Berbagi Trotoar dengan Penyandang Tunanetra

Tidak banyak yang menyadari bahwa tanggal 11 Oktober 2012 adalah World Sight Day. PBB menetapkan World Sight Day untuk menunjukkan kepedulian kepada para penyandang tunanetra setiap hari Kamis kedua di bulan Oktober. Untuk merayakan World Sight Day, organisasi Lions Club International menyumbangkan 2.150 tongkat putih kepada para penyandang tunanetra di Jakarta. Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah penyandang tunanetra di Indonesia mencapai angka 3,5 juta jiwa atau 1,5 persen dari total penduduk. Persentase jumlah penyandang tunanetra di Indonesia itu merupakan yang tertinggi di benua Asia.

Berbagi Trotoar dengan Penyandang Tuna Netra

Meskipun persentase jumlah penyandang tunanetra di Indonesia cukup tinggi, keberpihakan pemerintah pada kaum difabel ini belum terlihat nyata. Di Jakarta, misalnya, penyandang tunanetra masih belum mendapatkan fasilitas khusus sesuai kebutuhan mereka. Selama ini saya perhatikan hanya ada beberapa trotoar yang menyediakan Signing Block untuk membantu para penyandang tunanetra. Signing Block itu seharusnya ada di semua trotoar namun biasanya hanya ada di depan pintu gerbang, seperti di depan pintu masuk Gedung Bank Indonesia.

Signing Block tersebut merupakan standar internasional untuk membantu para penyandang tunanetra berjalan di trotoar berdampingan dengan pengguna trotoar lainnya. Signing Block diberi warna kuning untuk memperingatkan kepada pengguna lain bahwa jalur itu hanya boleh digunakan untuk para penyandang tunanetra. Signing Block dibuat dengan dasar yang memiliki kontur tertentu sehingga mudah dikenali penyandang tunanetra dengan tongkatnya. Di trotoar lurus, Signing Block memiliki kontur yang terdiri dari (biasanya) empat garis. Sedangkan di persimpangan atau di depan pintu masuk, Signing Block memiliki kontur yang berbentuk bulatan-bulatan kecil.

Sekitar seminggu yang lalu, beberapa pekerja tampak sedang membuat Signing Block di trotoar depan Ratu Plaza Senayan. Tentu ini menjadi kabar gembira bagi para penyandang tunanetra di Jakarta. Pembangunan jalur Signing Block selebar 20 cm ini akan dilakukan di trotoar sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin. Dalam tahap awal ini, pembangunan Signing Block baru dilakukan di sisi Barat “jalur naga” itu, dimulai dari trotoar depan Ratu Plaza Senayan sampai trotoar depan Gedung Bank Indonesia. Tadi pagi ketika saya berangkat ke kantor, pembangunan Signing Block sudah sampai menjelang Bundaran Semanggi. Proyek yang menggunakan anggaran sebesar 900 juta Rupiah ini berjalan lancar seiring keinginan para penyandang tunanetra yang merindukan trotoar yang ramah bagi mereka.

Kalau nanti sudah pembangunan Signing Block ini sudah selesai, kamu mau berbagi trotoar dengan penyandang tunanetra? Berbagi trotoar dengan pengguna sepeda motor aja mau. #eh

Jakarta Gie

33 thoughts on “Berbagi Trotoar dengan Penyandang Tunanetra

  1. saya kalau lihat orang buta selalu merasa bersalah.. pernah tidak sengaja tidak melihatnya sehingga dia menabrak mobil saya yang diam. hiks.. jadi pas lihat tulisan ini, tiba tiba merasa bersalah banget… Thanks sudah diingatkan.

  2. Mudah-mudahan makin banyak lagi tempat-tempat umum yang peduli pada saudara kita yang ‘berkebutuhan’. Karena sebenarnya kita dan mereka memiliki hak yang sama pada setiap fasilitas publik, jadi sudah sepantasnya mereka juga bisa beraktifitas di mana saja dengan nyaman. :)

  3. Meski sekolah saya sekolah umum, tapi pernah menerima murid tuna netra dan Alhamdulillah berhasil lulus dengan nilai memuaskan.
    Saat pelajaran, dia mendengarkan keterangan guru lalu ditulis dengan alat khusus yg menghasilkan huruf braille.
    Dia juga pinter main catur…

  4. nah pemerintah nya keren kalo gini, 900 juta dikeluarkan untuk hal yang bermanfaat seperti ini, …
    btw saya belum bisa bayangin signing block itu kayak gimana..ntar deh saya googling dulu :-)
    thx infonyaa

  5. Kondisi trotoar sekarang makin parah (atau emang udah parah dari dulu ya). Jangan ada trotoar, masih banyak jalanan yang tidak isi trotoar. Kalau pun ada, kondisi tidak layak disebut trotoar. Jangankan berbagi dengan para tuna netra, untuk yang normal saja susah berjalan disana karena kondisi trotoar yang memprihatikan.

    Trotoar yang bagus hanya ada di pusat kota dan itu pun di tempat-tempat tertentu yang dipentingkan untuk terlihat bagus dan indah, bukan untuk kenyamanan pejalan kaki apalagi yang tuna netra. Itulah realita yang ada menurut saya.

  6. Biasanya trotoar malah menjadi tempat jualan pedagang kaki lima. Pejalan kaki harus turun ke jalan. Itu pun harus agak ke tengah, karena pinggiran jalan dijadiin tempat parkir sepeda motor. Wah, bahaya, soalnya bisa keserempet bus kota. Jadi harus ekstra hati-hati….

  7. Semoga para penjual kaki lima juga tahu diri dan sadar kalau mereka sering merampas hak pejalan kaki. Kalau sampai berani merampas hak penyandang tuna netra juga, entahlah ……. :)

  8. Ya harusnya motor dulu yang disingkirin sebelum mengutarakan pertanyaan itu, Gie! Eh tapi pengendara motor yang di trotoar pun buta kok ya? :)

  9. jujur aku barutahu soal signing block ini.

    semoga para penjual yang menjajahkan dagangannya di atas trotoar segera sadar. termasuk mereka-mereka yang memarkirkan motornya di atas trotoar :(

  10. saya malah gamau berbagi dengan pengendara motor mas
    sayangnya mereka gatau diri sih(kadang-kadang saya juga sih)

    itu beneran sampai di BI? lumayan panjang juga
    bagus nih proyeknya

  11. Alangkah baiknya bila kepedulian terhadap mereka tak hanya di hari Kamis minggu ke-2 bulan Oktober saja ya tapi di hari2 biasa juga
    Ide yang bagus untuk berbagi trotoar dengan mereka, salut dengan pemerintah tumben2nya peduli hehe..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *