Advertise with Me Please send me an email to saya@giewahyudi.com

Elang Bondol dan Salak Condet

Suatu kali saya ditanya seorang teman tentang ciri khas busway Transjakarta. Saya sempat bingung juga karena beberapa defenisi ternyata tidak selalu tepat untuk menjelaskan ciri khas angkutan massal khas Jakarta ini. Jika dijelaskan dengan warna, busway memiliki warna-warna yang berbeda hampir di setiap koridor. Jika dijelaskan dengan jalur khusus busway, terkadang angkutan lain masih bisa masuk ke jalur khusus itu. Setelah berpikir beberapa waktu, saya jawab bahwa yang paling membedakan busway dari angkutan lain adalah lambangnya.

Saya memang baru akhir-akhir ini memperhatikan lambang busway. Apapun warna busway, entah oranye, biru, atau abu-abu, busway selalu mempunyai lambang yang sama. Jika Anda perhatikan, busway mempunyai lambang berupa elang bondol dan salak Condet. Elang bondol berwarna coklat dan berkepala putih sedang bertengger di sebuah ranting dengan tiga salak Condet di bawahnya. Pemilihan lambang busway ini bukan tanpa alasan karena keduanya sudah menjadi maskot kota Jakarta sejak tahun 1989 karena dianggap menjadi ciri khas Betawi.

Ketika Gubernur Ali Sadikin menetapkan keduanya sebagai maskot Jakarta, di Condet, Jakarta Timur, banyak terdapat kebun salak. Ketika itu, salak Condet (Salacca zalacca) tidak kalah tenar dibandingkan salak Pondoh atau salak Bali. Dulu di jalan raya Condet, banyak pedagang menjajakan salak Condet. Ketika itu Kali Ciliwung masih bersih sehingga orang mandi dan mencuci di sana. Namun banjir besar tahun 1996, 2002, dan 2007 yang melanda Jakarta membuat Kali Ciliwung meluap dan merusak lahan hijau di sekitarnya. Sekarang salak Condet pun terancam punah karena lahannya hanya tinggal 20 persen di kawasan Balekambang.

Bila pemilihan salak Condet didasarkan pada kekhasan salak yang hanya ada di Jakarta, namun elang bondol sebenarnya bukan hewan khas Jakarta. Elang bondol bukan satwa endemik Jakarta, burung yang memiliki nama latin Haliastur indus ini sebenarnya burung migran yang juga bisa dijumpai di Australia, India, Cina Selatan, dan Filipina. Meskipun begitu, Jakarta masih menjadi persinggahan tetap burung elang yang gagah ini. Di Cagar Alam Laut Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, masih ditemukan puluhan elang bondol. Namun jumlah burung yang bisa terbang 3.000 meter di atas permukaan laut ini terus berkurang.

Jumlah populasi elang bondol semakin berkurang saja karena ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Satwa langka ini masih sering ditangkap untuk perdagangan satwa ilegal. Selain karena penangkapan liar, populasi elang bondol juga berkurang karena rusaknya habitat wilayah rawa di Jakarta. Saya sendiri masih bermimpi untuk melihat elang bondol terbang di langit Jakarta. Sungguh ironis jika elang bondol dan salak Condet yang menjadi maskot Jakarta malah menghadapi ancaman kepunahan. Saya jadi bertanya-tanya, bila nanti elang bondol dan salak Condet benar-benar punah apakah busway masih menggunakan lambang itu.

Ilustrasi dari http://spreadia.com/

182 Total Views 6 Views Today
39 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *