Tiap kali berbelanja ke supermarket, minimarket, atau pasar tradisional, saya selalu memberi perhatian kepada buah-buah yang tertata rapi di keranjang-keranjang buah yang tertata rapi. Selain untuk memberi asupan nutrisi bagi kandungan istri saya, buah-buahan memang terlihat menggiurkan dan menggugah selera. Uniknya, buah-buahan khas Indonesia selalu bergantian mengisi stok di pasar buah. Musim Durian Palembang sepertinya sudah mulai habis, namun Duku Palembang sudah mulai memenuhi keranjang-keranjang buah di pasar modern dan di pasar tradisional.

Buah Lokal vs Buah Impor

Meski buah-buahan lokal sudah banyak, ternyata jumlah buah-buahan impor yang menyerbu pasar Indonesia jauh lebih banyak. Buah-buahan impor ada di mana-mana, tidak hanya di supermarket premium di ibukota tapi juga sudah tersedia di pasar-pasar tradisional di tingkat kecamatan. Dibanding buah lokal, buah impor memiliki tampilan yang lebih cantik sehingga banyak diminati masyarakat Indonesia. Jumlah nilai buah impor yang masuk ke Indonesia tahun lalu mencapai angka USD 700 juta. Bisa dibayangkan betapa buah-buahan impor itu membanjiri pasar-pasar Indonesia.

Saat ini produsen minuman sari buah di Indonesia lebih memilih buah impor karena standarisasi yang baik dan kontinuitas pasokan yang terjamin. Buah-buahan impor diminati tidak hanya memasuki ranah konsumsi, namun di Bali buah-buahan impor sudah memasuki ranah ritual. Sebagian masyarakat di Bali lebih meminati buah impor untuk bahan sajen dalam upacara. Secara tidak langsung buah impor menunjukkan kelas sosial seseorang. Bahkan ada sebagai orang menilai doanya akan lebih sampai jika menggunakan buah impor. Kadang sulit bagi saya untuk mempercayai pengaruh buah impor yang sudah sejauh seperti itu.

Tagged with:
 

27 Responses to Buah Lokal Vs Buah Impor

  1. Kalau saya selama ini mengkonsumsi buah seimbang. Ya lokal, ya impor juga.
    Semacam pisang, durian dan Mangga, saya memilih lokal. Pisang Medan, Durian Medan dan Mangga Arumanis. Sisanya, impor. Tapi tergantung juga, sih, tergantung yang megang troly (Ibu -red)

  2. asyik topik yang diangkat. Buah import lebih awet dan tahan lama sehingga penjualnya tidak rugi. Coba perhatikan buah lokal lebih mudah membusuk, sehingga apabila tidak terjual dengan cepat akan membuat kerugian penjual jauh lebih banyak. Entahlah, mungkin karena buah import pake pengawet atau budi dayanya bagus atau apa? intinya memang para ahli agri indonesia harus kerja keras.

  3. monda says:

    saking konsumen pengen serba impor, buah hasil pemuliaan pakar dalam negri namanya ditukar jada nama sono.

    Belum lama kutuliskan tentang pepaya California yg bernama asli pepaya Callina, ciptaan profesor dari IPB

  4. selain mudah didapatkan, buah impor juag memiliki harga yang tidak jauh dengan yang lokal. bahkan terkadang yang impor lebih murah daripada yang lokal. kasihan sih dengan petani lokal tetapi karena barnagnya sudah dijumpai di pasaran apalagi supermarket, jadi apa yang bisa diperbuat…

  5. wah, sayang sekali, pantesan pemerintah hanya mendukung ekonomi makro sekelas perusahaan besar itu, ekonomi mikro gak didukung. lama-lama habis deh negeri ini mas gie.

  6. Jumiansyah says:

    Kok bisa gtu? Gak cinta produk dalam negri.. Harusnya dukung buah2an dalam negri agar smakin meningkatkan kualitas nya

  7. Cahya says:

    Saya kok malah lebih suka milih buah lokal ya. Rasanya lebih segar gitu :) .

  8. maselino.com says:

    Menjual juga bukan hanay sebatas komoditi saja, tapi produk itu harus dikemas sedemikian rupa agar menarik minat pelanggan.sebetulnya buah lokal gak kalah bagus dibanding buah impor,akan tetapi mereka mengemas produknya dengan promosi yang luar biasa sehingga image-nya menjadi lebih bagus.

  9. Buah lokal kasihan sekali nasibmu… kalah di negeri sendiri…

  10. zilko says:

    Kalau aku sih nggak pernah memperhatikan buahnya impor atau lokal deh. Yang penting harganya oke dan nampak segar, hehehe :) Kalau di Belanda sih kayaknya 50 – 50 ya antara yang impor dan lokal, hmmm

  11. Tiiand says:

    Kalo saya kebanyakan buah lokal mas..

  12. pasti sekarang buah-buahan tambah mahall sajaaa,,

  13. die says:

    Bukannya sombong, setiap hari makannya buah import. Alasan utama yang beli, karena kualitasnya lebih baik. Tapi kalau pisang lebih suka yang lokal, terutama buah pisang 40 hari (gak tahu nama lainnya).

  14. jarwadi says:

    saya pilih apel malang mas :D

  15. Randeezt says:

    Agrumen yang perlu di perhatikan : Buah impor lebih menguntungkan penjual, sedangkan buah lokal lebih menguntungkan petani mana yang bakal pemerintah pilih ya ?

  16. @bangsaid says:

    Barusan tadi sore nonton Investigasi : Buah Impor yang disuntik atau disemprot dg formalin

    Jadi serem :-)

  17. ded says:

    Saya berusaha membeli buah asli dari Indonesia seperti pepaya, manggis, rambutan, duku, salak, apalagi mangga.Kalau jerukpun saya tetap mempertahankan menacari jeruk pontianak atau medan, kecuali kalau anak-anak minta jeruk mandarin. :)

  18. Masa Tours says:

    hari ini terungkap dalam liputanberita di TV yang menyatakan bahwa banyak buah impor yang mengandung formalin Sob.

    Salam kenal pada kunjungan perdana.
    Sukses selalu,

  19. Jefry says:

    Kalau saya lebih suka beli buah asli Indonesia, hitung2 membantu petani kita dan ini juga sebagai bentuk menghargai jerih payah mereka selama ini
    nice share

  20. niee says:

    kalau di pontianak, makin daerah makin seneng mas.. soalnya kami lebih suka kualitas buah lokal kalimantan barat.. seperti durian yang lebih enak itu durian balai karangan (yang murah pulaaa satunya cuma 5ooo perak :D ) kalau duku (disini nyebutnya langsat) lebih sedap langsat punggur, belum lagi sempedak yang enaknya cempedak tayan.. dan siapa yang gak suka dengan jeruk pontianak!:D

  21. irmarahadian says:

    buah idola keluarga, pepaya, pisang, jeruk
    hehehe..

  22. Kira-kira solusinya apa yach.. karena sebagai konsumen, masyarakat ga ada pilihan.. bayangin aja 1 jeruk impor cina gak nyampe 1000 rupiah, paling mahal dijual satuan oleh pedagang Rp 1000.
    sedangkan jeruk lokal minimal 2000 rupiah.. kalau sudah begitu, apa ada pilihan bagi rakyat miskin? Subsidi jeruk? hmm..

  23. Wkwkwkwk, aneh banget tuh.
    Pake buah impor doanya nyampe LoL
    Kalau ayah saya, kalau dikasih buah sukanya yang lokal kalo impor gak mau wkwk :D

  24. Arinta Dp Murtoyo says:

    Untung krn hidup desa keluarga saya jarang mengkonsumsi buah impor.Dan kenyataannya buah lokal lebih maknyusss….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>