Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Dulu “Made in China”, Sekarang “Made Better in China”

Selain memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia, China juga memiliki pengaruh besar tidak hanya di kawasan Asia tapi sudah mencakup ke seluruh negara. Kini China mempunyai pengaruh politik dan ekonomi yang sangat diperhitungkan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Di bidang teknologi, China memiliki semboyan “Tidak ada yang tidak bisa dibuat di China“. Negara-negara Eropa boleh menciptakan mobil-mobil termewah dan Amerika Serikat boleh juga menciptakan komputer-komputer tercanggih, tapi China selalu saja bisa menciptakan “kembaran” dari produk Eropa dan Amerika itu.

Made Better in China Trendwatching

Meskipun menjadi negara berpenduduk terbesar ke empat sedunia, Indonesia sangat berbeda dengan China. Bagi China, Indonesia belum menjadi mitra tapi lebih menjadi pasar yang bagus untuk barang-barang yang diproduksinya. Jika diadakan survei tulisan apa yang paling banyak ada di peralatan rumah tangga, gadget, dan lain-lain, tentu “Made in China” yang jadi juaranya. Mulai dari kompor sampai komputer, semuanya ada tulisannya “Made in China”. Meskipun smartphone sekelas iPhone juga diproduksi di China, barang-barang “Made in China” terkesan barang kacangan karena merupakan produk massal yang akan didistribusikan ke seluruh dunia.

Kebijakan pemerintah China yang mendukung produksi massal semua barang memang cerdas. Jepang, Eropa, dan Amerika boleh saja menciptakan barang berkualitas namun China melihat celah bisnis di sana. China menyadari tidak semua orang di dunia bisa memiliki barang berkualitas tinggi dengan harga selangit. Karena itu, China menciptakan barang-barang “kembaran” dengan harga yang jauh lebih murah. Lihat saja barang-barang “Made in China” yang terlihat mirip dengan produk-produk lain, seperti mobil, motor, ponsel, hingga baju pun ada yang versi China. Meskipun terkesan barang murahan, tapi barang “Made in China” selalu punya pasar tersendiri.

Bagi Indonesia, serangan barang “Made in China” cukup mengancam. Tidak hanya membuat kita menjadi lebih konsumtif, tapi juga membuat industri lokal hancur. Misalnya saja industri batik, kini batik China sudah menguasai pasar dan semakin menekan industri batik lokal. Kita boleh mencibir batik China yang diproduksi massal dengan mesin batik cetak. Namun kita patut waspada karena saat ini dikabarkan China sudah bisa membuat mesin yang bisa merekayasa kain batik baru menjadi kain batik lawasan. Di Indonesia kain lawasan hanya didapat dengan menyimpan kain dalam jangka waktu lama sehingga warnanya terlihat lusuh. Itulah yang menjadi daya tarik bagi para kolektor.

Kita memang punya banyak sekali aset budaya, namun China punya cara jitu untuk memanfaatkannya. Tidak hanya batik, kini China juga mulai menciptakan teknologi baru untuk membuat karya seni menyerupai ukiran khas Jepara. Di Jepara, para perajin lokal harus memahat dan mencungkil kayu dengan teliti untuk memnciptakan berbagai karya ukiran. Dulunya kita berpikir karya ini tidak bisa ditiru karena keahlian mengukir harus dipelajari dan tidak bisa “dicuri” seperti budaya lainnya. Namun siapa sangka, China kini sudah punya mesin yang bisa mengukir kaya tanpa harus menggores kayu lebih dalam. Dengan mesin ini, mengukir jadi lebih mudah dan lebih cepat.

Prinsipnya, semua barang bisa diproduksi di China dengan lebih cepat dan lebih efisein. Hasilnya pun lebih kuat dan lebih mudah dibersihkan. Misalnya, mebel rotan plastik yang kini mulai menghancurkan industri mebel lokal. Ironisnya, sebuah toko mebel di Cirebon menjual kursi-kursi rotan “Made Better in China” dengan harga yang lebih murah dibanding kursi rotan khas Tegalwangi, Cirebon. Selain mengingkari keunggulan rotan asli Kalimantan dan Sulawesi, hal ini juga akan membuat para perajin lokal gulung tikar. Terus, kapan ada barang “Made Better in Indonesia”?

6983 Total Views 6 Views Today
31 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *