Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Jogja, Pada Suatu Pagi yang Hening

Sabtu pagi, 26 Mei 2012, kereta api Bogowonto yang saya naiki berhenti di Stasiun Tugu. Hari masih terlalu pagi waktu itu, sekitar pukul 04.00. Terlalu pagi untuk pulang ke Klaten dan lebih baik menyusuri Malioboro yang masih sepi, begitu pikir saya. Keluar stasiun, saya disambut oleh sopir taksi, ojek, dan tukang becak yang satu per satu menawarkan jasanya. Karena sudah berniat untuk mlaku-mlaku (jalan-jalan) di seputaran Malioboro, saya harus mengucapkan “Mboten Pak, Mboten Mas” beberapa kali sampai di depan Mall Malioboro.

Jogja Istimewa
“Jogja Istimewa” Fotografer : Gie Wahyudi

Itulah pertama kalinya saya menikmati suasana Jogja, khususnya Malioboro, pada pagi yang sehening itu. Tidak banyak yang bisa saya saksikan, selain para tukang becak dan tukang andong yang berbaris di pinggiran Jalan Malioboro. Hanya ada beberapa pedagang angkringan yang mulai “tutup warung”. Satu dua pesepeda motor mulai memecah keheningan di sepanjang jalan itu. Sesekali saya berpas-pasan dengan pejalan kaki yang pergi entah ke mana di pagi sehening itu. Seperti saya, yang waktu itu hanya ingin mlaku-mlaku selagi kaki masih mampu.

Jalan kaki sambil menikmati jalanan yang masih lengang itu sungguh mendatangkan kenyamanan tersendiri. Sampai akhirnya tak terasa saya sudah sampai di Prapatan Kantor Pos. Di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, beberapa anak muda duduk santai sambil gitaran, sepertinya mereka sudah beryanyi sepanjang malam di tempat itu. Karena kaki cukup lelah, saya duduk tidak jauh dari tempat mereka sambil menikmati gedung-gedung bersejarah di sekitar prapatan itu. Saya membayangkan Gedung Seni Sono yang kini sudah tidak ada, seharusnya gedung bersejarah itu berada tepat di seberang Kantor Pos.

Suasana Jogja yang tenang ternyata sangat rapi menyimpan kegundahannya. Sehari sebelum saya datang, Sri Sultan sebenarnya bertemu dengan Pak Presiden. Namun keduanya tidak ada yang memulai perbincangan tentang undang-undang keistimewaan Jogja. Pak Presiden enggan menawarkan pilihan dan Sri Sultan pun enggan dianggap meminta-minta. Sehari setelah pagi yang hening di Malioboro itu, Jogja kembali ke ingatan “lindu gedhe” enam tahun lalu. Ya, enam tahun lalu Jogja dan sekitarnya tiba-tiba porak poranda pada suatu pagi yang hening.

5562 Total Views 2 Views Today
38 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *