Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Bubi Chen, Maestro Jazz Indonesia

Pertama kali menyaksikan permainan piano seorang Bubi Chen, saya langsung takjub. Meski sudah berusia senja, jari-jari Bubi Chen tetap lihai memainkan tuts piano dalam gelaran Java Jazz Festival 2011. Bubi Chen terlahir sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara dalam keluarga Tionghoa yang menetap di Surabaya. Musik pertama yang Bubi Chen kenal adalah musik klasik. Sedari kecil, Bubi Chen mendengarkan suara biola yang dimainkan ayahnya, Tan King Hoo. Ketertarikan Bubi Chen pada piano awalnya hanya karena instrumen inilah yang paling mudah digapai tangannya saat itu.

Bubi Chen, Java Jazz 2011

Bakat Bubi Chen sudah diasah sejak dari kecil. Tan Khing Hoo menitipkan Bubi Chen pada seorang pianis berdarah Italia bernama Di Lucia. Ketika Di Lucia mengajarinya bermain piano, Bubi Chen masih berusia lima tahun dan belum bisa membaca apalagi untuk memahami not balok. Meskipun begitu, Bubi Chen bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Di Lucia karena Bubi Chen sudah terbiasa melihat kakak-kakaknya, Jopie dan Teddy Chen, sedang latihan piano. Bubi Chen dilatih oleh Di Lucia sampai tahun ketika Indonesia merdeka.

Setelah itu, Bubi Chen mengikuti kursus piano klasik dengan pianis berkebangsaan Swiss bernama Yosef Bodmer. Selama delapan tahun, Bubi Chen mendalami piano klasik ini bersama Yosef Bodmer. Suatu ketika Bubi Chen tertangkap basah oleh Yosef Bodmer ketika sedang memainkan sebuah aransemen jazz. Bukannya marah, Yosef Bodmer malah berucap, “Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu”. Dalam umur 12 tahun, Bubi Chen sudah mengaransemen karya-karya Beethoven, Chovin, dan Mozart ke dalam irama jazz. Bubi Chen menilai musik jazz memiliki kebebasan dalam menuangkan kreatifitas dibanding musik klasik dengan kaidah-kaidahnya sendiri. Bubi Chen kemudian mengikuti kursus piano di Wesco School of Music, New York, dari tahun 1955 sampai 1957. Salah satu guru Bubi Chen di sana adalah Teddy Wilson yang merupakan murid dari Benny Goodman, tokoh swing legendaris itu.

Bubi Chen membentuk sebuah grup jazz bernama The Circle yang digawanginya bersama dengan Maryono (saksofone), F X Boy (bongo), Zainal (bass), Tri Wijayanto (gitar), dan Koes Syamsudin (drum). Bubi Chen kemudian juga bergabung dalam grup Indonesian All Stars bersama Jack Lesmana, Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustafa, dan kakak kandungnya sendiri, Jopie Chen. Bubi Chen bersama Indonesian All Stars pernah berkesempatan tampil di Berlin Jazz Festival 1967. Sepulang dari Jerman, Indonesian All Stars masuk dapur rekaman dan merilis album Djange Bali. Album yang digarap bersama dengan klarinetis asal Amerika, Tony Scott, ini sekarang menjadi barang langka yang menjadi buruan para kolektor.

Bubi Chen pernah membuat album bersama Nick Mamahit yang diproduseri oleh Suyoso Karsono. Bersama Jack Lesmana, Bubi Chen juga pernah membuat album rekaman di Lokananta pada tahun 1959. Hebatnya, album yang bertajuk Bubi Chen with Strings itu sempat disiarkan di Voice of America. Pada kesempatan itu, Willis Conover yang mengupas album tersebut menyebut Bubi Chen sebagai The Best Pianist of Asia. Karya-karya Bubi Chen juga diputar di radio KFAII 90.3 FM di Minneapolis dan KSUP 88.9 FM di Santa Crus dalam acara Global Beat. Bubi Chen juga membentuk Chen Trio bersama kakak-kakaknya Jopie dan Teddy Chen pada tahun 1950-an. Ketika itu juga, Bubi Chen bergabung dengan Jack Lesmana Quartet.

Dari awal karirnya sampai sekarang, Bubi Chen telah merilis beberapa album antara lain Bubi Chen and His Fabulous 5, Bubi Chen Plays Soft and Easy, Kedamaian, Bubi Chen and His Friends, Bubi Chen – Virtuoso, Jazz The Two of Us, All I Am, dan masih banyak album lainnya. Bahkan di tahun 2009, ketika umurnya sudah menginjak angka 72, Bubi Chen masih bisa merilis album berjudul The Many Colors of Bubi Chen. Dalam album ini, Bubi Chen bekerja sama dengan beberapa musisi lintas generasi yaitu Oele Pattiselanno, Yance Manusama, Oty Jamalus, Arief Setyadi, dan Sandy Winarta. Hebatnya lagi, dalam album ini Bubi Chen memainkan lagu-lagu rock klasik seperti Soldier of Fortune (Deep Purple), Stairway to Heaven (Led Zeppelin), dan Dust In The Wind (Kansas).

Pada tahun 2004, Bubi Chen menerima penghargaan Satya Lencana pengabdian seni dari mantan presiden Megawati. Setahun kemudian, Peter F. Gontha pada gelaran Java Jazz Festival yang pertama memberikan penghargaan sebagai musisi jazz Living Legend kepada Bubi Chen. Bubi Chen juga pernah mendapatkan Life Achievement Award dari gubernur Jawa Timur karena dinilai telah memperkenalkan Surabaya ke dunia internasional melalui musik jazz. Penghargaan tersebut diberikan pada gelaran Wismilak The Legend of Jazz yang diadakan pada awal tahun 2010.

Di pentas internasional, Bubi Chen mendapatkan beberapa penghargaan yang sangat membanggakan. Pada tahun 1967, Bubi Chen mengikuti Berlin Jazz Festival dan membawakan siter di atas pianonya. Bubi Chen telah membunyikan musik Indonesia di daratan Eropa. Di festival itu, Bubi Chen terpilih sebagai salah satu dari sepuluh pianis jazz terbaik dunia dan mendapatkan julukan Pearl from the East. Bahkan, majalah jazz Down Beat memberikan julukan Art Tatum dari Asia untuk Bubi Chen. Art Tatum adalah bapak pianis sedunia. Nama Bubi Chen bersama Indonesian All Stars juga tercatat dalam buku karya Joachim-Emst Berendt berjudul Jazz A Photo History.

Perjalanan panjang musik jazz dalam hidup seorang Bubi Chen tentu akan menjadi inspirasi bagi semua orang. Bukan hanya tentang bakat atau musik, bagi Bubi Chen darahnya adalah musik jazz. Sepanjang perjalanan hidupnya, musik jazz tidak pernah jauh darinya. Meskipun sudah terlalu payah membaca not balok ketika tampil di Semeru Garuda Hall, JIExpo Kemayoran, Bubi Chen tetap bisa tampil sempurna. Dalam penampilannya itu, Bubi Chen mempersembahkan lagu kedua berjudul Body and Soul untuk seorang sahabatnya yang meninggal sehari sebelum penampilannya di Java Jazz Festival 2011 yang lalu. Lebih dari semua itu, Indonesia pasti bangga mempunyai seorang anak bangsa bernama Bubi Chen.

Catatan Kaki Gie :
Tulisan ini dipersembahkan untuk memeringati Hari Musik Nasional yang jatuh pada hari ini, 9 Maret 2011. Semoga insan musik nasional semakin maju dan selalu menghormati jasa-jasa musisi senior yang telah mengharumkan nama Indonesia melalui musiknya.

4439 Total Views 6 Views Today
35 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *