Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Apakah Indonesia Pantas Dijuluki “Negeri Seribu Gajah”?

Thailand termasyhur dengan sebutan Negeri Gajah Putih, namun ada dua versi kisah tentang gajah putih itu. Kisah pertama bercerita tentang gajah berkulit putih yang disucikan oleh orang Thailand. Raja-raja Thailand memelihara gajah putih itu di dalam istananya. Rakyat jelata bisa diberikan gelar kebangsawanan bila bisa menangkap dan menghadiahkan gajah putih kepada sang raja. Kisah satunya lagi menceritakan gajah putih hanya sebagai simbol kebersihan dan kemerdekaan. Julukan Negeri Gajah Putih didasarkan pada fakta bahwa Thailand adalah satu-satunya negara ASEAN yang tidak pernah dijajah. Namun dibandingkan dengan Thailand, saya rasa Indonesia mempunyai lebih banyak keberagaman gajah. Berikut jejak-jejak keberagaman gajah di Indonesia yang saya himpun ;

1. Konservasi Gajah di Way Kambas

Gajah yang hidup di Indonesia termasuk ke dalam kelompok gajah Asia yang memiliki telinga lebih kecil dibanding gajah Afrika. Di antara konservasi gajah yang ada di seluruh Indonesia, Way Kambas adalah konservasi terbesar Gajah Sumatera (Elephas maximus sumtranus). Pembangunan Pusat Konservasi Gajah Way Kambas pada tahun 1985 adalah salah satu upaya pelestarian mamalia darat terbesar yang masih lestari di dunia ini. Ketika itu populasi gajah semakin berkurang karena banyak gajah yang diburu dan dibunuh. Selain karena gadingnya yang mahal, gajah dianggap merugikan karena merusak perkebunan warga. Di Pusat Konservasi Gajah Way Kambas, gajah-gajah liar dijinakkan, dilatih, dan dikembangbiakkan. Sampai sekarang PKG Way Kambas telah melatih sekitar 300 ekor gajah yang mungkin Anda temui di salah satu pertunjukan sepakbola gajah di kota Anda.

2. Sarung Gajah Duduk

Akhir-akhir ini saya bertanya ke beberapa orang apakah merek sarung yang paling terkenal. Hasil survei kecil-kecilan saya itu menunjukkan bahwa yang paling terkenal adalah Sarung Gajah Duduk. Meskipun iklan Sarung Gajah Duduk sudah jarang terlihat, sarung produksi PT. Pismatex Textile Industry itu menjadi ikon sarung Indonesia. Sejarahnya, pada tahun 1972 almarhum Ghozi Salim mendirikan pabrik sarung di Pekalongan. Ketika itu, pabrik sarung itu memperkerjakan sekitar 100 orang untuk memproduksi sarung dengan merek resmi Sarung Gajah Duduk. Untuk menghadapi persaingan global, pabrik sarung itu kemudian mengubah statusnya dari industri rumah tangga menjadi perseroan terbatas pada tahun 1994. Setahun kemudian, Sarung Gajah Duduk telah memasuki pasar internasional. Sarung Gajah Duduk sudah menjadi produk Indonesia yang menguasai pasar sarung internasional.

3. Mahapatih Gajah Mada

Saya kadang merasa aneh mengamati kembali perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Bukan nama raja-rajanya, namun nama pembuat keris Empu Tantular dan nama patih Gajah Mada yang saya ingat. Mahapatih Gajah Mada begitu terkenal karena tekatnya untuk mempersatukan nusantara. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pada Abad ke-13 Gajah Mada telah mempunyai visi yang jelas tentang persatuan dan nasionalisme. Pantas saja bila Gajah Mada pernah diberi gelar Pahlawan Nasional, meski kemudian mengundang perdebatan panjang. Namun Sumpah Palapa yang pernah diucapkan Mahapatih Gajah Mada adalah simbol tekat persatuan nusantara yang begitu kuat. Nama Gajah Mada pun sekarang banyak digunakan sebagai nama jalan-jalan besar di berbagai kota besar dan juga salah satu nama universitas besar di Indonesia, yaitu Universitas Gajah Mada.

4. Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri

Waduk Gajah Mungkur yang terletak di Kabupaten Wonogiri selain berfungsi sebagai bendungan juga digunakan untuk tempat rekreasi dan pembangkit listrik. Awalnya Waduk Gajah Mungkur dibangun untuk mengatasi banjir Sungai Bengawan Solo. Waduk Gajah Mungkur mulai dibangun sejak awal tahun 1970-an dan selesai pada tahun 1978. Untuk membangun waduk seluas 8.800 hektar itu, 51 desa harus dikorbankan dan 67.157 orang harus ditransmigrasikan ke Sitiung Sumatera Barat. Untuk mengenang pengorbanan 12.157 keluarga yang dipindahkan itu, di dekat Waduk Gajah Mungkur dibangun Tugu Peringatan berupa Patung Bedhol Deso. Kini waduk yang meliputi tujuh kecamatan ini mengairi lahan pertanian di daerah Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, dan Sragen.

Selain gajah-gajah di atas, sebenarnya Indonesia masih punya banyak “gajah”. Sebut saja Ban Gajah Tunggal yang menjadi ban papan atas di Asia Tenggara. Ada juga Kampung Gajah yang menjadi pusat wisata kuliner baru di Kota Bandung. Selain itu, Bahasa Indonesia juga menggunakan kata “gajah” dalam beberapa peribahasa Indonesia. “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat.” “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” “Gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah.” Sebagai penutup, bila tulisan ini banyak salah, saya ingin mengucapkan, “Tak ada gading yang tak retak.” 🙂

31 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *