Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Dari Cikarang ke Cirebon

Akhir pekan lalu saya ditemani seorang teman mengunjungi kota Cirebon. Sabtu pagi kami memulai perjalanan dari Cikarang, tepatnya dari Sukatani. Perjalanan yang kami rencanakan dua hari itu diawali dengan tujuan pertama, stasiun Cikarang. Saya memang sengaja tidak terlalu mencari informasi lengkap tentang jam keberangkatan karena saya lebih tertantang dengan perjalanan yang penuh ‘deg-degan’. Dan memang benar, pagi itu dari stasiun Cikarang tidak ada kereta langsung ke Cirebon.

Dan kami harus ke stasiun Bekasi terlebih dahulu. Kami meluncur kesana dengan kereta ekonomi jurusan Jakarta yang kebetulan akan berangkat segera ketika kami sedang berpikir untuk merencanakan ulang perjalanan kereta dari Cikarang ke Cirebon. Tak berapa lama kereta berhenti di Stasiun bekasi, rencana kami akan menunggu kerta Cirebon Express (Cirex) saja dari sana. Walau harus menunggu sampai jam sepuluh, pikir kami.

Tepat setelah telapak sandal menyentuh peron stasiun, mata saya tertuju pada kereta ekonomi yang baru berhenti dari arah Jakarta. Untung otak saya lagi tidak merangkak, saya langsung berpikir itu kereta ke arah timur. Dan benar, pengeras suara di stasiun menyebutkan nama “Kereta Kutojaya”. Tanpa pikir panjang saya langsung lari ke tempat pembelian tiket. Tapi saya lihat teman saya yang masih ngantuk juga ikut berlari. Akhirnya saya yang membeli tiket dan teman saya menunggu di dekat kereta.

Dengan panik saya mengantri dengan diiringi pengeras suara stasiun yang menghimbau penumpang kereta Kutojaya agar segera naik karena kereta akan diberangkatkan. Saya pesan tiket dua orang tapi karena terburu-buru dan saya tidak tahu harga tiket, saya bayar dengan satu lembaran uang lima puluh ribuan. Dan saya langsung mencari teman saya, sempat kehilangan sebentar, tapi akhirnya teman saya itu berteriak memanggil saya. Lega rasanya di dalam kereta Kutojaya, tapi jantung masih berpacu kencang. Saya pikir karena saya belum pasti dapat tempat duduk di kereta.

Di dalam kereta saya lihat tiketnya, ternyata saya hanya memegang satu tiket seharga 26 ribu. Langsung saya tanya petugas pintu kereta siapa tahu masih bisa ke loket untuk membeli tiket lagi. Tapi pupus harapan saya, *ealaaahhhh*. Kami pun menyusuri kereta terus ke belakang mencari tempat duduk kosong.

Akhirnya kami dapat tempat duduk yang ternyata itu gerbong kereta makan. Kami pun menyusun rencana. Pertama, di stasiun berikutnya kereta berhenti saya akan turun dan membeli tiket. Kedua, membayar petugas di atas kereta. Namun ternyata petugas pemeriksa tiket segera bekerja. Baiklah, semoga pak petugas ini tak banyak tingkah. Saya ditawari bayar 26 ribu dengan bukti pembayaran di atas kereta atau bayar 15 ribu tanpa bukti pembayaran. Malas berurusan dengan petugas-petugas pemeriksa tiket selanjutnya, saya bayar 26 ribu.

Sedikit tenanglah saya, kami pun mengobrol sembari mengeringkan keringat. Di sebelah kami ada petugas PJKA yang tidur lho. Padahal kami juga membicarakan soal tiket kereta tadi. Saya tidak tahu apa bapak itu mendengarkan atau tidak, tapi kami santai saja karena kata teman saya penampilan kami berdua tidak jauh beda dengan wartawan dengan kamera di tangan.

Tempat duduk belakang kosong dan kami berpindah kesana, dan perjalanan kami dari Cikarang ke Cirebon lancar. Teman saya malah bisa tidur selonjoran meski keringat membasahi raganya. *ealaaaah*

13630 Total Views 2 Views Today
5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *