Bajaj menjadi salah satu moda transportasi yang bisa ditemukan di Jakarta. Karena perkembangan jaman, moda-moda transportasi baru pun bermuculan, misalnya busway. Namun keberadaan bajaj tetap bertahan meskipun sedikit tersisihkan. Biasanya bajaj mudah ditemukan ngetem di dekat terminal, stasiun, atau pasar. Di jalanan ibukota, bajaj mudah dikenali dari suaranya yang khas dan kadang dari asap hitam yang mengepul dari knalpot bisingnya.

Bajaj pertama kali diperkenalkan pada tahun 1975 sebagai moda transportasi alternatif di Jakarta. Pada tahun itu bajaj mulai diimpor dari India dan bajaj dinamakan sesuai dengan nama produsennya, Bajaj Auto. Beberapa tahun terakhir produsen bajaj itu juga memperkenalkan sepeda motor Bajaj Pulsar di Indonesia. Sejak pertama diimpor pada tahun 1975, bajaj semakin populer di Jakarta dan impor bajaj semakin meningkat. Karena dirasa jumlahnya terlalu banyak, Pemprov DKI Jakarta melarang impor bajaj pada tahun 1980.
Pada tahun 1982 pemerintah menerbitkan peraturan penertiban bajaj namun sampai sekarang bajaj tetap bertahan di Jakarta. Bajaj dilarang karena menimbulkan polusi udara dan juga polusi suara. Pemerintah secara perlahan juga mulai merencanakan untuk membersihkan Jakarta dari bajaj-bajaj itu. Salah satu caranya adalah dengan cara menghapuskan Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi sopir bajaj. Perlahan-lahan bajaj pun mulai “ditertibkan”, sama seperti halnya bemo dan becak yang sudah langka di Jakarta.
Tahun 2001 pemerintah mulai memperkenalkan moda transportasi baru yang diberi nama “kancil” yang merupakan kepanjangan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah. Kancil ini sengaja diperkenalkan untuk menggantikan bajaj yang sudah semakin tua dan bising. Kancil ini mirip dengan bajaj namun sedikit memiliki perbedaan. Bajaj mempunyai tiga ban sedangkan kancil mempunyai empat ban. Namun sampai sekarang kancil tak terlalu banyak jumlahnya satu kancil baru bisa beroperasi bila ada satu bajaj yang mati izin operasinya.
Pemerintah kemudian meluncurkan program peremajaan bajaj lama menjadi bajaj berbahan bakar gas pada tahun 2006. Namun program ini tidak berjalan mulus di lapangan. Para pemilik bajaj lama malas mengurus peremajaan itu, apalagi sopir bajaj yang menyewa dari pemiliknya. Biasanya pemilik bajaj hanya memberikan fotokopi STNK kepada sopirnya. Saat dilakukan razia bajaj, banyak bajaj yang kena tilang. Bahkan bajaj-bajaj bodong kerap terjaring razia.
Menurut data Dishub DKI Jakarta saat ini terdapat sekitar 28.000 bajaj di seluruh wilayah Jakarta. Dari jumlah itu, sekitar separuhnya adalah bajaj bodong. 14.000-an bajaj bodong itu berasal dari bajaj yang tidak diurus surat-suratnya dan juga ada bajaj curian. Harga bajaj saat ini sekitar 24 juta namun bajaj curian bisa dibeli hanya dengan harga 5 juta. Akhir-akhir ini banyak bajaj bodong yang terkena razia dan bila pemilik tidak bisa menunjukkan STNK aslinya, katanya bajaj-bajaj bodong itu akan dimusnahkan.
Perlahan-lahan bajaj akan “dimusnahkan”. Hayo siapa yang belum pernah naik bajaj, silahkan mencoba si oranye ini sebelum benar-benar punah.



Ingat Bajaj ingat sinetron Bajaj Bajuri,sayang tidak ada kelanjutannya sekarang
Ya, mungkin sama nanti sama Bajaj Bajuri, mungkin semuanya akan sirna.. #kemudianhening
Sayang sekali bang,
pas ke jakarta. Lupa naik bajaj.
Kalau naik motor bajaj pulsar aku udah sering bang.
aku juga belum pernah naik bajaj seumur hidup, mas gie ngga ngajak aku naik bajaj sih
ndeso banget ini orang, pesawat naik bajaj engga…
Untungnya udah pernah naik bajay…. Lumayan keder2 kalo abis turun dari bajay hehehehehe……….
Hhahahaa..
Itu karena terbiasa naik taksi kali..
Di India (New Delhi dan sekitarnya) bajaj masih mendominasi dg warna kuning ijo, ukurannya sedikit lbh besar, malah bisa memuat sampai 12 org untuk angkutan antar kota! Hahahaha…
Itu bajaj apa busway ya? Kok muatnya bisa banyak gitu?
Seumur ini aku belum pernah naik bajaj mas Ghie, soale di tempat ku ngga ada. Dulu pernah lihat kancil,… 3 bulan aja udah ngilang.
Lha mbok dicoba naik bajaj, biar enggak penasaran.
zaman saya kecil di Jakarta dulu, saya suka pakai bazaz
Dulu pas masih tinggal di Bekasi dan main-main ke Jakarta, saya sering banget naik Bajaj. Itu termasuk kendaraan favorit, karena murah dan lebih cepat daripada becak. Apalagi kalau supirnya jago, wah, perjalanan jadi lebih singkat. Asal jangan naik bajaj yg supirnya “ngaco”, karena bisa-bisa malah hidup kita yg jadi singkat, haha….
Dulu, kalau ke Jakarta, saya lumayan sering naik bajaj. Sekarang, udah jarang.. Justru saya sekarang kalau di Jakarta, lebih sering naik ojeg. Meski rada-rada takut, tapi ojeg lumayan bisa menjadi solusi melawan macet Jakarta..
loh yang biru mau dikemanakan…bukanya masih ada bajaj BBG…??
belum pernah naik bajaj mas.. semoga bisa naik bajaj sebelum semuanya musnah. hehehehe
Bajaj Bemo untung udah pernah naik semua mas sebelum dimusnahkan
Bemo masih ada beberapa Mas, di Pasar Benhil..
Hehe… India hebat euy. Sudah sejak dulu bisa memproduksi kendaraan yang dibutuhkan negara lain.
Syukurlah saya sudah pernah naik bajaj, Mas
Hehee..
Kakaakin kan memang sering ke Jakarta..
Naik bajaj it yang ga nahan, tremornya
Aku pernah naik bajaj beberapa kali, turun2 rasanya kesemutan semua
Nah kalau itu sih salah satu gejala penuaan diri, Mbah..
saya kalo gak kepepet banget gak pilih naik ojek mas. bener2 di luar nyaman deh. kalo gak diburu waktu dan jarak masih wajar, mending jalan kaki aja deh… hahaha…
kok nulisnya ojek sih… -___-” typo parah! maksudnya bajaj mas… hahaha…
Beengawan Solo Riwayatmu dulu…
Ya aku belum pernah coba mas… DiJogja ga ada sih, yang ada Andong dan Dokar…
moga2 BAJAY jangan di musnahkan . . . masalah aku supir bajay . . .