Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Blogger Bicara Lingkungan Bareng Mongabay Indonesia

Salah satu efek negatif dari perkembangan zaman adalah kerusakan lingkungan yang tak terhindarkan. Lingkungan seolah dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan miliaran penduduk dunia. Lebih jauh lagi, kerusakan lingkungan yang terjadi menyebabkan berbagai jenis hewan langka terancam punah. Baru-baru ini, tiga ekor Gajah Sumatera ditemukan mati diracun di Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau. Saat ini gajah tidak hanya dibunuh untuk mendapatkan gadingnya, tapi juga untuk menjaga perkebunan sawit. Hutan dan satwa liar telah dikorbankan karena manusia lebih mendahulukan kepentingan ekonomis dibandingkan kepentingan ekologis.

Blogger Bicara Lingkungan Bareng Mongabay Indonesia

Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan kepunahan satwa langka, beberapa organisasi nirlaba memfokuskan perhatian pada pelestarian lingkungan dan satwa langka di Indonesia. Kita mengenal organisasi lingkungan hidup seperti WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), WARSI (Warung Informasi Konservasi), WWF Indonesia, Greenpeace Indonesia, dan Mongabay Indonesia. Nama organisasi lingkungan hidup Mongabay Indonesia masih relatif baru bagi orang Indonesia. Iya, Mongabay Indonesia memang baru diperkenalkan pada bulan Mei 2012. Mongabay Indonesia baru berusia setengah tahun, namun sebenarnya organisasi lingkungan hidup Mongabay didirikan oleh Rhett Butler sejak tahun 1999.

Saya merasa beruntung bisa mengikuti acara “Blogger Bicara Lingkungan” yang dihadiri langsung oleh Rhett Butler. Hari Rabu, 14 November 2012, Mongabay Indonesia mengundang puluhan blogger untuk berdiskusi dengan tema “Ketidakjelasan Tata Ruang dan Turunnya Populasi Satwa Liar” di 1/15 Coffee, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sesampai di kedai kopi favorit di bilangan Gandaria itu, acara diskusi sudah hampir dimulai di mana Ridzki Sigit, Direktur Mongabay Indonesia, bertindak sebagai moderator. Tidak banyak blogger yang saya kenal, namun saya melihat Pakdhe @mbilung, @memethmeong, @titiwakmar, @nuuii, dan @adiitoo.

Sebelum acara dimulai, para blogger dihibur dengan penampilan Kepal Accoustic dengan lagu-lagu bertema alam dan perlawanan. Acara Blogger Bicara Lingkungan dibuka langsung oleh pendiri Mongabay, Rhett Butler. Pemilik akun Twitter @rhett_butler ini menampilkan video karya Mongabay Indonesia yang cukup menarik. Rhett Butler mengisahkan ketika pertama kali membangun Mongabay.Com pada tahun 1999. Sejak awal Rhett Butler ingin memberikan nama yang benar-benar untuk websitenya, nama Mongabay merupakan ejaan Bahasa Inggris untuk Pulau Nosy Mangabe di Madagaskar. Berkat kegigihannya, Rhett Butler berhasil menjadikan Mongabay.Com sebagai salah satu situs lingkungan hidup paling populer di seluruh dunia. Mengingat Indonesia merupakan negara tropis dengan kekayaan hayati yang tinggi, Rhett Butler akhirnya membuat proyek Mongabay.Co.Id. Hebatnya lagi, Rhett Butler membangun lama khusus Mongabay Berbahasa Jawa.

Memasuki acara inti, Ridzki Sigit memandu acara yang menghadirkan tiga pembicara yaitu Zulfahmi dari GreenPeace Indonesia, Pramudya dari JAAN (Jakarta Animal Aid Network), dan Thomas Barano dari WWF Indonesia. Bang Zul memaparkan masalah hutan saat ini sudah terlalu kompleks, mulai dari kebijakan pemerintah sampai tata kelola hutan. Tata kelola hutan yang salah mengakibatkan kerugian tidak hanya pada satwa liar tapi juga pada manusia itu sendiri. Saat ini tata kelola hutan menggunakan paradigma fungsi ekonomis dibandingkan fungsi ekologis. Mas Pram menyoroti maraknya pemindahan habitat satwa-satwa liar demi pembangunan perkebunan sawit. Padahal pemindahan habitat tersebut tidak menyelesaikan masalah dan justru menimbulkan masalah baru. Mas Barano mengungkapkan ada 15 kementerian yang berkepentingan dengan hutan dan satwa langka. Bukannya bekerja dengan baik, tumpang-tindihnya kepentingan ini malah membuat tata kelola hutan semakin semrawut.

Mas Pram mengibaratkan nasib satwa langka bagi jatuh tertimpa tangga dan diinjak-injak pula. Setelah habitat aslinya dihancurkan, mereka diburu, dibunuh, atau diperdagangkan sebagai hewan-hewan berharga mahal. Konon, Jakarta menjadi kota penghubung perdagangan satwa langka karena permintaan para penyayang hewan yang cukup tinggi. Niatnya sih untuk sayang hewan, tapi mereka tidak tahu bahwa sebaik-baiknya tempat adalah habitat asli mereka. Hal ini semakin diperparah dengan mandulnya hukum bagi para pelaku jual-beli satwa langka. Baru-baru ini Camat Kramat Jati,ย Ucok Bangsawan Harahap, ketahuan memelihara belasan satwa langka yang jelas-jelas dilindungi pemerintah. Selain tidak memelihara satwa langka di rumah, kita juga bisa membantu pelestarian satwa langka dengan menghemat kertas, tisu, dan minyak goreng karena semua barang itu dihasilkan dengan menghancurkan habitat satwa langka.

Stop Topeng Monyet

Salahnya tata ruang hutan memang membuat sudah parah sedemikian rupa. Ketika manusia masuk hutan satwa-satwa menerima kedatangan mereka, tapi ketika satwa itu masuk kampung sudah pasti dianiaya. Penataan ulang dan perbaikan tata ruang hutan sudah mendesak untuk segera dilaksanakan sebelum konflik manusia dan satwa langka semakin menjadi-jadi. Saat ini berbagai organisasi lingkungan hidup terus mendorong pemerintah untuk memberikan keberpihakan mereka pada kepentingan ekologis. Mas Pram juga mengingatkan agar kita tidak memberikan uang bagi siapapun yang melakukan pentas topeng monyet, sirkus lumba-lumba keliling, dan bentuk penyiksaan satwa lainnya. Intinya adalah satwa punya rumah mereka sendiri di hutan dan bukan di rumah manusia.

Kalau ada satwa langka yang dipelihara di rumahmu, di rumah tetanggamu, atau di rumah siapa saja, segera laporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam di kota/daerahmu. Mention @MongabayID juga boleh. ๐Ÿ™‚

4558 Total Views 6 Views Today
16 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *