Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Geliat Industri Cokelat Indonesia

Saat ini Indonesia menjadi negara penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana. Indonesia bisa memproduksi 600.000 ton biji kakao per tahun, di mana 70 persen dari angka produksi itu diekspor dalam bentuk biji kakao mentah. Hanya 30 persen dari angka produksi itu digunakan dalam industri kakao dalam negeri. Cokelat menjadi salah satu hasil olahan kakao yang paling terkenal, konsumsi cokelat di Indonesia pun mulai meningkat menjadi 0,2 kilogram per tahun.

Untuk itulah, para pengusaha mulai membangun industri kakao dan cokelat dalam negeri. Sebelumnya banyak pihak asing menilai buruknya kualitas biji kakao dari Indonesia. Sehingga pemerintah memasukkan biji kakao sebagai barang ekspor yang dikenakan bea keluar. Kebijakan itu perlahan berdampak pada meningkatnya kualitas kakao mentah dan juga kakao olahan Indonesia. Hal ini diakui oleh pengusaha cokelat asal Belgia, Thierry Detournay, yang mengembangkan bisnis cokelatnya di Indonesia.

Thierry Detournay berusaha memperbaiki citra kualitas cokelat Indonesia melalui merek Cokelat Monggo yang sudah dirintisnya sejak tahun 2003. Cokelat Monggo tampil dengan karakter lokal yang kuat. Unsur “ndeso” justru dikedepankan, misalnya dari model iklan yang digunakan. Bukannya menggunakan model cantik, Cokelat Monggo tampil dengan sepasang kakek-nenek asal Bantul yang sedang tertawa lebar sambil memegang sebatang Cokelat Monggo. Tidak hanya menggunakan bahan baku, merek dan model iklan lokal, cokelat Monggo juga memiliki variasi citarasa lokal, seperti cabai dan jahe.

Dengan berbekal ke“ndeso”annya itu, Cokelat Monggo menjadi merek cokelat ternama di Indonesia. Pabrik Cokelat Monggo di Kotagede, Yogyakarta, kini memperkerjakan 50 pegawai dan bisa memproduksi 750.000 batang cokelat per bulan. Karena kualitasnya, kini Cokelat Monggo sudah beredar di minimarket Circle-K dan supermarket Kemchick dan Food Hall di Jakarta. Berkat kesuksesan Cokelat Monggo itu pula, Thierry Detournay mendapatkan gelar “Willy Wonka versi Indonesia”.

Berkat kesuksesan Cokelat Monggo, industri cokelat lokal mulai menggeliat. Masih di Kota Jogja, pada tahun 2010 Cokelat Roso mencoba mengikuti kesuksesan Cokelat Monggo. Cokelat Roso tampil dengan variasi cokelat yang “nyeleneh”, mulai dari rasa jamu sampai rasa cabai. Cokelat rasa jamu memiliki beberapa varian, antara lain beras kencur, kunyit, dan gula asam. Sebelum dicampur dengan cokelat, jamu terlebih dahulu diekstraksi menjadi bentuk bubuk.

Di Garut, cokelat dikombinasikan dengan dodol yang sudah menjadi makanan khas daerah setempat. Sejak tahun 2009, Kiki Gumelar mulai mempopulerkan cokelat-dodol ini dengan merek Chocodot. Selain mengkombinasikan cokelat dengan dodol, Chocodot juga memiliki beberapa variasi campuran cokelat, antara lain dengan aneka biji kopi nusantara, kurma, rengginang, abon daging, dan bahkan abon ikan. Uniknya lagi, ada beberapa nama cokelat unik di bungkus Chocodot ini, misanya Cokelat Gawat Darurat, Cokelat Anti Galau, dan Cokelat Sesuwatu Banged.

Kalau Anda cinta produk asli Indonesia, Anda tentu sudah tahu merek cokelat apa yang akan Anda beli, bukan? 🙂

5451 Total Views 2 Views Today
39 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *