Advertise with Me Please send me an email to saya@giewahyudi.com

Buruh Migran dan Semangat Wirausaha

Bulan Mei selalu identik dengan Hari Buruh Sedunia. Untungnya peringatan Hari Buruh Sedunia tahun ini tidak anarkis sehingga media massa fokus pada tuntutan buruh dan bukan pada aksi demonstrasinya. Ribuan buruh turun ke jalan untuk kembali menegaskan bahwa negara melakukan pembiaran terhadap penindasan buruh, mulai dari masalah outsourcing, rendahnya upah buruh, sampai diskriminasi buruh perempuan. Hampir sama dengan buruh dalam negeri, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri juga mengalami diskriminasi, eksploitasi, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia.

Buruh Migran dan Semangat Wirausaha

"Buruh migran Indonesia di Singapura yang menjadi mahasiswa LP3I sedang mendapatkan motivasi wirausaha." Ilustrasi dari www.buruhmigran.or.id

Kali ini saya ingin menceritakan kisah beberapa orang yang pernah menjadi buruh migran di negeri orang. Beberapa mantan buruh migran ini kini sudah kembali ke kampung halaman dan mencari penghidupan sendiri dengan berwirausaha.

Mantan Buruh Migran di Korea Selatan Kini Jadi Pengusaha Salon

Sewaktu saya masih kecil, saya heran karena suami bulik (bibi) saya bekerja di Korea Selatan. Paman saya itu hanya pulang tiap dua tahun sekali. Katanya bekerja di Korea Selatan itu gajinya mencapai puluhan juta sebulan. Setiap bulan Lik Kelik, begitu panggilannya, mengirimkan uang untuk istri dan anaknya. Bulik saya, Bulik Sri, hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Perlahan-lahan Bulik Sri mulai membuka usaha salon di Jogja karena Paklik Kelik tak akan selamanya bekerja di luar negeri.

Paklik Kelik memang sudah berencana untuk pulang ke Jogja dan tidak bekerja lagi di Korea Selatan. Bulik Sri lalu menambah usahanya dengan membuka butik. Usaha salon dan butik mereka berkembang pesat. Uang yang didapatkannya selama bekerja di Korea Selatan kini sudah digunakan untuk berwirausaha di tanah air. Karena bekerja sebagai buruh migran di luar negeri bukanlah tujuan jangka panjang, tapi sebagai batu loncatan untuk mandiri di tanah air.

Mantan Buruh Migran di Taiwan Kini Jadi Pengusaha Rumah Kost

Sewaktu berkunjung ke Malang awal tahun ini, saya menginap di rumah paman saya yang dulu pernah menjadi buruh migran di Taiwan. Pada tahun 1998 Lik Sumarno, begitu panggilannya, memutuskan untuk merantau ke Taiwan. Krisis moneter membuat ekonomi tidak stabil, itulah yang membuat Lik Sumarno mencoba mencari peruntungan di negeri orang. Pekerjaannya sebagai tukang mebel di Malang sudah tidak menjanjikan lagi. Lik Sumarno berangkat ke Taiwan bersama dengan doa restu istri dan anak-anaknya. Di Taiwan, Lik Sumarno bekerja sebagai sopir dengan pendapatan yang lumayan dibandingkan jika bertahan di Malang.

Lik Sumarno bisa menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai sopir, sebuah keterampilan yang tidak semua orang punya. Lik Sumarno juga tak lupa menyisihkan uang untuk modal usaha jika sudah kembali ke Malang lagi. Tahun 2006, Lik Sumarno pulang dan memutuskan untuk bekerja di Malang. Lalu Lik Sumarno menggunakan tabungannya untuk membeli angkot, waktu itu pendapatannya sudah lumayan. Namun perlahan-lahan pendapatannya berkurang karena orang mulai berpikir motor lebih efektif dibanding angkot. Lik Sumarno lalu menjual angkotnya dan membeli tanah di dekat kampus Universitas Negeri Malang. Kini Lik Sumarno mengelola rumah kost dengan 20 kamar.

Buruh Migran dan Semangat Wirausaha

"Mantan buruh migran di Banyumas sedang mengikuti pelatihan membuat keset kain perca di LPPM Unsoed Purwokerto." Ilustrasi dari www.buruhmigran.or.id

Saya yakin banyak buruh migran yang berhasil dan menyumbang devisa negara. Di kampung-kampung asal buruh migran, rumah-rumah megah dan umumnya bertingkat menjadi salah satu bukti kesuksesan mereka. Sayangnya, kebanyakan buruh migran tidak berpikir panjang. Mereka membangun rumah megah namun tak memikirkan masa depan, padahal tak selamanya mereka bisa bekerja di luar negeri. Setelah mereka tidak bisa lagi bekerja di luar negeri, mereka tidak punya mata pencaharian. Karena itu, buruh migran harus berpikir bahwa menjadi pekerja di luar negeri hanya tujuan jangka pendek dan berwirausaha di kampung halaman adalah tujuan jangka panjang.

Secara bertahap, beberapa pihak sudah mengadakan pelatihan/training motivasi wirausaha untuk para buruh migran di berbagai negara. Para buruh migran dilatih untuk memiliki target sampai kapan bekerja di luar negeri dan bisa menentukan pekerjaan sendiri jika sudah menjadi mantan buruh migran. Dengan training ini, para buruh migran sudah mempunyai rencana wirausaha jika sudah pulang nanti. Ide-ide wirausaha bisa diambil dari mana saja, misalnya Paklik Kelik yang membuka bisnis salon atau Paklik Sumarno yang membuka bisnis rumah kost.

Jika sulit untuk mendapatkan ide usaha, mantan buruh migran juga bisa mengikuti pelatihan wirausaha seperti yang dilakukan LPPM Unsoed Purwokerto. Akhir tahun 2011 lalu, LPPM Unsoed Purwokerto mengadakan pelatihan membuat keset kain perca untuk mantan buruh migran di Banyumas. Pelatihan Start & Improve Your Business (SIYB) untuk buruh migran juga diadakan di Sukabumi. Ide usaha juga bisa dicari dari kebutuhan sehari-hari seperti usaha warung sembako, counter pulsa, rumah makan, makanan ringan, foto kopi, atau angkutan.

Sebagai penutup, saya ingin membagikan kisah dua orang buruh migran yang sudah mulai berwirausaha sambil menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Singapura. Enok Sunani dan Kistem sukses berwirausaha setelah mengikuti program pelatihan wirausaha yang diselenggarakan Media Transformation Ministry, Ltd dan Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre Jakarta.

Menjadi buruh migran bukan untuk selamanya, buruh migran harus berpikir untuk menjadi entrepreneur baru jika pulang kampung nanti..

34 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *