Awalnya saya kira Jepang cukup mampu menangani bencana gempa dan tsunami dahsyat 11 Maret 2011 lalu. Bagaimana tidak, gempa yang membuat ambles ruas jalan raya Kanto dan enam hari kemudian ruas jalan tersebut langsung diperbaiki. Hebatnya lagi, ruas jalan yang ambles itu bisa “disulap” menjadi jalan mulus lagi dalam hitungan enam hari. Saya tak berani memprediksi kecepatan yang kita miliki untuk membangun jalan seperti itu pasca bencana. Bisa enam bulan, bahkan bisa enam tahun. “Sudah-sudah, nanti diprotes sama orang PU,” kata tetangga sebelah saya.
Katanya, orang Jepang sudah terlatih untuk bangkit dari bencana besar. Bom atom Nagasaki dan Hiroshima sudah menguji betapa tabahnya orang Jepang. Setelah gempa dan tsunami kemarin, orang-orang Jepang saling menyemangati untuk mencari sanak saudaranya. Bahkan di dalam suasana pasca bencana, pemerintah Jepang langsung mengundang investor-investor besar untuk membangun kembali Jepang. Orang terkaya di Amerika, Warren Buffett, telah menunjukkan ketertarikannya untuk berinvestasi di Jepang. “Beda ya sama kita? Investor malah kabur kalau ada bencana,” komentar saya. Tetangga sebelah saya menimpal, “Kita??!!”
Namun prasangka baik saya terhadap penanganan bencana oleh pemerintah Jepang sedikit berubah kemarin siang. Kebetulan saya membaca Koran Jakarta di kantor saya kemarin dan mendapati sebuah foto di headline news yang begitu menarik perhatian saya. Di foto itu terlihat tiga orang pegawai Tokyo Electric Power Co (TEPCO) dengan seragam lengkap berwarna biru sedang membungkuk meminta maaf kepada para korban gempa dan tsunami di barak pengungsian.
Saya jadi teringat Yoshitsughu Nakaguchi, peneliti dari University of Kyoto yang bekerja sama dengan kampus saya. Mas Yoshi, begitu dia ingin dipanggil agar lebih akrab dengan saya, seringkali bertingkah “lebay” bila membuat kesalahan, walau saya tahu itu tidak sengaja. Misalnya ketika saya menunggu lebih dari satu jam di Minangkabau International Airport, padahal memang sudah biasa pesawat delay. Karena itu, Mas Yoshi meminta maaf sambil membungkuk. Saya malah jadi enggak enak sendiri, di sini itu kan sudah biasa.
Mari kembali ke pegawai-pegawai TEPCO yang berseragam biru tadi. Rupanya pegawai-pegawai TEPCO memang mendatangi barak-barak pengungsi untuk meminta maaf secara langsung kepada para korban karena telah terjadi kebocoran reaktor nuklir Fukushima. Tindakan permintaan maaf langsung kepada para korban itu dilakukan setelah direktur TEPCO, Akio Komori, meminta maaf kepada para korban melalui sebuah konferensi pers pada tanggal 18 Maret 2011.
Tepat seminggu setelah gempa dan tsunami besar itu, Akio Komori meminta maaf kepada seluruh masyarakat Jepang. Bahkan setelah konferensi pers tersebut Akio Komori terlihat berlinang air mata ketika meninggalkan ruangan konferensi pers. Bocornya reaktor nuklir Fukushima ternyata di luar perkiraan para pejabat TEPCO. Untuk itulah para pejabat TEPCO meminta maaf kepada para korban. Pejabat di Jepang ternyata punya rasa bersalah yang besar, beda sama yang di sini. “Siapa yang di sini,” tetangga sebelah bertanya dan saya membalas singkat, “Ada deh..”
Setelah menyadari seberapa serius ancaman bahaya radiasi, TEPCO kemudian mengirimkan 200 pasukan berani mati untuk mendinginkan reaktor nuklir yang telah meledak. Tim ini dibagi menjadi 4 kelompok dan masing-masing disebut The Fukushima Fifty. 200 orang ini benar-benar bertaruh nyawa, setiap saat reaktor nuklir masih bisa meledak. Selain itu, paparan radiasi yang mengenai mereka dipastikan akan menyebabkan penyakit-penyakit ganas 20-30 tahun lagi atau mugkin lebih cepat. Mereka berjuang agar radiasi tidak lepas ke atmosfer karena bila itu terjadi akan ada banyak korban.
Selamat berjuang, Jepang! Kami belajar dari Anda walau kami yang lebih dahulu menanggung bencana itu. #pilu



Widih, ngeri bener ya…
Semoga berhasil ke 200 orang menyelamatkan nyawa kita semua.
Pray for The Fukushima Fifty, please..
Hahahaha tetangganya kena radiasi nuklir yah mas? Kok begitu amat.
fast reading ya..
baca dong dari atas…
Iya tetangga ini memang hobi nyamber, karena radiasi kali..
(Maaf) izin mengamankan KETIGAX dulu. Boleh, kan?!
Semoga bisa lekas trerkendalikan sehingga tidak mengakibatkan bencana bagi manusia yang di lingkungan
Selamatkan lingkungan dari ancaman negatif teknologi ya, Mas?
ngeri ngeri.. ngeri..
tapi salut ama orang jepun sono, dia bertanggung jawab n sopan, serta tenang menghadapi masalah
Iya mari belajar dari saudara tua kita..
seberapa hebatnya Jepang, ternyata blum mampu memberikan antisipasi besar terhadap tsunami kepada pembangkit listrik tenaga nuklirnya.
Kebocoran ini bisa menyebabkan radiasi, walaupun katnaya tingkatnya kecil namun bisa memberikan efek bahaya luar biasa.
kadang saya juga heran, orang2 sepertinya menganggap kita terlalu lebay menanggapi kasus ini terlalu membesar2kan, namun kita tetap harus waspada.
Waspada memang kadang diartikan parno..
iya bro. radiasi ngak pengaruh sekarang. tapi entar yah kira kira puluhan tahun lagi bru deh pengaruh ke anak cucu mereka. wih. ngeri. tapi kok jepang kena radiasi nuklir juga pake pesang nagasaki hirosima, tapi sekarnag masi aja pinter pinter. berarti nuklir dulu malah buat pinter yah
Wah itu belum ada penelitiannya, Mas..
Radiasi mungkin mempengaruhi kecerdasan. *asumsi ngawur
sepertinya mereka bisa mengatasi masalah itu
mereka adalah bangsa yang tekun dan gigih
semoga ada penyelesaian terbaik
demi kebaikan semua manusia di bumi
sedj
Kita hanya bisa mendukung secara moril dan melalui doa,,
mudah2an jepang bisa mengatasi masalah nuklir ini…
Amin..
mudahan masalah nuklir Jepang ini cepat tertangani,,
berarti rasa tanggungjawab pengambil keputusan di jepang masih tetap diacungi jempol yaa.
Jempol untuk Jepang.
salut buat negara yang penuh disiplin dan kuat seperti jepang
Salut untuk Mbak Julie. Eh!
Semoga masalah Jepang cepat teratasi dan tidak menambah penderitaan rakyatnya..
tapi yakin dengan kedisiplinan dan semangat Jepang cepat bangkit..
We know you can, Japan!
kita harus belajar banyak dari jepang..
belajar bagaimana mereka mencintai negaranya,,,
bagaimana mereka menghadapi bencana,,,
dan bagaimana mereka tetap tabah dalam bencana….
salut sama 200 orang yang rela mati itu,,
kalau di indonesia..
kayaknya jarang dech ada yang mau kaya gitu..
Bukan jarang, tapi enggak ada kali..
Semoga warga Indonesia yang di jepang bisa selamat ya mas..
Amin..
Semoga pulang dengan selamat ya..
mengatasi masalah,
tanpa masalah.
*berasa ada yang ngemengin pegadaian
Eh, iklan itu, sini bayar..
yah di jepang kan sampai sekarang masih menganut harakiri …
mereka rela mati demi apapun… semoga masalah radiasi nuklir ini bs cepat teratasi. amiin
Kalau kita harakanan kali ya? Enggak mau mati..
Salute Fukushima Fifty!
bener bener Japanese Samurai ,,,
Mereka mengajukan diri walau mengetahui PASTI akan mendapatkan dosis radiasi mematikan …
Mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak – sebuah pengorbanan yang ‘indah’ bukan?
Indah bagi yang mengetahui..
Mengerikan bagi yang enggak tahu..
hhmmmm NUKLIR, positif dan negatifnya sama ternyata…..
Teori keseimbangan, Om..
Benar-benar luar biasa orang jepang. Mereka punya sopan santun dan tanggung jawab yang luar biasa. Kalo tetangga saya kalo ndak ‘wani piro’ lan ‘iso diatur’ g bakalan mau tandang gawe. Jepang tabahkan dirimu..
Semoga mereka tabah dan terus berjuang,,
Wahh.. rupanya ada juga ni yg ngebahas tentang reaksi nuklir di Jepang akibat Tsunami..
Ane mau copy paste sedikit email dari kolega perusahaan ane yg nota benenya adalah warga Jepang:
Dear *****,
Thank you for your message.
I’am safe. The radiation leak from the nuclear power station is another bid danger now.
We hope nothing more serious happens.
Regards,
Taka*** ***jita
Walaupun history nya Jepang pernah menjajah negeri kita tercinta, tapi kita harus tetap menunjukkan solidaritas kepada mereka sebagai wujud citra bangsa.
Thanks bro, uda dikasi numpang tenarr.. ehehe
Semoga lekas tenar ya, Bro!
PPI Jepang telah memberikan siaran pers nya(vide: http://www.facebook.com/login/setashome.php?ref=genlogin#!/notes/fithra-faisal-hastiadi/siaran-pers-ppi-jepang/10150120747727280).
Teman anak saya (suami isteri dan putranya) sekarang di Tokyo dan tenang-tenang aja, teman saya juga sedang menghadiri wisuda S3 putranya di Tokyo.
Anak saya juga sedang kuliah di sana, semoga semuanya segera makin membaik.
Semoga semua aman dan selamat ya..
harusnya bangsa indonesia bisa belajar dari jepang yang tahan banting terhadap bencana alam dan smoga krisis nuklirnya cepat berlalu.
Badai nuklir pasti berlalu..
terima kasih atas kunjungan ms giewahyudi salam kenal dan sukses selalu dari nu setendo Banyuwangi
Masama..
huhu ternyata ancaman bencana itu masih ada ya bahkan lebih hebat dr tsunami..tapi benar sekali. saya salut dengan masyarakat jepang beda dengan di kita? hah..kita? hehe
Kita? Saya aja kali..
salam kenal.
*salaman*
terlepas dari ancaman bencana nuklir saat ini, tp saya tetep salut dengan “kesiapan” Jepang (baik pemerintah & masyarakatnya) terhadap bencana alam, terutama gempa bumi.
untuk ancaman radiasi nuklir tsb, ya saya berharap semoga kondisi di sana tidak memburuk. amin…
Tetapi waspada adalah jalan yang baik..
Jadi ikutan mau nangis
Semoga Jepang bisa pulih kembali & masalah radiasi nuklir ini tidak sampai memakan korban lagi.
Btw, yang di sini siapa ya? Kayak kenal deh.
Hhehehee..
*kenalan dulu yuk..
Jepang memang hebat, berani mengaku salah dan meminta maaf ketika salah. Minta maafnya secara langsung lagi. Pejabat di Indonesia harus meniru Jepang.
Mari berharap agar Jepang mampu bangkit dengan lebih cepat.
Jangan berharap terlalu banyak pada pejabat kita..
takut juga
sekuat-kuatnya Jepang masih miris juga
Lebih miris yang di sini lho..
Pray for Japan
semoga Tuhan melindungi kalian semua… Amin…
Ayo Jepang… tunjukkan kehebatanmu…
Amin..
IND4JPN!
iya sy sangat salut dg pejabat yg meminta maaf itu
tak seperti pernyataan serang ketua DPR di negeri para bedebah; “Itu resiko hidup di pesisir…”
itu pejabat negera bedebah bener2 baji****.
tp meskipun demikian, sy tetap selalu mendukung PLTN hadir di indonesia !!!!!
Mohon berkata santun ya, Mas..
Hati boleh panas hati tetap dingin..
tak seperti pernyataan serang ketua DPR di negeri para bedebah; “Itu resiko hidup di pesisir…”