Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan sumber daya manusia Indonesia. Namun pendidikan di Indonesia sendiri mengalami beberapa permasalahan, misalnya belum banyaknya guru yang berkualitas. Itulah salah satu garis besar yang didiskusikan dalam blogger gathering yang diselenggarakan Sampoerna School of Education (SSE). Bertempat di Pisa Cafe Mahakam, SSE Blogger Gathering kali ini menghadirkan tiga pembicara yaitu antara lain Patriya Pratama (pengajar muda), Dik Doank (Kandank Jurank Doank), dan Nisa Faridz (pengajar di Sampoerna School of Education). SSE Blogger Gathering ini dipandu oleh Lucy Wiryono yang juga kerap menjadi pengajar di Akademi Berbagi.

Patrya Pratama mendapatkan kesempatan pertama untuk membagikan kisahnya ketika menjadi pengajar muda di wilayah terpencil di Kalimantan Timur. Selama setahun, Patrya Pratama mengajar di SDN 002 Labuangkallo, Kecamatan Tanjung Harapan, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Menjadi pengajar muda di daerah terpencil mungkin tak pernah terpikirkan oleh alumni Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini, namun pengalaman ini memberinya banyak inspirasi. Selama setahun, Patrya Pratama berusaha membuka wawasan kepada para murid dan seluruh warga Labungkallo bahwa masih banyak pilihan pekerjaan selain menjadi nelayan.
Karena terletak di pulau terpencil, masyarakat Labuangkallo kebanyakan masih buta huruf. Sebagian besar orangtua murid masih berpikir bahwa sekolah tidak “menguntungkan”. Lebih baik menjadi nelayan atau mengelola tambak yang bisa langsung mendatangkan penghasilan. Apalagi bagi anak perempuan, mereka lebih baik menikah lalu mengurus suami dan anak daripada sekolah tinggi-tinggi. Selama setahun, Patrya Pratama bekerja keras untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Labuangkallo. Di SDN 002 Labuangkallo, Patrya Pratama mendirikan perpustakaan pertama di sekolah itu.

Tidak kalah inspiratif dibandingkan Patrya Pratama, Dik Doank berbagi kisah tentang sekolah alam Kandank Jurank Doank. Setelah menggeluti karir sebagai penyanyi, pembawa acara, dan desainer grafis, Dik Doank akhirnya memutuskan meninggalkan dunia gemilang itu. Kini Dik Doank sepenuhnya mengurus sekolah alam Kandank Jurank Doank yang sudah dirintisnya sejak tahun 1993. Bersama dengan istri tercinta, Myrna Yuanita, dan sahabat-sahabat yang peduli pendidikan, Dik Doank mengajar di mana saja, mulai dari tepi jalan sampai di tengah lapangan.
Kandank Jurank Doank mengajarkan apa saja, yaitu antara lain belajar menggambar, menari, olahraga, membaca dongeng, dan melawak. Usaha yang dilakukan Dik Doank akhirnya menggugah hati donatur yang akhirnya menghibahkan sebuah bangunan lengkap untuk sekolah alam Kandank Jurank Doank. Dengan suasana belajar yang menyenangkan, Dik Doank mengajarkan semua hal namun tetap berorientasi pada kreativitas dan holistik. Misalnya, ketika anak-anak didik takut pada hantu, Dik Doank mendatangkan make-up artist untuk mendandani hantu-hantu di depan anak-anak didiknya. Hasilnya, anak-anak didik tahu bahwa hantu di film itu dibuat, sama seperti hantu yang dibuat-buat dalam hati manusia itu sendiri.

Setelah dibuat terpukau dengan sharing Dik Doank yang inspiratif, peserta SSE Blogger Gathering kemudian menyimak paparan dari Nisa Faridz. Pengajar di Sampoerna School of Education ini menekankan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak pendidik, bukan sekedar guru. Jumlah guru di Indonesia mungkin sudah banyak, namun jumlah guru yang berjiwa pendidik masih kurang. Selain masalah kualitas, penyebaran guru di seluruh Indonesia kurang merata. Rasio guru dan murid sebenarnya sudah ideal yaitu 1 : 20, namun penyebaran guru yang berkualitas kurang merata.
Oleh karena itu pemerintah seharusnya tidak hanya menambah jumlah guru tapi juga meningkatkan kualitas guru. Jika guru memang berjiwa pendidik seharusnya ia mau belajar karena ketika mendidikan pasti akan menemukan hal-hal baru. Menurut Nisa Faridz, kita semua sebenarnya bisa menjadi pendidik. Karena ilmu baru bermanfaat bila dibagikan, masih menurut Nisa Faridz, kita bisa disebut pendidik bila mau membagikan hal-hal positif di mana saja, termasuk di media sosial. Sebagai blogger, kita bisa menjadi pendidik dengan membagikan hal-hal positif di blog kita masing-masing.
Pulang dari acara SSE Blogger Gathering, saya bersemangat untuk membagikan hal-hal positif untuk pembaca blog ini.




Iya, berbuat positifnya melalui blog aja deh. Ples twitter. Kalo yang lebih dari itu belom bisa kayaknya. :’(
Hhheee, setidaknya dimulai dari blog dulu.
Ya tuh, curhat di bvlognya dikuirangi… Banyakin info, hehehe
Biar PRnya jadi tanda tanya seperti saya, hahaha
Curhat banget Mas ini..
trims sdh berbagi cerita di atas ya
Semua pembicaranya hebat2 ya, saya pernah liat langsung aksi anak2 Kandank Jurank asuhannya Dik Doank sama Cak Nun sampe2 saya meneteskan air mata saking harunya
Iya, Mas. Kemarin itu para peserta sampai dibuat hening beberapa saat sama Dik Doank..
bro kalau ada acara kayak gini kasih tahu dong… saya mau ikut….
Beneran, Mas? Hayuk kapan kita kopdar?
Ntar ya kalau ada acara berikutnya..
Aku mau jugaaaaaaaaa… Aku pengen ngadirin acara seperti ini.
Oia, mas.. Terimakasih sudah mau berbagi. Aku juga baca livetweet anak kojak yang pada hadir.
OK, ditunggu hal-hal positifnya, Kakak
Oke, Le..
mantap! nice sharing kaka,
mmmm, bentar lagi jadi potografer neh kliatannya…
atau jadi pendidik / guru?
Atau jadi blogger saja?
kalo ada disemarang boleh dong colek2 om
Okesip!
Kalau ada di Semarang nanti dikabarin ya..
Karena jadi pendidikan itu tidak mudah, seseorang mesti bisa jadi teladan, jadi pendorong, dan menjadi sahabat yang baik.
Tapi jika seseorang mau, mengapa tidak, menjadi pendidik adalah hal yang mulia
.
Setiap guru memang seharusnya menjadi seorang pendidik..
Kapan-kapan pengen ikutan kalo ada lagi
Akhirnya blognya bisa dibuka juga, Mas, plus baru di link
Iya, jangan sibuk-sibuk dong, kapan-kapan main bareng saya..
Teruslah berbagi hal positif kakak. Karena kebaikan yg diberikan, manfaatnya akan kembali ke kita juga
Kakak Ucha tumben komentarnya bijaksana.
Salam super banget!
Sistem belajar-mengajar di sekolahan umum, blum bisa membuat rasa senang dan nyaman kepada anak didiknya.
Iya, Mas. Seharusnya guru bisa menjadi teman bagi anak-anak didiknya agar suasana belajar jadi menyenangkan..
Kopdar beginian selain memacu semangat agar berbuat lebih baik, juga membuka mata ya Mas..Begitu banyak orang diluaran sana berbuat sesuatu bagi sesama…Keren deh kopdar seperti ini…
Iya, kopdar memang selalu mendatangkan inspirasi..
Mari kopdar blogger lagi..
Tulisanya sangat inspiratif mas, terutama yang pengalaman Patriya Pratama selama mengajar di desa terpencil, di KalTim.
Iya, banyak lagi kisah-kisah heroik para pengajar muda yang lain, Mas..
Yap! Indonesia butuh Pendidik mas, bukan sekedar guru.
Kalo di US, rasio ideal Guru : Murid = 1:12
siip, tambah pengalaman y mas….
wahhh baru tau gan kalau Sampoerna School of Education ngadain blogger gathering…
kpn lagi ada kayak ginian…
Pingback: Banyak Datang Ke Gathering Blogger Offline | isnuansa.com
Kalau di Jakarta angkat tangan deh alias nyerah bisa hadir ^_^
Kalau di Bandung masih oke meski jadwal waktunya harus menyesuaikan hehehe … Kumaha damang, Gie?