Baduy Dalam, Antara Kearifan Lokal dan Pelayanan Kesehatan

Baduy Dalam merupakan salah satu masyarakat adat yang masih mempertahankan adat leluhurnya di tengah kehidupan yang semakin modern. Sampai saat ini, orang Baduy Dalam masih enggan menggunakan kendaraan apapun. Kalau berpergian kemanapun, orang Baduy Dalam masih berjalan kaki tanpa alas. Saya masih ingat Ayah Mursyid, tokoh adat Baduy Dalam, yang berjalan kaki dari Baduy Dalam ke Jakarta selama hampir seminggu untuk menghadiri acara peluncuran buku “Saatnya Baduy Bicara”. Selain berjalan kaki tanpa alas orang Baduy Dalam juga pantang untuk menggunakan sabun.

Anak-anak Baduy Dalam
Ilustrasi dari StandardBerita.Com

Sesuai adat leluhurnya, orang Baduy Dalam juga buang air langsung ke sungai. Rumah-rumah di Baduy Dalam juga sangat sederhana dengan dinding bilik bambu dan atap anyaman daun. Rumah-rumah itu hanya memiliki satu pintu dan tak memiliki jendela. Orang Baduy Dalam juga hidup tanpa listrik, jadi kalau malam hari suasana tiga kampung di Baduy Dalam sangat gelap. Saat ini tercatat ada 1.066 orang Baduy Dalam yang tersebar di tiga kampung, yaitu 516 orang di Kampung Cibeo, 387 orang di Kampung Cikeusik, dan 163 orang di Kampung Cikertawana.

Sayangnya, saat ini sedang terjadi KLB (kejadian luar biasa) radang paru-paru (bronkopneumonia) di perkampungan Baduy Dalam. Dalam rentang 1,5 bulan terakhir, ada empat anak meninggal di Kampung Cibeo karena radang paru-paru (bronkopneumonia). Selain itu, saat ini ditemukan 13 anak di Baduy Dalam yang menderita bronkopneumonia dan 27 anak lainnya yang menderita batuk disertai demam dan sesak nafas. Rentang umur anak-anak Baduy Dalam yang menderita radang paru-paru adalah 1 sampai 11 tahun. Perut anak-anak itu buncit, tulang rusuknya tampak, dan nafasnya tersenggal-senggal.

Bronkopneumonia bisa disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur yang menyerang saluran pernapasan. Yang paling sering terjadi adalah infeksi bakteri pada saluran pernapasan. Umumnya bakteri yang sering ditemukan pada kasus radang paru-paru adalah bakteri spesies pneumoniae, seperti Steptococcus pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae, sehingga penyakit yang diakibatkannya diberi nama Pneumonia. Karena sistem sanitasi di Baduy Dalam yang masih sangat tradisional, penyebaran penyakit bronkopneumonia bisa lebih cepat. Hal ini diperparah dengan terbatasnya fasilitas kesehatan medis di kampung orang Kanekes ini.

Puskesmas yang paling dekat dari Baduy Dalam adalah Puskesmas Cisimeut yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar tiga jam dari Baduy Dalam. Baduy Dalam bukan menjadi satu-satunya prioritas pelayanan Puskesmas Cisimeut ini karena puskesmas yang memiliki satu dokter dan sebelas bidan ini membawahi enam desa di wilayah Kecamatan Bojongmanik. Kunjungan rutin petugas kesehatan ke Baduy Dalam hanya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Terakhir dilakukan pada bulan Desember 2011 lalu, ketika itu belum ditemukan kasus bronkopneumonia ini.

Selain minimnya kunjungan kesehatan, masyarakat Baduy Dalam juga tidak segera melaporkan penyebaran penyakit bronkopneumonia ini. Petugas kesehatan sudah menghimbau masyarakat Baduy Dalam untuk segera memberi tahu petugas bila terjadi sesuatu. Petugas kesehatan juga sudah menawarkan untuk membangun fasilitas kesehatan di dalam wilayah Baduy Dalam, namun warga Baduy Dalam belum menyetujuinya. Tampaknya petugas kesehatan harus bekerja keras agar kasus meninggalnya empat anak Baduy Dalam itu tidak berlanjut. Kalau tidak, penyakit bronkopneumonia bisa mengancam kelestarian suku Baduy Dalam.

30 thoughts on “Baduy Dalam, Antara Kearifan Lokal dan Pelayanan Kesehatan

  1. Mohon maaf mas Gie. Saya sarankan agar adat leluhur mereka yang memperbolehkan buang air langsung ke sungai itu diubah pelan-pelan. :) Misalnya dengan membuatkan WC. Soalnya itu mencemari sungai lho.

  2. saya pernah ke baduy gan,
    tapi ngga sempat kebaduy dalamnya,sebab beberapa teman kerasukan, mungkin karena letih kali yaa…
    prihatin juga gan kalau penyakit modern sudah memasuki baduy dalam, sebab mereka sangat anti terhadap modernisasi, tapi bila telat penanganannya bisa2 justru membahayakan para wisatawan..

  3. Wuah wuahh… Sampai sekarang belum sampai di Baduy, padahal pingin banget!.

    Mudah-mudahan penduduk disana segera dapat fasilitas yang seharusnya seperti di kota besar. Indonesia, indonesia. Benarkah Baduy ini di Indonesia?

  4. Wah, koq virus penyakit modern koq bisa masuk ke wilayah yang jaraknya lumayan jauh dari peradaban modern? Harus ada tindakan pencegahan yang harus segera dilakukan nih :)

  5. banyak yang posting tentang desa ya…
    bagaimana ya jika dusun gerjo dibandingkan dengan baduy?
    kalau engga pakai sabun, pakainya sejenis tumbuhan yang dapat mengeluarkan busa itu mas gie…

  6. Waktu aku pernah nonton di Trans TV tentang suku baduy ini. Dan benar, mereka seperti yang mas ceritakan. Ada 1 lagi yang unik, pernikahan suku baduy benar2 sederhana dan kalau dilihat dari segi agama, ya benar2 seperti itu. Yang penting ada saksi, penghulu dan mas kawin berupa uang 2 ribu rupiah, TUNAI

  7. walau saya belum pernah ke pemukiman suku baduy, apa lagi bduy dalam, tapi saya rasa saya juga mampu memahami apa yang terjadi di sana. mengingat di tempat saya sekarang masyarakat adat juga masih kuat memegang kepercayaanya dan itu membuat mereka “jauh tertinggal” dari para pendatang. dan kondisi yag seperti ini bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak senang akan kedamaian yang telah berusaha dijaga di negeri ini, walau kearifan lokal masih terjaga dengan baik di kalangan masyarakat adat

  8. Kebetulan mas, saya salah satu petugas Kemenkes yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut kesana. InsyaAllah lusa kami berangkat. Mohon doa dari semuanya.

  9. menjadi suku baduy tidaklah terhina di bandingkan gembel di kota2, sebuah suku yg memegang teguh pendirian akan kearifannya kecintaan kpda ssma dan alam menjadikan mrka lbh punya harga diri di banding segelintir manusia2 modern yg rakus, perusak alam dan rusak moral.

    cuma sedikit harapan bagi saya seorang keturunan sunda wiwitan agar saudara2 suku baduy mau sedikit mmbuka diri dgn pendidikan, krna pndidikan mmbuat mrka lbh cerdas tanpa meninggalkan adat istiadat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *