Bulan Mei selalu identik dengan Hari Buruh Sedunia. Untungnya peringatan Hari Buruh Sedunia tahun ini tidak anarkis sehingga media massa fokus pada tuntutan buruh dan bukan pada aksi demonstrasinya. Ribuan buruh turun ke jalan untuk kembali menegaskan bahwa negara melakukan pembiaran terhadap penindasan buruh, mulai dari masalah outsourcing, rendahnya upah buruh, sampai diskriminasi buruh perempuan. Hampir sama dengan buruh dalam negeri, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri juga mengalami diskriminasi, eksploitasi, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia.

Kali ini saya ingin menceritakan kisah beberapa orang yang pernah menjadi buruh migran di negeri orang. Beberapa mantan buruh migran ini kini sudah kembali ke kampung halaman dan mencari penghidupan sendiri dengan berwirausaha.
Mantan Buruh Migran di Korea Selatan Kini Jadi Pengusaha Salon
Sewaktu saya masih kecil, saya heran karena suami bulik (bibi) saya bekerja di Korea Selatan. Paman saya itu hanya pulang tiap dua tahun sekali. Katanya bekerja di Korea Selatan itu gajinya mencapai puluhan juta sebulan. Setiap bulan Lik Kelik, begitu panggilannya, mengirimkan uang untuk istri dan anaknya. Bulik saya, Bulik Sri, hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Perlahan-lahan Bulik Sri mulai membuka usaha salon di Jogja karena Paklik Kelik tak akan selamanya bekerja di luar negeri.
Paklik Kelik memang sudah berencana untuk pulang ke Jogja dan tidak bekerja lagi di Korea Selatan. Bulik Sri lalu menambah usahanya dengan membuka butik. Usaha salon dan butik mereka berkembang pesat. Uang yang didapatkannya selama bekerja di Korea Selatan kini sudah digunakan untuk berwirausaha di tanah air. Karena bekerja sebagai buruh migran di luar negeri bukanlah tujuan jangka panjang, tapi sebagai batu loncatan untuk mandiri di tanah air.
Mantan Buruh Migran di Taiwan Kini Jadi Pengusaha Rumah Kost
Sewaktu berkunjung ke Malang awal tahun ini, saya menginap di rumah paman saya yang dulu pernah menjadi buruh migran di Taiwan. Pada tahun 1998 Lik Sumarno, begitu panggilannya, memutuskan untuk merantau ke Taiwan. Krisis moneter membuat ekonomi tidak stabil, itulah yang membuat Lik Sumarno mencoba mencari peruntungan di negeri orang. Pekerjaannya sebagai tukang mebel di Malang sudah tidak menjanjikan lagi. Lik Sumarno berangkat ke Taiwan bersama dengan doa restu istri dan anak-anaknya. Di Taiwan, Lik Sumarno bekerja sebagai sopir dengan pendapatan yang lumayan dibandingkan jika bertahan di Malang.
Lik Sumarno bisa menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai sopir, sebuah keterampilan yang tidak semua orang punya. Lik Sumarno juga tak lupa menyisihkan uang untuk modal usaha jika sudah kembali ke Malang lagi. Tahun 2006, Lik Sumarno pulang dan memutuskan untuk bekerja di Malang. Lalu Lik Sumarno menggunakan tabungannya untuk membeli angkot, waktu itu pendapatannya sudah lumayan. Namun perlahan-lahan pendapatannya berkurang karena orang mulai berpikir motor lebih efektif dibanding angkot. Lik Sumarno lalu menjual angkotnya dan membeli tanah di dekat kampus Universitas Negeri Malang. Kini Lik Sumarno mengelola rumah kost dengan 20 kamar.

Saya yakin banyak buruh migran yang berhasil dan menyumbang devisa negara. Di kampung-kampung asal buruh migran, rumah-rumah megah dan umumnya bertingkat menjadi salah satu bukti kesuksesan mereka. Sayangnya, kebanyakan buruh migran tidak berpikir panjang. Mereka membangun rumah megah namun tak memikirkan masa depan, padahal tak selamanya mereka bisa bekerja di luar negeri. Setelah mereka tidak bisa lagi bekerja di luar negeri, mereka tidak punya mata pencaharian. Karena itu, buruh migran harus berpikir bahwa menjadi pekerja di luar negeri hanya tujuan jangka pendek dan berwirausaha di kampung halaman adalah tujuan jangka panjang.
Secara bertahap, beberapa pihak sudah mengadakan pelatihan/training motivasi wirausaha untuk para buruh migran di berbagai negara. Para buruh migran dilatih untuk memiliki target sampai kapan bekerja di luar negeri dan bisa menentukan pekerjaan sendiri jika sudah menjadi mantan buruh migran. Dengan training ini, para buruh migran sudah mempunyai rencana wirausaha jika sudah pulang nanti. Ide-ide wirausaha bisa diambil dari mana saja, misalnya Paklik Kelik yang membuka bisnis salon atau Paklik Sumarno yang membuka bisnis rumah kost.
Jika sulit untuk mendapatkan ide usaha, mantan buruh migran juga bisa mengikuti pelatihan wirausaha seperti yang dilakukan LPPM Unsoed Purwokerto. Akhir tahun 2011 lalu, LPPM Unsoed Purwokerto mengadakan pelatihan membuat keset kain perca untuk mantan buruh migran di Banyumas. Pelatihan Start & Improve Your Business (SIYB) untuk buruh migran juga diadakan di Sukabumi. Ide usaha juga bisa dicari dari kebutuhan sehari-hari seperti usaha warung sembako, counter pulsa, rumah makan, makanan ringan, foto kopi, atau angkutan.
Sebagai penutup, saya ingin membagikan kisah dua orang buruh migran yang sudah mulai berwirausaha sambil menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Singapura. Enok Sunani dan Kistem sukses berwirausaha setelah mengikuti program pelatihan wirausaha yang diselenggarakan Media Transformation Ministry, Ltd dan Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre Jakarta.
Menjadi buruh migran bukan untuk selamanya, buruh migran harus berpikir untuk menjadi entrepreneur baru jika pulang kampung nanti..




Semoga prosentase buruh migran yang sukses makin besar, karena pada kenyataannya yang setelah pulang ke tanah air kembali susah juga ada (malah banyak).
Itu terjadi karena lagi2 sebagian tenaga kerja kita kurang mengembangkan kemampuan lain dan hanya terpaku pada kerja (nguli?) saja, tanpa pernah berani mengembangkan menjadi wira usaha.
Ada juga yang kurang bisa mengatur keuangan hasil kerja diluar negeri yang dipakai untuk keperluan sesaat yang sifatnya seneng2 dowang
Iya, kebanyakan biasanya membangun rumah dan menggelar pesta yang hanya memenuhi kebutuhan konsumtif. Seharusnya lebih diutamakan kebutuhan produktif, contohnya ya berwirausaha ini..
kliatannya emang kllo bicara persentase, keciiiil sekali yang punya mindset usaha setelah mbabu di luar negeri, jangankan mereka yang mbabu di luar negeri yang memang pendidikannya rendah, wong yang sarjana saja jauh lebih banyak yang rebutan nyari kerja, daripada yang berfikir untuk berusaha kok…
salut sama yang ada upaya untuk memperbaiki hal itu dah…
Aduh sebagai seorang sarjana, saya tersinggung nih..
Para TKI tersebut selain mendapat penghasilan yang lumayan di luar negeri, mereka juga akan mempunyai pengalaman atau keahlian saat bekerja yang kemudian di terapkan di kampung halaman
Iya, tidak hanya modal tapi keterampilan juga bisa dipelajari di luar negeri..
Pingback: Gie Wahyudi | Kontes Blog
wow keren banyak buruh migran luar negeri yang sukses..
betul jangan isinya mati di bunuh dan siksa saja.
Harus cerdas kerjanya dan segera berwisausaha jika sudah mampu.. ingat prinsip tangan diatas ya… nice post bro…
Iya, Bro..
Tangan di atas memang bagus, selalu menginspirasi kita untuk terus berbagi..
sukses kontes nya
. semoga makin banyak yg memperhatikan tindak lanjut buruh migran setelah tidak jadi TKI
Iya, Mas.
Sukses di luar negeri harus digunakan untuk sukses di dalam negeri, kalau enggak ya susah..
hehehe ikut kontes ya. sukses ya. memang buruh migran harus berpikir panjang, jangan hanya memikirkan cari duit di negeri orang tersebut bingung mau bikin apa setelah pulang
Mungkin blogger seperti itu juga..
Semoga semua buruh migran mempunyai pikiran wirausaha,
tekad,realisasi tinggal laksanakan.
abang temen aku juga ada yang jadi TKI di Jepang, alhamdulillah sekrang udah berwirausaha sendiri di Pontianak..
Yang penting ‘curi’ ilmunya yak,, biar bisa menjadi modal kehidupan dimasa yang akan datang
Iya, semacam “kuliah” di luar negeri gitu ya?
Semoga buruh-buruh migran bisa mencari ilmu wirausaha di negeri orang..
Wah bagus nih kalau begini. Kerja di luar negeri cari modal dan pengalaman lalu jadi pengusaha di negeri sendiri
bagusnya saya rasa memang seperti itu. nggak usah lama2 di luar negeri. cukup2 buat modal usaha di dalam negeri.
maju terus BMI ,,,, semoga kedepan lebih baik lagi,,,
Ini kisah beberapa buruh migran yg cukup sukses mendulang uang di negeri orang sehingga mampu menyisihkan sedikit uang sebagai modal usaha. Yang memedihkan hati adalah yg pulang tinggal nama atau cacat fisik dan batin. Apa yang bisa dilakukan untuk mereka?
apa yang dibutuhkan untuk menjadi wirausaha?
apa yang harus dipikirkan dan dilakukan dalam merintis usaha?
Sementara jadi buruh apabila terpaksa juga nggak papa tapi jangan ada pemikiran untuk selamanya menjadi buruh. Untuk meraih semacam itu tentu butuh perjuangan yang sangat keras karena sadar atau tidak kita sudah dikejar2 oleh waktu….semangat…semangat…semangat…
wew tumben mas gie ikutan kontes juga mas, semoga sukses dengan kontesnya mas gie
ada yang sukses ada juga yang malah pulang terbujur kaku…
untuk berwirausaha tidak semua orang bisa…
Malah kalau bisa, jangan sampai ada yang jadi buruh di luar negri ya, kalau bisa mah bekerja di dalam negri sendiri saja.
Iya, Mbah.Tapi sayangnya lapangan kerja di negeri sendiri tidak mencukupi atau ada tapi tak berani bayar mahal untuk warganya sendiri.
salut bagi buruh migran yg kembali ke tanah air dan sukses berwiraswasta
Lebih salut lagi kalau BNP2TKI memberi perhatian pada nasib buruh migran ini, Mbak..
buruh migran yang tentunya berwawasan cerdas
Setuju nih, jadi buruh migran di luar negeri harusnya sih sebagai rencana jangka pendek aja, buat cari modal dan ilmu, baru nanti jangka panjangnya berwirausaha di tanah air.
seharusnya sih seperti itu. tapi kalo yang masih muda biasanya duitnya buat gaya (lihat tetangga yang buruh migran di Malaysia)
*ssst bukan gosip yah
Ke LN buat cari modal usaha di Indonesia ya Gie bukan buat makmur sesaat.
mereka memang bekerja demi diri sendiri dan tak langsung demi negara. Agak miris ya, saat mereka sukses disana namun berpikiran pendek, pernah liat di kick Andy bahwa banyak migran yang bergaji besar namun tidak punya pikiran masa depan, akhirnya uang bulanan sering habis karena gaya hidup yang tak jelas. tapi yang sukses? ya seperti diatas, bahkan ada yang berhasil buka restoran di amrik padahal dia buruh migran. mantab pokoknya.
Dan hal di atas masih jarang di kota saya mas. Di sini kebanyakan hasil jerih payah dari luar negeri ya buat membangun rumah, beli motor, mobil, dan semua yang terlihat mewah. masih sedikit yang berfikir ke jangka panjang. padahal gaji mereka yang jutaan perbulan itu bisa untuk modal.
saya setuju dengan kalimat ini:
Saya jg buruh mas.. moga nasib buruh makin lebih baik… Aamiin…