Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Festival Jurnalisme Warga “Kencangkan Suaramu”

Ingatan saya kembali ke masa kecil ketika menghadiri Festival Jurnalisme Warga “Kencangkan Suaramu” hari ini. Di Ruang Kaca Museum Nasional, lokasi pelaksanaan festival itu, terdapat instalasi seni berupa bekas kaleng-kaleng susu yang dihubungkan dengan benang. Seperti itulah permainan telfon-telfonan saya dulu. Dalam festival ini, “permainan bekas kaleng susu” ini digunakan untuk mengambarkan jurnalisme warga (citizen journalism). Jurnalisme warga memang sesederhana permainan kaleng susu itu. Tidak perlu harus menjadi wartawan, setiap orang bisa menghasilkan berita yang didasarkan pada fakta yang terjadi.

Festival Jurnalisme Warga Kencangkan Suaramu

Acara seminar dan workshop jurnalisme warga menghadirkan dua praktisi jurnalisme warga, yaitu Hari Suryadi dan Gunawan Wicaksono. Hari Suryadi yang pernah menjadi jurnalis di beberapa media nasional kini sedang mengembangkan jurnalisme warga di Kalimantan Barat. Hanya dengan mengirimkan pesan singkat, warga bisa menghasilkan berita, tentunya dengan bantuan beberapa editor. Meskipun mudah menghasilkan berita, Hari Suryadi menekankan bahwa pewarta warga harus bisa membedakan antara fakta dan opini. Pewarta warga harus bisa menghindari opini dalam tulisan-tulisannya.

Herman Wicaksono menceritakan jurnalisme warga melalui foto-fotonya. Herman Wicaksonomenampilkan foto-foto yang menarik namun tak banyak yang bisa menjepretnya. Salah satu tipsnya adalah selalu menyiapkan kamera karena momen-momen penting kadang hanya terjadi dalam hitungan detik. Misalnya, Mas Gunawan melihat beberapa anak punk yang memberhentikan satu truk. Dalam beberapa detik saja, Mas Gunawan langsung membidik aksi anak-anak punk itu dengan kamera yang selalu tergantung di lehernya. Sebagai pewarta foto, kamera memang sebaiknya selalu stand-by untuk mengabadikan momen-momen yang tak terduga.

Festival Jurnalisme Warga Kencangkan Suaramu

Rangkaian acara festival jurnalisme warga kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan dari beberapa tokoh di balik festival jurnalisme warga. Mereka adalah Vivi Alatas dari Bank Dunia, Mardiyah Chamim (Tempo Institute) dan Wanda Hamidah dari DPRD DKI. Ketiganya menyoroti pentingnya jurnalisme warga untuk mengimbangi media mainstream yang kebanyakan sudah dikuasai oleh “raja-raja media”. Mbak Mardiyah selaku premakarsa festival jurnalisme warga ini mengucapkan terima kasih atas antusiasme para peserta. Kelak festival jurnalisme warga ini akan diadakan di luar Jakarta dan juga di luar Pulau Jawa.

Setelah makan siang, para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu praktek lapangan menulis dan praktek lapangan memotret. Para peserta ditantang untuk menghasilkan berita tulisan atau berita foto tentang apa saja, bisa tentang acara festival jurnalisme warga itu dan juga bisa segala yang ada di sekitar Museum Nasional. Saya sendiri memilih praktek lapangan memotret karenan saya ingin foto saya nanti dievaluasi oleh para jurnalis foto profesional, yaitu antara lain Gunawan Wicaksono, Amston, dan Bekti. Setelah berburu foto sekitar dua jam di sekitar Museum Nasional, foto saya mendapatkan kritik yang cukup banyak dari para evaluator.

Jika Anda ingin berpartisipasi dalam Festival Jurnalisme Warga “Kencangkan Suaramu” ini, Anda belum terlambat. Festival ini masih akan berlanjut sampai hari Minggu, 15 April 2012. Istimewanya lagi, di hari kedua dan terakhir ini Ndoro Kakung dan Efek Rumah Kaca akan menjadi suguhan istimewa bagi para peserta festival ini. Ayo siap-siap ke Museum Nasional!

5124 Total Views 2 Views Today
28 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *