Mengunjungi Kecamatan Bayat di Kabupaten Bayat seolah memang seperti pedesaan Jawa pada umumnya. Kebanyakan penduduk Bayat mencari nafkah di sawah sebagai petani dan sebagian ada yang menjadi perajin gerabah. Salah satu yang terkenal dari Bayat adalah makam Ki Ageng Pandanaran atau sering juga dipanggil Sunan Bayat. Ki Ageng Pandanaran awalnya menjadi pendatang di Bayat atas perintah Sunan Kalijaga untuk menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Selatan Kabupaten Klaten itu.

Tidak hanya menyebarkan agama Islam, Sunan Bayat juga mengajarkan seni membatik kepada para penduduk Bayat, khususnya di Desa Paseban. Sunan Bayat berharap keterampilan membatik itu kelak berguna bagi penduduk Bayat untuk memenuhi kebutuhan sandangnya. Seni batik tulis Bayat kemudian terkenal sebagai batiknya Wong Klaten. Meski telah banyak modifikasi batik tulis Bayat secara kontemporer, batik Bayat juga masih mempunyai motif ciri khas, seperti Gajah Birowo, Pintu Retno, Parang Liris, Babon Angrem, dan Mukti Wirasat. Semua motif batik Bayat ini dominan dengan warna soga atau kecoklatan yang identik dengan warna batik Kasunanan Surakarta.
Sipon, salah satu perajin Batik Bayat, menuturkan bahwa batik Bayat kurang menonjol karena dominasi batik Kasunanan Surakarta dan batik Kasultanan Yogyakarta. Sekitar 50 perajin batik tulis di Bayat justru lebih sering menerima pesanan dari sentra batik di Solo dan di Jogja. Dulunya, Sipon adalah pegawai di Danar Hadi Solo sejak tahun 1973. Namun tiga tahun lalu, Sipon mendirikan sentra batiknya sendiri yang ia beri nama Batuk Tulis Tradisional Warna Alam Retno Mulyo. Dengan modal awal Rp. 75 juta, sekarang Sipon bisa menerima pesanan dari Danar Hadi Solo dan mengerjakan pesanan itu di sentra batiknya di Bayat. Sekarang batik karya Sipon telah menembus Solo, Jogja, Semarang, dan bahkan Jakarta.
Tidak hanya Sipon dan rekan-rekan seangkatannya, para penerus Sipon pun tetap melestarikan batik Bayat. Sebut saja Dyah Evi Kurniasari, seorang sarjana teknik industri dari Universitas Islam Indonesia, yang kembali ke kampung halamannya dan meneruskan usaha batik Bayat yang telah dirintis keluarganya itu. Dyah Evi Kurniasari mengembangkan Batik MY warisan keluarganya itu dengan berbagai inovasi. Tidak hanya digunakan untuk jarit, batik MY milik Evi juga digunakan sebagai pakaian sehari-hari, sarung bantal, penutup tempat tidur, dan bahkan untuk hiasan batik. Dengan begitu, batik Bayat diharapkan bisa bersaing dengan batik-batik modern.
Lain lagi dengan apa yang dilakukan Putri Danis Mahmudah. Siswi SMKN 1 ROTA, Bayat, ini menjadi juara pertama lomba Youth Speak Writing Competition berkat tulisannya tentang batik Bayat. Kompetisi menulis yang diadakan The Jakarta Post ini mengangkat tema “My City, My Heritage”. Sebenarnya ada teman Putri yang juga menulis tentang batik nusantara, namun karena ketertarikan Putri dengan batik Bayat maka Putri menghasilkan tulisan berjudul “Bayat, My Heritage Village”. Putri sendiri tak menyangka bisa memenangkan kompetisi ini karena menurutnya ia menulis itu hanya untuk memenuhi permintaan yayasan yang membangun sekolahnya.
Tidak disangka berkat tulisannya itu, Putri ikut mempopulerkan batik Bayat. Dalam tulisannya itu, Putri bercerita tentang kisah batik Bayat yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Putri mendapatkan kisah-kisah itu dari neneknya yang juga seorang pembatik. Ibunya, Idaningsih, juga seorang pembatik. Ayahnya, Sigit Waluyo, juga bekerja sebagai pencampur warna di usaha batik Sapto Hoedojo di Yogyakarta. Pantas saja bila darah seni batik tulis Bayat menjadi semangat Putri untuk mendalami ilmu tekstil di sekolahnya. Kelak penerus-penerus seperti Putri ini yang akan menjadi harapan dalam pelestarian batik Bayat yang menjadi ikon batik Klaten.
Ilustrasi diambil dari BatikBayat.Com


Batik Bayat sepertinya terlihat memang lebih bercorak darat dengan warna coklatnya. Tapi semakin hari tentunya ciri khas semakin ditentukan oleh kreativitas orang2 yg mengerjakannya.
Semoga corak batik ini tetap menjadi perhatian generasi muda untuk menjadi generasi tak lupa sejarah dan budaya
Iya, Mas..
Mohon doanya ya, Batik Bayat adalah salah satu budaya di Kabupaten Klaten, tanah kelahiran saya..
Setelah baca ini, saya langsung buka mesin pencari Mas. Cuma pengen tahu coraknya batik Bayat hehe..
Iya, Masbro..
Batik Bayat memang harus tetap lestari memperkaya budaya negeri..
waaah… ragam batik itu banyak juga ya. Di Banten jg ada yg namanya Batik Banten. Laen kali saya cerita di blog juga ahh
Kalau di Bangka Belitung silahkan dibagikan disini juga ya, Bang..
maaf nie gan, gambar sample batiknya mana nich? hmm tak tunggu low ya,,.. coz agak tertarik aku
Sudah available tuh, Mas..
Maaf ya agak telat.. Hheee
Sama dengan komen di atas. Saya pengen tahu seperti apa coraknya. Ada fotonya mas?
Sudah dilihat belum, Mas?
Baru tau aku kalau ada batik bayat ternyata… Beberapa kali aku main ke Bayat dan kupikir di situ hanya ada sentra keramik saja.
Sama dengan dua komen di atas, foto! foto!
Lha sampeyan Wong Klaten opo dudu to, Mbah?
Yap, selain keramik atau gerabah, Bayat punya batik. Tapi aku sendiri juga nggak tau di sebelah mana sentra batiknya.
Kalau keramik atau gerabah sih, sering beli.
Besok borong batik Bayat lho ya..
pingin beli untuk dipakai lebaran bulan depan.
Bulan depan masih puasa, Mas..
Buat lebaran bulan lusa aja.. Hhee
Sebelah ndi to mas ? aku biasane malah neng pasar klewer ato beringhardjo je …
Klaten bagian selatan, Mas..
Kalau dari Gunungkidul malah dekat..
batik di Indonesia memang sangat beragam ya ?
dulu saya kira batik Jawa itu sama saja, ternyata ragamnya banyak.
betapa kayanya negeri kita..
Kalau sedang ke Jogja atau ke Solo bisa mampir ke Bayat lho, Daeng..
Patut di contoh itu, mengharumkan Batik Bayat.
Klo sya sh apa yh ?
Yang penting Cinta Indonesia, Mas..
suka dengan yg berbau batik pokoknya..
Terima kasih sudah Indonesia banget..
Keliatannya menarik mas, tapi saya lebih selera dengan batik abstrak. gak pake gambar burung!
Sama mas, saya juga gitu
Tapi nggak terpatok juga sih.
Kalo emang bagus, saya biasanya beli.
Tapi…saya baru punya 2 baju batik, wkwkwkw…
Mas Masyhury,
Lha kok enggak suka burung, lebih alami gitu kesannya..
Mas Zippy,
Kok baru dua batiknya, tambah selusin lagi dong..
sedang membicarakan basuski timbul kadir tha ?
Opo to iki?
kalau untuk era sekarang ini, kira2 bentuk kreasi yang bernilai abadi seperti ini dalam bentuk apa ya?!?!? :p
Batik akan lebih kuat karakternya bila seperti aslinya..
Mudah2an yang jadi warisan ga cuman batiknya, tapi ke-Islam-an nya juga
Yak, seni dan agama memang seharusnya beriringan..
Kalau batik bayat malah saya baru tau. Mungkin karena kalah populer dengan batik solo atau jogja.Semoga batik di tiap-tiap daerah tetap dipertahankan dan dilestarikan.
Masih banyak kah anak-anak muda yang bisa membatik..?
Kalau di Bayat masih banyak, Mas, makanya Batik Bayat masih lestari..
come back gan..!! alhamdulilah gambare dah nongol… hmm bagus yow batikke…
Terima kasih sudah menunggu ya..
saya orang sulawesi , gak ada batik disini
Pasti ada kain-kain tradisional, sama klasiknya seperti Batik Bayat..
ga suka motif nya….lebih suka motif abstrak dan kecil-kecil
Iya, Mas..
Selera orang memang beda-beda,,
mas… kemana ya mas Gie
Saya disini, Mas..
waduh baru tahu kalau klaten juga punya ciri khas batik sendiri padahal cuma kota tetangga doank
Lha, Mas Fajar tinggal dimana? Solo apa Jogja?
Walau bukan orang Bayat, tapi saya bangga juga jadi orang Klaten
Wah Klatenipun pundi, Mas?
Kulo Karangdowo..
batik bayat, dicatat buat pengetahuan baru
Dicatat di buku pelajaran ya, Mas..
Baru tahu motif itu ciri Batik Bayat. Nice post!
Semoga pengen dan tertarik untuk mengkoleksi Batik Bayat ya, Mas..
Selama ini saya taunya Bayat itu ya markase sego kuching, jebul potensi liyane akeh tho
Lha lak sego kucing pusate yo Trucuk, Mas..
Batik Danar Hadi memang memesan koleksinya dari mana mana. Dan dari Bayat Klaten juga ya
Ternyata ada begitu banyak jenis batik yg dimiliki Indonesia. Too bad sekali klo tidak dikembangkan. Semoga batik semakin berkibar. Tano Batak jg ada batik Batak, entah sdh ada sejak dulu or jd ikut jg menjaga kelestarian batik Indonesia dgn membatik juga, saya kurang tahu kapan tepatnya.
Kebetulan saya tanggal 14 Juli 2012 pulang ke Klaten (saat ini saya tinggal di Bogor), kebetulan juga pas ultah Klaten ke 208 tahun, pada acara itu saya baru tahu kalau ada Batik Bayat…akhirnya saya beli, bagus juga nih kalau dipasarkan di Bogor…
Pingback: BATIK BAYAT « putrikawung
mbuh piye iki, angger ketemu wacana tentang klaten pokoke dilahap, opomeneh sing mambu2 seni budaya…ludes… (maklum kali yo lagi merantau
)