Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Hantu, Hutan, dan Tuhan

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa tahun ini telah ditetapkan oleh PBB sebagai Tahun Hutan Internasional. Mungkin sudah banyak yang menyadari bahwa hutan adalah paru-paru dunia dan sumber keragaman hayati terbesar. Dan mungkin akan semakin banyak yang menyadari bahwa dengan menyelamatkan hutan berarti juga menyelamatkan manusia dari kemiskinan dan menekan laju perubahan iklim.

Seandainya kita memiliki komitmen yang kuat dalam pengelolaan hutan, masyarakat Indonesia akan makmur dan sejahtera. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah kebalikannya. Kerusakan hutan semakin tidak terkendali, kerugian dalam bidang ekologi tidak terelakkan, kerugian keuangan negara karena praktek illegal-logging semakin menjadi-jadi, kesejahteraan tidak dapat dinikmati, dan bencana-bencana pun datang silih berganti.

Kerusakan hutan di Indonesia sudah mencapai angka lebih dari 26 juta hektar dari 180 juta hektar total luas hutan Indonesia. Kementerian Kehutanan memperkirakan jumlah lahan hutan yang rusak di seluruh Indonesia mencapai 1,8 juta hektar per tahun. Laporan Green Peace menyatakan bahwa kerusakan hutan di Indonesia adalah kerusakan hutan tertinggi di dunia. Bahkan konon kerusakan hutan di Indonesia tercatat dalam Guinnes Book of World Records sebagai “negara dengan kerusakan hutan tercepat”.

Kerusakan hutan kita terutama disebabkan dominasi kepentingan ekonomi di atas kepentingan ekologi, aparat pemerintah yang tidak tegas dalam penegakan hukum, dan sikap manusia yang merasa mempunyai kekuasaan atas hutan. Dalam pengelolaan hutan, kepentingan ekonomi sangat jauh lebih dominan dibandingkan dengan kepentingan ekologi. Perekonomian global dan pasar bebas mendorong Indonesia mencari komposisi sumber daya alam yang paling optimal. Hutan selalu menjadi alat untuk mencapai tujuan itu.

Negara dengan kemampuan teknologi yang rendah, seperti Indonesia, cenderung menumpukkan industrinya pada bidang sumber daya alam. Pemerintah kita juga terpaksa mengeksploitasi hutan secara berlebihan untuk membayar hutang luar negeri. Menurut kajian beberapa lembaga swadaya masyarakat, sekitar 70 persen kebutuhan kayu dalam negeri dipasok dari penebangan liar. Industri berbasis kayu juga menyumbang 6,1 miliar sampai 9 miliar dolar AS dalam total ekspor Indonesia dan menempati urutan ketiga komoditi ekspor non-migas sebagai sumber devisa.

Lemahnya penegakan hukum turut memperparah kerusakan hutan kita. Penegakan hukum hanya menjangkau para pelaku di lapangan. Mereka hanya orang suruhan dan orang yang paling bertanggung jawab masih belum tersentuh oleh jerat hukum. Mereka mempunyai modal yang besar dan memiliki jaringan kepada penguasa (kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan) sehingga penegakan hukum menjadi sangat lemah. Bobroknya mental manusia turut memperparah kerusakan hutan. Manusia menganggap dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan merasa berkuasa atas hutan.

Pemikiran antroposentris seperti ini menjadikan keputusan dan tindakan manusia sering didominasi untuk kepentingan manusia saja, serta hanya memikirkan kepentingan di masa sekarang dan mengabaikan kepentingan di masa yang akan datang. Akhirnya hutan dimanfaatkan dengan sesuka hati. Masyarakat dengan seenaknya membuka hutan untuk lahan pertanian. Pengusaha menjadikan hutan sebagai hutan perkebunan dan pertambangan tanpa memiliki pertimbangan akan kerusakan hutan yang mungkin terjadi.

Menurut Hegel, agama adalah sumber keterasingan manusia dari alam. Keterasingan manusia dari alam ini terjadi karena manusia memahami Tuhan sebagai Tuhan yang mengatasi dunia secara terbatas dan terpisah dari kehidupan manusia di bumi. Dalam pemahaman seperti ini, manusia tidak menemukan Tuhan di alam. Sehingga manusia menganggap alam sebagai obyek yang menakutkan dan berbahaya bagi manusia. Manusia telah menganggap alam sebagai hantu yang harus ditakuti.

Manusia terombang-ambing dalam menghadapi alam di antara rasa takut dan keinginan menguasai alam. Ketakutan manusia terhadap alam diterjemahkan menjadi keinginan manusia untuk menguasai alam. Namun manusia tidak lagi mengasihi alam dan semangat untuk menjaga alam telah punah. Alam dikelola dengan dasar kekuasaan dan sebagai bukti kekuatan manusia dalam menakhlukkan alam. Alam dikuasai dan ditakhlukkan yang akhirnya akan menimbulkan kerusakan alam.

Hassan Hanafi dalam karyanya “Religion, Ideology, and Developmentalism” memperkenalkan sebuah teologi untuk memperlakukan bumi. Menurut Hanafi, bumi yang diciptakan Tuhan harus dikelola manusia secara baik dan benar. Tidak ada satupun manusia yang sesungguhnya mempunyai hak untuk mengklaim memiliki barang sejengkal pun terhadap bumi, karena bumi ini adalah milik Tuhan. Hutan diciptakan Tuhan bukan hanya untuk kepentingan manusia, tetapi juga untuk flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Sayangnya, kerusakan hutan kita telah menyebabkan punahnya satu spesies dan hilangnya 70 persen habitat alami dalam satu dekade terakhir.

Indonesia sebagai negara beragama seharusnya menjaga kelestarian hutan, namun kenyataannya kerusakan hutan Indonesia semakin parah. Seringnya bencana banjir dan tanah longsor menunjukkan kerusakan hutan kita sudah cukup mengkhawatirkan. Karena pentingnya peranan hutan dalam menjaga keseimbangan hidup, maka sudah seharusnya kelestarian hutan dijaga sebaik mungkin. Ketidaktanggapan dalam menjaga kelestarian hutan menunjukkan tidak adanya kesadaran teologis, karena pola hidup manusia yang kurang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan sangat tidak menunjukkan rasa syukur manusia atas anugerah yang dikaruniakan Tuhan.

Agama mengajarkan untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia agar bisa menjadi khalifah di muka bumi. Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa paling tidak istilah “khalifah” mempunyai dua pengertian. Pertama, khalifah diperuntukkan bagi siapapun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah. Kedua, khalifah juga berpotensi melakukan kesalahan.

Maka manusia memerlukan petunjuk untuk mengelola wilayah untuk menghindari kesalahan.Manusia ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi karena manusia diciptakan dengan beberapa kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Manusia dibekali dengan akal dan nafsu untuk bisa berfikir, berkreasi, serta mempunyai keinginan untuk memenuhi hasrat egonya.

Tetapi manusia juga mempunyai kelemahan karena pada dasarnya manusia adala “tempat salah dan lupa”. Hal inilah yang dapat menjerumuskan manusia untuk melakukan kesalahan. Oleh karena itu, Tuhan menurunkan petunjuk yang menjelaskan perbuatan baik dan perbuatan buruk kepada manusia. Selanjutnya manusia memiliki kebebasan untuk memilih perbuatan yang akan dilakukannya.

Sehingga di sinilah etika religius begitu diperlukan. Etika religius menempatkan kekhalifahan manusia di muka bumi sebagai sarana bagi manusia untuk menjadikan kekhalifahannya tersebut sebagai saran untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam permasalahan kerusakan hutan kita yang menjadi begitu kompleks, kita perlu mengingatkan kembali bahwa masalah ini bukan hanya mencakup perilaku manusia dan hutan.

Masalah ini harus dilihat dalam konsep trilogi kehidupan yaitu ; manusia, alam, dan Tuhan. Tuhan menciptakan hutan untuk kelangsungan hidup manusia dan manusia sebagai khalifah di muka bumi harus menjaga kelestarian hutan demi mengemban tugas kekhalifahannya sekaligus menjadikannya sebagai salah satu sarana ibadah kepada Tuhan. Tentu kita yang tak mau menjadi hantu bagi hutan dengan mengabaikan Tuhan.

7359 Total Views 2 Views Today
36 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *