Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Belajar Bersyukur dari Petani Cabai di Klaten

Tadi pagi saya iseng jalan-jalan ke Pasar Pedan, Klaten. Rasanya sudah lama sekali saya tidak “wagen” ke Pasar Pedan. Wagen dalam bahasa Jawa berasal dari kata Wage, yang merupakan salah satu hari pasaran di budaya Jawa. Jadi Wagen bisa diartikan “pergi ke Pasar Pedan di hari Wage”. Ada yang menarik dari obrolan para pedagang cabai yang saya dengar tadi. Meskipun harga cabai mulai naik menjelang bulan puasa ini, harga cabai di kalangan petani sangat rendah. Di daerah Klaten, wilayah pertanian cabai banyak terdapat di lereng Gunung Merapi. Pada panen raya pertama kali ini, para petani cabai di Kecamatan Balerante hanya menjual seharga Rp. 3.000,- rupiah per kilonya.

Harga yang hanya Rp. 3.000,- per kilo itu turun drastis dari panen raya sebelumnya yang mencapai Rp. 40.000,- per kilo. Lebih jauh lagi bila dibandingkan dengan harga cabai bulan Januari 2011 lalu yang bisa mencapai harga Rp. 120.000,- per kilonya. Menjelang bulan puasa kali ini, harga cabai di pasaran sudah mulai merangkak naik. Cabai rawit merah naik dari Rp. 20.000,- menjadi Rp. 25.000,- per kilonya, harga cabai lalap hijau naik dari Rp. 6.000,- menjadi Rp. 7.000,- per kilonya, dan harga cabai cabai keriting merah naik dari Rp. 3.500,- menjadi 4.500,- per kilonya. Meskipun para petani memperkirakan ada permainan harga di kalangan tengkulak, mereka tetap bersyukur dengan harga Rp. 3.000,- per kilo itu.

Bila kita bertanya pada para petani cabai di Kecamatan Balerante itu, mereka kerap menjawab seperti ini, “Masih bagus ada yang mau membeli cabai kami, kalau tidak ya hanya bisa dipakai sendiri..” Karena cabai mudah busuk kalau disimpan terlalu lama, maka harga yang pas-pasan itu sudah cukup bagi para petani itu. Tak hanya bersyukur karena ada yang membeli cabainya, para petani cabai itu pun masih bisa bersyukur karena kali ini hanya menggunakan pupuk kandang. Selain itu para petani itu tidak perlu menggunakan pestisida karena pada musim ini tidak ada hama cabai sama sekali.

Saya lalu merasa tersentil dengan para petani yang sangat pandai bersyukur ini. Saya lalu bertanya-tanya pada diri sendiri, bila hasil kerja saya dihargai dengan nilai rendah, apakah saya bisa bersyukur?

10823 Total Views 2 Views Today
55 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *