Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Liburan Itu Waktunya Untuk Memikirkan Orang Lain

Liburan bagi saya adalah waktunya untuk memikirkan orang lain. Jika sibuk bekerja, saya sepertinya lebih memikirkan diri saya sendiri. Malam jumat lalu, saya pergi ke sebuah event dengan naik busway Transjakarta. Seperti biasanya, berpergian di ibukota dengan busway menuntut banyak kesabaran. Bersabar untuk menikmati antrian panjang, bersabar untuk tidak mengeluh di tengah orang-orang yang mudah terpancing untuk mengeluh, dan banyak kesabaran lain yang perlu dipertahankan. Saya menyadari ribuan orang yang sedang mengantri di jalur busway mempunyai banyak kepentingan dan pemikiran. Ada yang santai menikmati jalanan Jakarta yang selalu macet dan ada pula yang stres karena terancam terlambat sampai tujuan.

Saya selalu memperhatikan perilaku seseorang yang berbuat “aneh” di dalam antrian maupun di atas busway. Ada penumpang busway yang sedikit-sedikit mengeluh karena harus mengantri berpuluh-puluh menit sementara busway yang ditunggu tak kunjung datang. Penumpang ini “ngedumel” sendiri, ada yang marah-marah sendiri, ada yang bertanya pada petugas di busway, dan yang paling berani adalah yang menelfon customer service busway. Menurut “penerawangan” saya, orang kelompok ini adalah orang yang tidak sabaran dan perbuatannya mungkin menjadi sia-sia. Karena menurut saya, “ngedumel’ atau menelfon customer care tidak akan bisa mendatangkan busway dengan segera. Diam dan sabar menunggu setidaknya tidak akan membuat orang lain tidak ikut terprovokasi untuk mengeluh berjamaah.

Antrian semacam itu juga ada di bank, di stasiun, di ATM, di restoran, di bioskop, dan di mana pun. Pernah suatu kali, saya sedang beradi dalam antrian yang panjang namun rapi. Saat antrian perlahan mulai bergerak, tapi tiba-tiba ada seseorang yang masuk barisan antrian itu tepat di depan saya. Saya diam saja sambil membayangkan Mbak-mbak tiba-tiba berubah wujud menjadi sebuah Kopaja yang bisa nyelip di tengah kemacetan Jakarta. Ketika saya sapa, “Mbak, antriannya dari belakang lho..”, Mbak-mbak ini diam saja. Sama seperti Kopaja, diklakson bahkan diteriaki juga akan menjadi makhluk “pendiam”. Untungnya saya tak perlu “berteriak” untuk mengembalikan Mbak-mbak itu kembali ke barisan paling belakang. Ketika Pak Satpam datang dan menertibkan Mbak-mbak itu, semuanya bisa kembali damai. Saya tak perlu emosi dan membuang energi saya.

Sejauh mana Anda memikirkan orang lain?

19 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *