkan, serasa sudah keliling ke mana-mana meski cuma duduk di depan komputer. πŸ™‚ Selain mencari informasi tentang destinasi yang wajib dikunjungi, saya juga harus mencari info lengkap mengenai tiket pesawat, hotel, dan akomodasi selama di Kota Bengkulu. Mulai rajin deh buka-buka situs dan aplikasi Skyscanner.

Skyscanner Indonesia

Caranya gampang banget, tinggal ngisi data bandara asal, bandara tujuan, tanggal pergi/berangkat, jumlah penumpang, dan kelas penerbangan. Klik “Cari” dan daftar semua penerbangan akan ditampilkan, lengkap dengan perbandingan harganya. Hanya ada tiga maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta-Bengkulu yaitu Citilink, Lion Air, dan Sriwijaya Air.

Selain itu, aplikasi Skyscanner juga bisa digunakan untuk mencari hotel lho. Begitu klik pencarian hotel langsung muncul beberapa hotel yang ada di Kota Bengkulu seperti Hotel Santika Bengkulu, Dena Hotel, Seruni Guest House, Grage Horizon, Hotel Jodipati, Splash Hotel, dan Wedika Hotel. Dari aplikasi Skyscanner itu, saya bisa langsung booking tiket pesawat dan hotel.

Skyscanner Indonesia

Yang kerennya lagi, Skyscanner juga bisa digunakan untuk menyewa mobil di destinasi tujuan kita. Tinggal ketik bandara tujuan kita, nantinya mobil sewaan sudah akan tersedia begitu pesawat kamu landing di bandara. Masukkan tanggal pengambilan dan pengembaliannya lengkap dengan jam-jamnya. Aplikasi Skyscanner memang memudahkan para traveler.

Seperti “petunjuk” yang diberikan Skyscanner, saya memilih Citilink karena harga tiketnya lebih murah dibandingkan maskapai lain. Setelah sekitar satu jam perjalanan udara, akhirnya saya menginjakkan kaki di Bumi Raflesia. Dulu bandara itu bernama Bandara Padang Kemiling, namun pada tahun 2001 namanya diganti menjadi Bandara Fatmawati Soekarno.

Dari nama bandaranya saja, saya seolah diingatkan bahwa salah satu tonggak sejarah Bangsa Indonesia berasal dari kota ini. Fatmawati adalah putri seorang tokoh Muhammadiyah Bengkulu yang menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Soekarno adalah presiden pertama yang pernah diasingkan ke Kota Bengkulu oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Sebenarnya di bandara ada ojek, taksi, dan mobil sewaan, tapi karena saya sendirian maka saya memilih naik angkot saja. Jarak bandara menuju pusat kota Bengkulu hanya sekitar 10 kilometer. Di Kota Bengkulu, ada lima rute angkot yang hanya dibedakan dari warnanya, tidak ada tulisan rute sama sekali. Dari bandara, saya naik angkot warna putih menuju Pasar Panorama.

Ankot Kuning Bengkulu

Pasar Panorama ini menjadi pusat pertemuan kelima rute angkot yang ada. Saya pun melanjutkan perjalanan dengan naik angkot warna kuning menuju Kampung. Orang Bengkulu menyebut daerah ini Kampung, lengkapnya sih Kampung Cina, tapi lokasinya berada di tengah-tengah kota. Begitu sampai di Kampung Cina, perjalanan napak tilas Bung Karno pun dimulai.

Selama masa pengasingan di Bengkulu, tidak banyak orang yang tahu tentang apa yang dilakukan Bung Karno karena Belanda memang membatasi pergerakannya. Untungnya Alm Boerhan Wahid bin Thaib, warga Sepakat, Tanah Patah, Bengkulu, menyimpan catatan kecil tentang perjalanan Bung Karno selama di Bengkulu.Β Boerhan Wahid saat itu masih duduk di bangku Taman Siswa.

Kampung Cina Bengkulu

Boerhan Wahid mendapat cerita dari gurunya, Salmiah Pane, yang ternyata juga seorang tokoh pergerakan di Bengkulu ketika itu. Bung Karno dikabarkan menumpangΒ kapal Sloot Van Den Beele dari Ende, Flores, lalu menumpang bus dari Lubuk Linggau menuju Bengkulu.Β Dua tim dibentuk untuk menunggu di Pasar Pengantungan dan di Kampung Cina.

Setelah sarapan dan berkeliling di Kampung Cina, saya mengunjungi Benteng Marlborough yang letaknya berdekatan dengan Kampung Cina, hanya menyeberang jalan. Bahkan gerbang Kampung Cina bersebelahan dengan pintu masuk BentengΒ Marlborough. Tidak ada catatan sejarah yang memperlihatkan Bung Karno pernah masuk ke benteng buatan Inggris ini.

Bengkulu Wisata Skyscanner Seru

Setelah ditunggu-tunggu ternyata Bung Karno dan keluarganya turun di Pasar Pengantungan. Begitu turun dari bus, Bung Karno langsung bersalaman dengan Salmiah Pane dan Semaun Bakri, seorang tokoh Muhammadiyah Bengkulu. Selama dua minggu pertama, Bung Karno menginap di Hotel Centrum. Setelah itu, Bung Karno menyewa rumah di daerah Tanah Patah.

Tidak lama setelah itu, Bung Karno pindah ke rumah seorang Cina bernama Tan Eng Cian yang terletak di daerah Anggut Atas. Sepertinya Belanda ingin membatasi pergerakan Bung Karno karena rumah itu hanya berjarak sekitar 1,5 km dari Benteng Marlborough. Dari depan Tugu Thomas Parr, saya naik angkot warna kuning menuju rumah pengasingan Bung Karno itu.

Bengkulu Wisata Skyscanner Seru

Rumah pengasingan Bung Karno itu cukup mewah ketika itu, halamannya juga cukup luas. Atap rumahnya berbentuk limas dilengkapi dengan pintu depan dan jendela-jendela berdaun ganda. Meskipun rumahnya bagus, Bung Karno lebih senang keluar rumah dengan mengendarai sepeda Vongers kesayangannya. Sampai saat ini, sepeda itu masih terawat dengan baik.

Bung Karno berkeliling dengan sepeda untuk mendekatkan diri kepada orang Bengkulu. Suatu kali Bung Karno mengantarkan seorang nenek yang sakit berobat dengan sepedanya. Kisah itu menyentuh banyak orang Bengkulu dan mulai membuat Belanda gusar. Karena itulah, mulai saat itu Belanda melarang sepeda yang memiliki boncengan, kecuali untuk ke pasar.

Bengkulu Wisata Skyscanner Seru

Nama Bung Karno semakin terkenal karena aktif di sekolah-sekolah, kegiatan Muhammadiyah, dan perkumpulan sandiwara Monte Carlo. Setelah Bung Karno bergabung, perkumpulan sandiwara milik Manaf Sofyan ini semakin besar. Beberapa pegawai pemerintahan Belanda bahkan rela mengundurkan diri agar bisa menjadi anggota Monte Carlo. Belanda pun semakin geram.

Meskipun begitu perkumpulan sandiwara terus berjalan secara diam-diam, bahkan sampai ke daerah Curup. Nama Bung Karno pun sudah menyebar sampai ke daerah-daerah. Suatu hari pedagang dari Curup, Hassan Din, mendatangi rumah Bung Karno. Hassan Din datang bersama putrinya yang bernama Fatmawati dan setelah perjalan panjang akhirnya Fatmawati menjadi istri Bung Karno.

Bengkulu Wisata Skyscanner Seru

Rumah Fatmawati terletak tidak jauh dari rumah pengasingan Bung Karno. Di rumah itu, saya masih bisa menemukan mesin jahit yang dulu digunakan untuk menjahit Sang Saka Merah Putih. Setelah puas mengunjungi pengasingan Bung Karno dan rumah Fatmawati, saya memutuskan untuk check-in ke Hotel Grand Jitra yang letaknya dekat dengan Makam Inggris.

Rencana awalnya saya ingin menginap di Splash Hotel Bengkulu karena lokasinya yang sangat strategis. Sayangnya selalu full-booked, begitu juga dengan beberapa hotel bintang tiga lainnya, seperti Hotel Santika Bengkulu dan Hotel Grage Horizon. Keesokan harinya lewat di depan Splash Hotel Bengkulu yang berada di Jalan Sudirman, lokasinya memang sangat strategis.

Bengkulu Wisata Skyscanner Seru

Selain berada di jalan protokol, Splash Hotel Bengkulu ini berada di dekat Simpang Masjid Jamik Bengkulu. Kawasan simpang tiga ini merupakan pertemuan dari tiga jalan utama di pusat Kota Bengkulu yaitu Jl. Letjen Suprapto, Jl. MT. Haryono, dan Jl. Sudirman. Tepat di tengah simpang tiga itu, berdiri sebuah masjid bersejarah yang tidak lepas dari andil Bung Karno.

Awalnya masjid ini adalah sebuah surau yang didirikan Sentot Alibasyah, panglima perang Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Bengkulu. Makam Sentot Alibasyah juga tidak jauh dari Simpang Jamik itu. Ketika masyarakat ingin memperbaiki surau itu, Bung Karno membantu karena beliau juga seorang arsitek. Masjid Jamik tetap berdiri kokoh di pusat Kota Bengkulu.

Bengkulu Wisata Skyscanner Seru

Itulah beberapa peninggalan sejarah Bung Karno selama Kota Bengkulu. Oh ya satu lagi, konon dulu sebelum menikah, Bung Karno kerap mengajak Fatmawati untuk jalan-jalan ke Pantai Gading Cempaka. Entah kenapa, nama pantai itu kini diganti menjadi Pantai Panjang. Pantai itu memang cukup panjang karena membentang sejauh 5 km lebih.

Selain napak tilas sejarah Bung Karno di Kota Bengkulu, saya juga mengunjungi beberapa objek wisata lain yang tidak kalah menarik. Mungkin saja dulu Bung Karno pernah mengunjunginya, tapi tidak ada catatan sejarah yang merekamnya. Ada Pulau Tikus, Makam Karbela, Makam Inggris, Danau Dendam Tak Sudah, Pantai Teluk Sepang, hingga Tambang Batubara Tradisional.

Selain napak tilas sejarah Bung Karno, Kota Bengkulu juga punya banyak objek wisata menarik, kan? Kalau ada waktu jangan lupa jalan-jalan ke Bengkulu ya. Biar tambah seru, siapkan tiket pesawat, hotel, dan mobil sewaan kamu di Skyscanner dulu ya. Lihat Skyscanner dulu sebelum jalan-jalan ke Bengkulu.

124 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *