Salah satu yang menarik dari Festival Jurnalisme Warga Kencangkan Suaramu adalah workshop fotografi. Sebenarnya ada dua workshop yang diselenggarakan, yaitu workshop menulis dan workshop fotografi. Awalnya saya ingin mengikuti keduanya, namun karena waktunya bersamaan saya akhirnya memilih workshop fotografi. Alasannya sederhana, sebagai orang yang baru belajar fotografi saya merasa perlu kritik dari fotografer profesional. Menariknya lagi, saya dan peserta lain ditantang untuk memotret foto jurnalistik di sekitar Museum Nasional.
Di bawah matahari yang sangat terik siang itu, saya bersama 29 peserta lainnya berburu foto jurnalistik. Untuk mencari ide foto jurnalistik sebenarnya tidak begitu susah karena Mas Gunawan Wicaksono sudah memberikan banyak contoh foto jurnalistik pada sesi workshop sebelumnya. Tidak perlu jauh-jauh dari lokasi festival, para peserta bisa menemukan objek foto yang mengandung nilai jurnalistik. Mulai dari para pekerja yang sedang memperbaiki bangunan museum sampai para penjaja makanan di depan museum.
Saya ingat salah satu tips Arbain Rambey bahwa dalam kompetisi fotografi sebaiknya menghindari “angle” sejuta umat. Saya mencoba sebisa mungkin menerapkan tips itu. Namun mungkin karena terlalu bergerombolnya peserta akhirnya banyak peserta yang mengambil bidikan dengan “angle” yang tidak berbeda jauh. Karena itu saya mencoba menghindari “kerumunan” peserta lain. Mulai dari depan pintu gerbang museum, para peserta mulai menyeberang sampai halte busway Monumen Nasional. Saya sendiri sempat “mlipir” menjelajahi Museum Nasional ketika peserta lain berburu foto di sisi luar museum.

Setelah sekitar dua jam hunting foto, para peserta harus kembali ke ruangan workshop untuk mengikuti sesi evaluasi foto. Karena baru pertama kali ikut workshop fotografi, saya tidak menyiapkan diri untuk memilih foto yang akan dievaluasi. Setelah dilihat ternyata banyak juga foto yang saya bidik dan itu membuat saya bingung foto mana yang akan disetor. Akhirnya saya memilih foto yang saya beri judul “Dilarang Parkir”. Mas Gunawan Wicaksono, Mas Amston, dan Mas Bekti yang bertindak sebagai evaluator memberi masukan agar saya memperhatikan komposisi dan orisinalitas ide foto.







Sekarang giliran Anda untuk memberikan kritik dan saran untuk foto-foto saya tersebut.






betul sob… kompisisinya.. coba sedikit kebawah dikit. atau diambil dari angle lain agar bisa persis mobilnya diparkir dibawah lambang di larang parkir
Sudah dicoba sih, Sob. Harusnya dari tengah jalan, namun sudah ditunggu-tunggu tapi jalannya enggak pernah sepi..
Kalau saya tidak dalam kapasitas pemberi ide atau kritik.
Tapi saya suka foto bertukar kisah, realitas kehidupan jalanan.
Angle nya juga cukup bagus *?.??ª?ª?—.??ª?ª?•••… sotoy
yaampun mbak Wanda cantik banget.. *salahfokus*
fotone apik2 kabeh …
coba kalau foto “gunakan pengaman” dishoot dengan eagle view, hihi. maksudnya menfoto dari helikopter ::D
aiih saya sih ngga kompenten mengevaluasi, foto fotonya sudah talk so much ::)
Yap, soal orisinalitas ide foto. Itu kan kata lain juga dari foto sejuta umat. Memang, pada saat yang sama, bisa jadi tak banyak yang menangkap momen itu, tapi kan sebelumnya memang telah ada sejuta umat menghasilkan gambar yang [hampir persis] sama.
Coba cari ide lain! *pura2 jadi Arbain*
Iya, saya manut aja sama Ibu Arbain.
Lho, foto fotografer-nya kok ndak ada
.
Fotografer tugasnya motret, Bli, bukan malah dipotret..
SLR baroo ni mas…
Photo ‘gunakan pengaman’ keren euyy,, ngeri jatuhnya langsung berasa bagi saya..
# ngasih masukannya gimana, lha wong saya mhoto pakai HP kok Gie, ilmunya belum ada, apalagi kameranya
wah keren ik..
sering2 dong posting ttg fotografi jurnalisme warga, saya juga suka soalnya
sl2r mahal, jadi cuma bisa menikmati foto2 indah diatas.
Berniat menjadi ‘tukang foto’ profesional ya mas?
Gak bisa ngritik, soalnya gak paham fotografi yang baik
Cuma bisa bilang foto-fotonya keren dan punya cerita..
foto yang bercerita…
aku sering nggak berani moto sendiri. takut nggak penak sama yang difoto.
Sebage seorang photomodel, saya sangat tergantung sama kalian wahay photgrafer, mari bekerja sama denga baik
hokakakakaak…
Kalau begitu, kapan-kapan jadi model saya boleh dong..
Mas Gie, aku gak ngerti fotografi jurnalisme, jadi gak bisa kasih kritik. Aku hanya bisa kasih nilai A karena fotonya sdh bercerita. Terutama yg paling bawah, di belakang ada pengumuman dilarang jualan, eh kok jualan strawberry juga. Apa kurang cukup panjang pengumumannya yah. Dilarang berjualan di dalam maupun luar pagar
MantaBP foto2nya, sekali2 mau donk difoto
. Mampir2 Kawan…
foto yang mbak wanda itu bening banget mas *salah fokus*
Samapi saat ini saya masih sedikit bingung dengan fotografi jurnalisme mas. Fotonya harus mengandung berita kah?
itu foto2 mas Gie? Aih, keren. Ditambah caption di bawahnya jadi lebih jelas ceritanya.
Keren ini.. KAMERANYA apa
Kameranya silihane Om Mickey..
Wuaaah foto fotonya bagus banget… apalagi yang bertukar kisah di jalanan diatas itu… saya suka banget… kamera nya apa ya? hasilnya bagus banget
ckckckck.. tak sanggup koneksi ku membuka artikel ini utuh
soal foto saya acungi jempol, keren-keren, hanya saja loading pagenya berat bangeetttt
kegedean photo
Saya ingin sekali belajar Fotografi seperti Mas Gie
out of focus, tapi Wanda itu cantik sangat ya!
Saya suka yang “Dilarang Parkir”. Atmosfernya asik, saya menyebutnya sebagai foto “once upon a time”
Mungkin saya awam di bidang fotografi, tetapi menilai foto-foto hasil bidikan Anda bagus. Pesan yang mau disampaikan pada gambar, unik dan “mengena”. Misalnya dokar dibanding mobil mewah Alphard. Yah…salam kenal aja, numpang lewat, selamat dan sukses selalu untuk Anda.
Salam kompak:
Obyektif Cyber Magazine
(obyektif.com)
foto yang paling atas “Dilarang parkir disini, kecuali plat merah”
Pesannya oke juga tuh