Giewahyudi.Com
Contact Giesaya@giewahyudi.com

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dalam Menyikapi Peristiwa Terorisme?

Seminggu terakhir menjadi minggu yang penuh dengan aksi terorisme. Mulai dari kerusuhan narapidana teroris (napiter) di Mako Brimob Kelapa Dua Depok sampai beberapa aksi teroris di Kota Surabaya. Saya hampir memantau setiap kejadian itu melalui sosial media. Malam saat kerusuhan terjadi di Mako Brimob, saya memantau di timeline Twitter mulai dari saat Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal (Pol) Muhammad Iqbal meninggalkan sebuah acara di stasiun televisi dan harus segera ke Mako Brimob.

Tidak banyak informasi di sosial media setelah, beberapa media online pun minim informasi. Tidak lama setelah itu di timeline Twitter saya beredar beberapa akun yang me-retweet konten foto dan video yang diklaim dari dalam Mako Brimob. Saya meminta teman saya yang me-retweet itu untuk meng-undo retweet tersebut karena informasinya belum tentu benar dan bisa memprovokasi. Malam itu saya nunggu keterangan resmi dari pihak Polri dan akhirnya pukul 01.00 WIB Brigjen M Iqbal memberikan keterangan resmi.

Setelah memposting tweet keterangan resmi dari Brigjen M Iqbal tersebut, saya tidur sekitar dua jam dan paginya langsung menuju Gedung Promoter, Polda Metro Jaya. Pagi itu saya menghadiri undangan Coffee Morning Kapolda Metro Jaya Bersama Netizen. Jadi sejak bangun sampai tiba di Polda Metro Jaya saya tidak memantau timeline Twitter. Acara yang seharusnya dimulai pukul 08.00 WIB diundur karena Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Aziz masih dalam tugas menangani kerusuhan di Mako Brimob.

Acara coffee morning akhirnya dimulai pukul 10.30 WIB dan dibuka oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono. Kombes Argo Yuwono meminta maaf karena acara mundur beberapa jam karena kejadian di Mako Brimob. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Aziz juga dipastikan tidak bisa hadir karena terus memantau penangangan kerusuhan napiter. Kombes Argo Yuwono pun mengaku hanya tidur sebentar sebelum menuju Gedung Promoter Polda Metro Jaya pagi itu.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dalam Menyikapi Peristiwa Terorisme?

Kombes Argo Yuwono mengajak netizen untuk menyebarkan berita baik karena saat ini banyak sekali pihak-pihak yang menyebarkan berita hoaks dan ujaran kebencian di sosial media yang dikait-kaitkan dengan masalah politik. Netizen diharapkan tidak ikut menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian serta mulai memperbanyak berita baik, konten positif, dan pesan yang bermanfaat untuk masyarakat. Dengan memposting konten positif, tidak mudah memprovokasi ataupun terprovokasi, lama kelamaan konten hoaks akan berkurang.

Dalam kesempatan itu, Wicaksono (@ndorokakung) mewakili teman-teman blogger pertama-tama mengajak netizen untuk mendoakan dan bersimpati jajaran Polri yang sedang bertugas di Mako Brimob. Wicaksono mengingatkan banyaknya pengguna media sosial maka kontennya pun semakin banyak, baik konten positif maupun negatif. Wicaksono menyambut baik lomba konten positif yang digelar Polda Metro Jaya. Dengan semakin banyaknya konten positif, Wicaksono berharap sosial media menjadi lebih nyaman dan Polri tidak perlu repot-repot harus nangkepin orang.

Pulang dari acara coffee morning itu, kabar duka menyebut lima polisi yang disandera napiter gugur. Mereka adalah Iptu Yudi Rospuji Siswanto, Aipda Deni Setiadi, Brigpol Fandi Setyo Nugroho, Briptu Syukron Fadli, dan Briptu Wahyu Catur Pamungkas. Dalam suasana duka itu, saya ikut meramaikan timeline Twitter dengan tagar #KamiBersamaPOLRI. Netizen mendukung upaya Polri menangangi kerusuhan napiter di Mako Brimob dan berharap satu polisi yang masih disandera yaitu Briptu Iwan Sarjana bisa dibebaskan dengan selamat.

Sore itu Kapolri Tito Karnavian memutuskan untuk mempercepat kepulangannya dari kunjungan ke Yordania. Polri memberikan kenaikan pangkat luar biasa anumerta untuk kelima polisi yang gugur. Sementara itu Brigjen M Iqbal menyatakan bahwa Iwan Sarjana dalam kondisi baik dan terus diupayakan pembebasannya. Malam harinya polisi memberikan ultimatum agar para napiter menyerahkan diri tanpa syarat, jika tidak maka polisi akan melakukan penyerbuan. Ultimatum itu direspon baik 145 napiter, namun 10 napiter masih bertahan. Tidak lama kemudian pasukan penyerbu bisa melumpuhkan 10 napiter itu.

Aksi teror di Kota Surabaya tidak lama berselang setelah kerusuhan napiter di Mako Brimob benar-benar menjadi ujian bagi netizen. Kabar baiknya di timeline saya banyak yang mengajak untuk tidak menyebarkan konten foto dan video korban aksi teror karena itulah yang diinginkan pelaku teror. Menyebarkan foto/video korban yang terluka di lokasi kejadian sama artinya membantu teroris menebarkan ketakutan. Dalam aksi teror seperti itu, netizen sebaiknya bersikap tenang dan mencari informasi dari media terpercaya. Hindari provokasi di sosial media dan manfaatkan fitur laporan di media sosial jika ada akun yang memprovokasi di saat seperti itu.

170 Total Views 2 Views Today
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *