Jakarta dalam Karikatur
Hari ini saya membaca koran Kompas cetak dan mendapatkan gambar karikatur yang saya kutip di sini. Dalam karikatur ini, Jakarta tergambarkan sebagai orang yang dipasung dengan beberapa hal negatif yang membelenggunya. Karikatur itu memang benar adanya karena hampir setiap hari di koran-koran selalu ada berita tentang narkoba, pemerkosaan, perampokan, kekerasan, tawuran, dan hal-hal negatif lainnya. Selain itu, Jakarta sudah terbelenggu dengan dua hal yang seakan sudah ditakdirkan untuk berpasangan, yaitu kemacetan dan polusi. Sebenarnya karikatur ini belum memuat semua hal yang membelenggu Jakarta. Banjir, kecelakaan transportasi, dan masalah-masalah sosial lainnya belum terungkap dalam karikatur ini.

Ilustrasi dari Kompas Cetak (Jakartaria-Jitet)
Banyak orang menghakimi Jakarta sebagai sumber dari segala permasalahan. Namun hanya sedikit orang yang menyadari bahwa semua permasalahan itu juga dihadapi di kota-kota lainnya. Bahaya narkoba, pemerkosaan, perampokan, kekerasan, dan tawuran tidak hanya ada di Jakarta, namun juga sudah terjadi di mana-mana. Macet dan polusi pun juga sudah menyebar ke kota-kota lain. Kita sebenarnya bisa memperbaiki ini semua asalkan kita mau berniat baik dan juga berperilaku baik. Kalau ada yang berniat buruk dan berperilaku buruk, bukan tidak mungkin kota-kota lain bisa digambarkan seperti Jakarta yang tercermin pada karikatur ini.
23 Responses to Jakarta dalam Karikatur
Leave a Reply Cancel reply
Recent Comments
- giewahyudi on Iseng Boleh, Risiko Tanggung Sendiri
- giewahyudi on Nonton Sandhy Sondoro dan Millane Fernandez di Rolling Stone Cafe
- YSalma on Hubungan Tanpa Status atau Status Tanpa Hubungan?
- Hanif Mahaldi on Hubungan Tanpa Status atau Status Tanpa Hubungan?
- seno on 4 SMA Termahal di Indonesia
- isnuansa on Hubungan Tanpa Status atau Status Tanpa Hubungan?
- nique on Mencicipi Sop Ayam Pak Min Klaten di Jakarta Barat
- Cahya on Hubungan Tanpa Status atau Status Tanpa Hubungan?
- indrijuwono on Hubungan Tanpa Status atau Status Tanpa Hubungan?
Recent Posts
- Hubungan Tanpa Status atau Status Tanpa Hubungan?
- Iseng Boleh, Risiko Tanggung Sendiri
- Kacang Pukul Bagansiapiapi dan Enthing-enthing Gepuk Salatiga
- Mencicipi Sop Ayam Pak Min Klaten di Jakarta Barat
- Kompetisi MotoGP Pengaruhi Penjualan Sepeda Motor
- Nonton Sandhy Sondoro dan Millane Fernandez di Rolling Stone Cafe
- Menikmati “Perjalanan ke Atap Dunia” dengan Daniel Mahendra
- USG 4D Dedek Bayi Hasilnya Sungsang
- Nonton Ki Warseno Slenk di HUT Bank DKI Jakarta
Archives
- May 2012 (5)
- April 2012 (13)
- March 2012 (13)
- February 2012 (22)
- January 2012 (22)
- December 2011 (17)
- November 2011 (12)
- October 2011 (21)
- September 2011 (21)
- August 2011 (29)
- July 2011 (31)
- June 2011 (30)
- May 2011 (31)
- April 2011 (30)
- March 2011 (26)
- February 2011 (30)
- January 2011 (31)
- December 2010 (9)
- November 2010 (8)
- October 2010 (4)





jakarta memang sudah terlalu sarat dengan beban masalah sosial, mas gie, sehingga menjadi demikian rawan terhadp berbagai perilaku kejahatan. karikatur jitet, sebagai sebuah seni, tentu bisa ditafsirkan dari banyak sisi.
Iya, Pak..
Saya mencoba mengartikan karikatur jitet ini dan semoga tidak salah arti..
Baru sadar kalau yang bersedih itu puncak emas di Monas. Siapapun pembuatnya, karikatur itu sangat bangus dengan beberapa kata disampingnya. Dan memang itulah Jakarta saat ini
Saleum,
Kehidupan dijakarta memang sangat keras,rawan kejahatan. Mungkin faktor Ibukota negara sehingga semuanya terousat disana.
Iya, hampir di semua kota permasalahannya sama kok. Tapi mungkin beda kasus saja..
iyaaa,, gak cuma jakarta aja kok.. Tapi kota lain masih bisa ‘ditolong’ kan yak..
Sepatunya kok persis milik Pak Beye
kasian ya monasnya dipasung,,itu lahhh para pejabat negara kita
Bukan cuma pejabat, kita semua terpasung seperti itu.
lama-lama jdi kota mati, atau sebelummnya kota yang banyak kejahatannya…
wah serem kalau jadi kota mati, kita enggak bisa mencari penghidupan di kota ini dong.
Harus ada tindakan dari masyarakatnya juga untuk mengatasi berbagai problematika sosial yang ada, karena kalau dilihat sekilas dari pandangan saya, koq rasa-rasanya masyarakat selalu saja menuntut pemerintah yang harusnya bertindak? Bukannya masyarakat juga harusnya bertindak mengatasi permasalahan yang ada? Mungkin bisa dimulai dari lingkungannya sendiri dulu
Narkoba, banjir, kekeringan dan lainnya, bukan hanya masalah Jakarta, tetapi hampir semua kota di Indonesia. Kata hampir digunakan hanya untuk menyamarkan untuk tidak mengatakan semua kota di Indonesia. Bahkan dipedalaman, saya pernah menulis ini diblog.
Iya, Mas..
Setiap kota memang punya masalah yang hampir sama.
i dont want to be the produck of jakarta :p eeeeh
Ya, untuk mengatasi itu semua, semua yang terlibat juga harus bertindak aktif dan turut serta dalam proses perbaikan itu. Kebanyakan kan masyarakatnya hanya menuntut pemerintah untuk ini itu, tapi sebagian dari mereka (masyarakat) sendiri justru tetap “nggak berubah” untuk ikutan memperbaiki kota. Misalnya aja: tetap menyetir dengan ugal-ugalan dan tidak memperhatikan rambu lalu lintas, membuang sampah sembarangan, dsb.
Perubahan besar memang selalu dimulai dari yang kecil-kecil, Mas..
hmmm, memang sbagian orang sering terlalu mnghakimi ya.. pdhal smua tergantung pada manusia2 penghuni kota masing2,, hehe…
Iya, menghakimi saja sebenarnya enggak boleh, ini kok menghakimi berdasarkan kotanya.
memang paling gampang menghakimi.. tapi harus sadar kalau nunjuk itu jari empat lainnya menghadap kita loh…
Komentar di atas ditulis orang Jakarta.
alhamdulillah mas cukup sudah 3 tahun lebih sy hidup di jakarta xixi sungguh hiruk pikuknya membuat saya langsung meminang gadis kampung sendiri dan hidup damai kini disini..di kota cirebon
Tinggal nai Cirex juga nyampai Jakarta, Mas..