Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Jokowi Hubungkan Solo dan Wonogiri dengan Railbus Batara Kresna

Saya beberapa kali naik kereta api ekonomi Senja Bengawan jurusan Jakarta-Solo. Kereta ini berangkat dari stasiun Tanah Abang dan berhenti di Stasiun Jebres Solo, begitu juga sebaliknya. Dari beberapa obrolan di atas kereta api Senja Bengawan, saya tahu para penumpang kereta api Senja Bengawan ini kebanyakan adalah orang Klaten, Solo, dan Wonogiri. Bila berangkat dari Jakarta, kereta api Senja Bengawan akan menyusuri jalur selatan Jawa dan beberapa penumpang mulai turun di Stasiun Kutoarjo dan di Stasiun Lempuyangan Jogja. Setelah lepas dari Jogja, mulai banyak penumpang turun di beberapa stasiun di Klaten. Saya sendiri suka turun di Stasiun Ceper karena tinggal sekali lagi naik bus untuk sampai di kampung saya. Seluruh penumpang kemudian akan turun di stasiun terakhir, yaitu Stasiun Jebres Solo.

Jokowi Solo Railbus

Yang kerap menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana dengan penumpang-penumpang dari Wonogiri itu. Padahal kalau kereta api Bengawan sampai ke Wonogiri, para penumpang itu hanya perlu kira-kira waktu setengah jam lagi untuk sampai ke Wonogiri. Saya pikir para penumpang itu kemudian harus naik bus atau moda transportasi lain. Ternyata PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) menyediakan kereta api feeder (terusan) yang akan mengantarkan para penumpang kereta api Senja Bengawan langsung ke Wonogiri. Namun kereta api feeder Solo-Wonogiri yang berlokomotif kecil ini hanya menarik dua gerbong. Bukan karena sepi penumpang, kereta api yang selalu penuh sesak ini melewati jalur rel yang kecil sehingga tidak memungkinkan kereta berlokomotif besar lewat. Karena penumpang yang selalu penuh itu, PT. KAI kemudian mengkaji untuk menambah armada kereta api di jalur Solo-Wonogiri ini.

Gayung pun bersambut ketika walikota Solo, Jokowi, bertekad membenahi sistem transportasi di Kota Solo. Sebagai seorang pengusaha, Jokowi tahu benar pentingnya transportasi dalam usaha memperlancar perdagangan di Kota Solo. Jokowi kemudian berdiskusi dengan pakar-pakar transportasi seperti Unika Soegijapranata dan Djoko Setijowarno. Jokowi kemudian “menyulap” jalur lambat di sisi selatan Jalan Slamet Riyadi menjadi jalur khusus untuk pejalan kaki. Trotoar dari Mangkunegaraan sampai Jalan Slamet Riyadi juga diperlebar untuk memberikan fasilitas khusus untuk para pejalan kaki. Pengoperasian bus Trans-Batik Solo telah menciptakan ikon moda transportasi di Kota Solo. Meski Trans-Batik Solo terkesan meniru busway Transjakarta, namun Jokowi tidak mau mengikuti kesalahan Jakarta yang harus menderita kerugian 35 miliar rupiah per tahun karena kemacetan yang akut.

Jokowi juga “menyulap” kereta api tua buatan tahun 1896 menjadi kereta api wisata. Kereta tua yang dulunya sering disebut Kereta Klutuk ini sekarang menjadi salah satu ikon wisata Kota Solo. Jokowi menggunakan kembali kereta tua yang sebelumnya ditempatkan di Museum Kereta Api Ambarawa menjadi sebuah kereta api yang sekarang dinamakan kereta api wisata Jaladara. Tidak hanya menambah jumlah armada dan moda transportasi, namun Jokowi juga membangun area “traffic control” untuk mengendalikan kemacetan. Jokowi berpikir akan lebih baik menginvestasikan 21 miliar rupiah dalam lima tahun untuk membangun sistem transportasi ini daripada terancam kerugian karena kemacetan lalu lintas. Jokowi juga akan menerapkan teknologi “variable message sign” untuk mencegah terjadinya kemacetan.

Satu lagi yang mendapat sambutan hangat dari seluruh warga Kota Solo adalah peluncuran bus tingkat dengan atap terbuka. Bus wisata yang sebelumnya hanya bisa kita saksikan di Tokyo, Singapura, Madrid, dan kota-kota besar lainnya itu sekarang menjadi kebanggaan warga Kota Solo. Dengan investasi sebesar 1,7 miliar rupiah, Jokowi menginginkan para wisatawan lokal dan asing bisa berkeliling Kota Solo dan menikmati keunikannya hanya dengan duduk manis di atas bus tingkat ini. Meski baru satu bus tingkat wisata yang disetujui DPRD Kota Solo, bus tingkat wisata ini sudah menjadi pioner dan menjadikan Kota Solo sebagai kota pertama dengan fasilitas bus tingkat wisata di Indonesia. Sambutan yang hangat dari warga Kota Solo juga menjadi sebuah keunikan tersendiri. Pada bulan Februari 2011 lalu, ketika bus tingkat wisata ini pertama kali diperkenalkan ke publik, ribuan warga Kota Solo rela bertahan di tengah guyuran hujan untuk melihat bus tingkat itu.

Dalam kesempatan yang sama, Jokowi juga memperkenalkan moda tranportasi baru, yaitu railbus yang merupakan kombinasi antara bus dan kereta api. Ribuan warga Kota Solo yang berkumpul di Jalan Slamet Riyadi itu bersorak sorai ketika selubung putih yang menutupi Solo Railbus itu dibuka. Tidak hanya warga Kota Solo, warga Wonogiri juga turut bersuka cita karena Solo Railbus ini akan menghubungkan Solo dengan Wonogiri. Suka cita warga Wonogiri juga semakin bertambah karena pada hari ini, 26 Juli 2011, Menteri Perhubungan Freddy Numberi meresmikan pengoperasian Solo Railbus di Loji Gandrung. Impian warga Wonogiri untuk memiliki kereta api sekelas Prameks pun tercapai. Solo Railbus buatan PT. INKA (Industri Kereta Api) Madiun ini diberi nama Batara Kresna. Nama Batara Kresna diambil dari nama tokoh pewayangan yang berarti pemberi keadilan dan membahagiakan orang lain. Seperti harapan Jokowi, dengan adanya Solo Railbus ini diharapkan bisa menggerakkan perekonomian di wilayah Soloraya.

Solo Railbus Batara Kresna yang menghubungkan Solo dan Wonogiri merupakan terobosan terbaru Jokowi untuk Kota Solo. Tidak hanya bisa meningkatkan kegiatan ekonomi, Solo Railbus Batara Kresna juga bisa mengembangkan pariwisata di Wonogiri. Rasanya kapan-kapan saya ingin naik Solo Railbus Batara Kresna ini untuk jalan-jalan ke Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri.

36 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *