Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Lahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Rindang

Sejak berinvestasi saham, saya mulai rajin membaca berita ekonomi, laporan keuangan, dan keterbukaan informasi yang perlu diketahui publik. Dari 500-an emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia saat ini, saya mencari beberapa emiten terbaik untuk masuk ke dalam portofolio saya. Tapi sebagai investor, kadang saya merasa bahwa membaca data-data emiten dari situs www.idx.co.id tidaklah cukup. Karena itu saya ingin sekali mengikuti rapat umum pemegang saham, investor gathering, atau kunjungan langsung ke kantor atau pabrik perusahaan publik.

Beruntung saya mendapatkan undangan untuk melihat langsung pabrik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) yang sudah melantai di bursa sejak tahun 1989. Sebagai emiten ke-33 yang melantai di bursa, dulu namanya masih Bursa Efek Jakarta, emiten berkode saham INTP ini merupakan salah satu saham terbaik. Sejak awal tahun hingga saat ini, saham INTP sudah naik 25 persen dari Rp 15.400 menjadi Rp 19.300 per lembar saham pada penutupan bursa hari Jumat lalu, 24 November 2017.

Selain potensi capital gain tersebut, investor juga meraih dividen dengan yield yang menggiurkan. Bulan Juni 2017, INTP membagikan dividen sebesar Rp 929 per lembar saham. Dengan harga saham pada saat cum date yaitu Rp 18.775, maka dividen yield INTP tahun 2017 adalah 4,95 persen. Itu artinya jika investor membeli saham pada penutupan bursa tanggal 30 Desember 2016 dan tetap meng-hold-nya, investor tersebut sudah memperoleh dividen sebesar 6,03 persen dan potensi capital gain sebesar 25 persen. Wow sekali bukan?

Lahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Rindang

Hari Rabu lalu, saya bersama teman-teman blogger lain berkunjung ke pabrik Indocement di Citeureup, Bogor. Sampai di Guest House Indocement, kami disambut Pigo Pramusakti (Corporate and Public Communications Manager Indocement) dan Aditya Punawarman (Corporate Social Responsibility Citeureup Department Indocement). Dalam briefing singkat, Pak Pigo mengatakan bahwa program CSR Indocement tidak hanya sekedar kegiatan filantropi dengan membagikan uang atau bantuan.

Indocement ingin memberikan sesuatu yang lebih dari itu melalui sejumlah program seperti Gerakan Tani Mandiri. Di tengah tantangan industri semen saat ini, Indocement berkomitmen untuk tetap melanjutkan program CSR tersebut. Dari Guest House, kami diajak berkeliling ke area pabrik Indocement dan dipandu oleh Bapak Jafar Arifiyanto. Di Citeureup, Indocement memiliki 10 pabrik, termasuk pabrik pertama yang sudah beroperasi sejak tahun 1985. Umur pabriknya sama dengan umur saya lho. Hehehe.

Lahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Rindang

Selain di Citeureup, Indocement juga punya 2 pabrik di Palimanan (Cirebon, Jawa Barat) dan 1 pabrik di Tarjun (Kotabaru, Kalimantan Selatan). Awalnya saya kira pabrik semen itu gersang, saat berkeliling lokasi pabrik saya melihat banyak pepohonan yang didominasi pohon jati. Jadi selama proses pembangunan pabrik, ada sekitar 4.000 pohon yang ditebang, tapi kemudian Indocement menanam kembali 14.000 batang pohon. Dengan mengganti pohon yang ditebang dan menambah 10.000 batang pohon, pabrik semen tersebut terlihat rindang.

Di tengah jalan saya melihat banyak sekali kupu-kupu berterbangan. Kupu-kupu merupakan indikator lingkungan yang masih asri karena tidak bisa hidup di kawasan yang tercemar polusi. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah kawasan bekas tambang yang ditanami sejumlah tanaman produktif seperti pepaya, mentimun, cabai, kacang tanah, jagung, jahe merah, dan masih banyak lagi. Melalui Program Gerakan Tani Mandiri (GTM), Indocement mengurangi pengangguran dan mencegah penambangan ilegal oleh warga.

Lahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Rindang

Program GTM sudah dimulai sejak Juli 2015 dan hingga saat ini sudah membantu 27 petani di Desa Leuwikaret. Indocement menyediakan lahan bekas tambang di Quarry D seluas 18,6 hektar namun baru digarap seluas 5 hektar. Selain itu Indocement juga memberikan pelatihan pertanian, membantu penjualan produk pertanian, serta menyediakan bibit, pupuk, dan peralatan pertanian lainnya. Petani yang bergabung dalam Program GTM kini memiliki omset dari Rp 500.000 sampai Rp 1.500.000 per bulan per orang.

Setelah kagum dengan para petani yang menghijaukan lahan bekas tambang dengan tanaman produktif, saya semakin takjub karena ternyata ada mata air di area pabrik Indocement. Mata Air Cikukulu terletak di Kawasan Quarry D, tepatnya di Desa Lulut, Kecamatan Citeureup. Air dari mata air tersebut memenuhi persyaratan kualitas air bersih sehingga bisa digunakan untuk 350 KK di Desa Leuwikaret dan Desa Lulut. Indocement melakukan uji kualitas air setiap enam bulan dan pencatatan ketinggian muka air setiap dua minggu.

Lahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Rindang

Indocement juga menetapkan kawasan konservasi Mata Air Cikukulu seluas 5 hektar sebagai zona larangan tambang. Indocement juga melakukan penghijauan di kawasan konservasi tersebut untuk menjaga kelestarian mata air. Dengan program konservasi tersebut, Mata Air Cikukulu tidak pernah kering meski musim kemarau di mana ketinggian muka air paling rendah 15 cm. Saat musim penghujan, ketinggian muka air bisa mencapai 40 cm. Setelah melihat sendiri Mata Air Cikukulu, saya menyangsikan pihak-pihak yang menyatakan bahwa pabrik semen akan membuat mata air kering.

Lokasi ketiga yang kami kunjungi adalah Kebun Tegal Panjang seluas 12 hektar. Sama-sama merupakan lahan bekas tambang, Kebun Tegal Panjang memiliki kontur tanah yang datar, tidak seperti lahan Program Gerakan Tani Mandiri yang miring. Berkeliling di Kebun Tegal Panjang tidak perlu takut panas karena di sepanjang jalan dilindungi kanopi hijau yang ditanami buah markisa. Indocement menggunakan Kebun Tegal Panjang ini sebagai laboratorium pertanian dan perkebunan. Kebun ini dikelola 10 orang petani, 2 orang tenaga pengawas, dan 8 orang petani kebun yang berasal dari mitra Indocement.

Lahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Rindang

Salah satu tanaman budidaya yang bernilai ekonomi tinggi adalah Pohon Cinta (Philodendron bininnatifidium) yang dibeli pengusaha bunga papan hias di Rawa Belong. Selain itu petani di Kebun Tegal Panjang juga menanam pepaya, pisang, andong, jahe merah, jarak pagar, kemiri sunan, maja, sengon, jati, dan mahoni. Sebagai investor, saya senang melihat langsung program CSR Indocement yang tetap melestarikan mata air, melakukan penghijauan, dan memberikan manfaat bagi warga sekitar pabrik.

 

131 Total Views 6 Views Today

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *