Empat Atlet Difabel Indonesia di London Paralympic 2012

Prestasi-prestasi yang diciptakan kaum difabel selalu membuat saya terkagum. Tahun lalu, atlet-atlet tunagrahita Indonesia tampil gemilang dengan memperoleh 15 medali emas Special Olympics World Summer Games 2011 di Athena, Yunani. Pada tahun yang sama, Indonesia juga tampil mengesankan dengan menjadi runner-up pada ajang Solo ASEAN Paragames 2011 dengan perolehan 113 medali emas. Pada ajang Paralympic London 2012 yang akan digelar dari 29 Agustus 2012 sampai 9 September 2012, Indonesia mengirimkan empat atlet difabel terbaiknya. Mereka adalah Ni Nengah Widiasih (atlet angkat berat kelas 40 kg), Dian David Michael Yakob (atlet tenis meja kelas 10), Setyo Budi Hartanto (atlet atletik kelas F 46), dan Agus Ngaimin (atlet renang kelas S6).

Mari kita kenal satu per satu atlet difabel terbaik kita saat ini.

London Paralympic 2012

1. Agus Ngaimin

Agus Ngaimin adalah atlet renang difabel yang lahir pada 17 Agustus 1984 di Cilacap, Jawa Tengah. Agus Ngaimin terserang folio ketika masih berumur dua tahun yang membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah. Namun kenyataan itu tak membuat Agus Ngaimin menyerah begitu saja. Merasa memiliki bakat dalam olahraga renang, Agus Ngaimin lalu mencari informasi bagaimana agar bisa menjadi perenang profesional. Setelah melalui perjuangan hebat, akhirnya Agus Ngaimin berhasil mewakili Jawa Tengah pada Porcanas 2004 di Palembang. Tak hanya itu, Agus Ngaimin juga berhasil mempersembahkan medali emas untuk kontingen Jawa Tengah. Uang bonus yang didapatkannya dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup dan juga untuk meningkatkan kemampuan renangnya.

Setelah bersinar di tingkat nasional, Agus Ngaimin mulai mengukir prestasi internasional. Agus Ngaimin berhasil meraih medali emas FESPIC Games 2006 di Kuala Lumpur dan medali perak ASIAN Paragames 2010 di Guangzhou. Di “kandang” sendiri, Agus Ngaimin menunjukkan kehebatannya dengan meraih lima medali emas Solo ASEAN Paragames 2011. Berkat serangkaian prestasinya itu, Agus Ngaimin lolos ke London Paralympic 2012 dan akan bersaing di Kelas S6. Kelas S6 ini mencakup renang yang hanya menggunakan tangan dan lengan namun tidak menggunakan otot kaki. Dengan segala kemampuannya, Agus Ngaimin akan berusaha mencapai targetnya sendiri yaitu medali perunggu London Paralympic 2012.

2. Ni Nengah Widiasih

Ni Nengah Widiasih lahir di Kabupaten Karangasem, Bali. Pada usia 4 tahun, gadis yang memiliki tahi lalat di dagu ini mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya karena penyakit polio. Sejak kelas 6 SD, Ni Nengah Widiasih mendapatkan beasiswa dan tinggal di asrama Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Bali. Saat ini, Ni Nengah Widiasih duduk di kelas tiga SMA Dwijendra Bualu, Nusa Dua, Bali. Ketertarikan Ni Nengah Widiasih pada olahraga angkat berat ini berawal dari sang kakak, I Gede Suantaka, yang juga seorang atlet difabel angkat berat. Sejak tahun 2006, Ni Nengah Widiasih mulai mengikuti latihan intensif 4-5 kali seminggu bersama sang kakak dan rekan-rekannya. Berkat latihan intensif itu, Ni Nengah Widiasih mulai mengikuti jejak sang kakak dengan meraih prestasi di tingkat nasional dan bahkan internasional.

Hasil kerja keras Ni Nengah Widiasih terlihat pada ajang Porcanas 2008 di Samarindah. Ketika itu, Ni Nengah Widiasih berhasil meraih emas sekaligus memecahkan rekor nasional dengan angkatan seberat 72,4 kg. Sebelumnya, Ni Nengah Widiasih tampil gemilang di Kejurnas Bali dan Solo. Ni Nengah Widiasih secara berturut-turut mencatatkan prestasi internasional pada ajang Nakhon Ratchasima ASEAN Paragames 2008 (medali perunggu), Kuala Lumpur ASEAN Paragames 2009 (medali perak), dan Solo ASEAN Paragames 2011 (medali emas). Sebelum berangkat ke London, Ni Nengah Widiasih juga berhasil meraih medali perunggu Malaysia Open Powerlifting Championship pada bulan Februari 2012. Di London Paralympic 2012, Ni Nengah Widiasih sangat berharap bisa mencatatkan prestasi seperti mengingat angkat berat menjadi satu-satunya cabang penyumbang medali untuk Indonesia di ajang Olimpiade London 2012.

3. Setiyo Budi Hartanto

Setiyo Budi Hartanto adalah pemuda asli Temanggung, Jawa Tengah, yang lahir pada 6 Mei 1986. Meskipun terlahir dengan cacat tangan kiri dari telapak tangan sampai siku, Setiyo Budi Hartanto semakin terpacu untuk mengukir prestasi. Setelah lulus dari SMA 1 Muhammadiyah Temanggung pada tahun 2004, Setiyo Budi Hartanto tinggal di Pusat Rehabilitasi Profesor Doktor Soeharso, Solo. Salah satu staf di pusat rehabilitasi tersebut yang bernama Azis menyarankan kepada Setiyo Budi Hartanto untuk mencoba olahraga lompat tinggi dan lompat jauh. Sejak saat itu, Setiyo Budi Hartanto berlatih keras untuk menjadi atlet paralympian. Perlahan-lahan, Setiyo Budi Hartanto mengikuti berbagai kompetisi untuk menguji kemampuannya.

Tak perlu menunggu lama, Setiyo Budi Hartanto langsung meraih prestasi pertamanya dengan menyabet medali perak pada Porcanas 2004 di Palembang. Tahun berikutnya, Setiyo Budi Hartanto dipercayakan untuk mewakili Indonesia dalam ajang Manila ASEAN Paragames 2005. Tak tanggung-tanggung, dalam debut internasionalnya itu Setiyo Budi Hartanto berhasil meraih medali emas dengan lompatan sejauh 6,4 meter. Setiyo Budi Hartanto juga berhasil meraih medali perak pada ajang Kuala Lumpur FESPIC Games 2006 dengan lompatan sejauh 6,54 meter. Di Guangzhou ASIAN Paragames 2010, Setiyo Budi Hartanto juga berhasil meraih medali perunggu. Setyo Budi Hartanto yang berhasil meraih empat medali perak pada Solo ASEAN Paragames ini berhasil lolos ke London Paralympic 2012 setelah menduduki peringkat 9 Asia.

4. Dian David Michael Yakob (David Jacobs)

Dian David Michael Jakobs adalah atlet tenis meja berdarah Ambon yang lahir pada 21 Juni 1977 di Makassar. Terlahir dengan tangan kanan yang cacat, David Jacobs (begitu panggilan akrabnya) mengawali karir tenis mejanya sebagai atlet normal yang bermain kidal. Banyak orang meremehkan kemampuan David Jacobs dalam bermain tenis meja, namun itu tak membuatnya patah arang. Berkat dukungan keluarganya, David Jacobs bergabung dengan klub tenis meja PTP Semarang pada tahun 1990. Setelah sepuluh tahun berlatih keras, David Jacobs berhasil menjadi Juara I Nasional pada tahun 2000. Sejak saat itu, David Jacobs mulai tampil di kancah internasional dengan mewakili Indonesia pada Kejuaraan Tenis Meja Dunia pada tahun 2000.

Beberapa prestasi gemilang yang diraih David Jacobs antara lain medali emas Singapore SEATTA 2001, medali emas PON 2004, medali perak SEA GAMES 2005, medali perunggu PON 2008, dan medali perunggu SEA GAMES 2009. Berkat prestasinya itu, David Jacobs menjadi PNS di Dinas Olahraga DKI Jakarta pada tahun 2008. Tahun 2010, David Jacobs memulai karir sebagai atlet tenis meja difabel Kelas 10. Debutnya sebagai atlet difabel dimulai dengan meraih medali perunggu Guangzhou ASIAN Paragames 2010. Beberapa gelar juga berhasil di berbagai kejuaraan di Thailand, Beijing, Ceko, Inggris, dan Taiwan. Hebatnya lagi, David Jacobs berhasil meraih tujuh medali emas pada Solo ASEAN Paragames 2011. Tahun ini David Jacobs berhasil meraih medali emas pada Italian Open pada bulan Maret 2012 dan Slovakian Open pada Juni 2012. Dalam hitungan matematis, David Jacobs pantas meraih medali di London Paralympic 2012 karena saat ini dia menduduki peringkat tiga dunia.

Mari kita doakan yang terbaik untuk empat pahlawan Indonesia di London Paralympic 2012 ini. Amin.

23 thoughts on “Empat Atlet Difabel Indonesia di London Paralympic 2012

  1. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.Kekurangan dapat ditutupi dengan memaksimalkan kelebihannya. Berkaca dari para atlet ini, manusia janganlah meremehkan orang lain.

  2. Di ajang yang begini Indonesia justru banyak menunjukkan prestasi Internasionalnya…
    Sementara itu biaya besar yang dipakai untuk membina atlet normal tak kunjung memunculkan atlet kelas dunia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *