Advertorial Gie, Finance Gie

5 Cara Mengatur Keuangan yang Dipelajari dari Sinterklas

Bicara soal Natal, tentu tidak bisa lepas dari sosok Sinterklas yang sudah menjadi ikon perayaan Natal. Menurut sejarahnya, Sinterklas bernama asli Santa Nikolas, seorang uskup dari Myra yang baik hati dan menjadi pelindung bagi pelaut, pemanah, anak-anak, tuna susila, ahli obat,  hingga tahanan. Pada hari pestanya, 6 Desember, Santa Nikolas membawa hadiah untuk anak-anak. Inilah yang kemudian menjadi budaya pemberian hadiah untuk anak-anak setiap perayaan Natal.

Kisah Santa Nikolas ini menyebar ke mana-mana dan kisahnya dicampur dengan cerita lokal. Akhirnya nama Santa Nikolas dikenal juga sebagai Santa Klaus, Santo Nick, Father Christmas, Santy, Sinterklaas, dan Sinterklas. Di Tiongkok juga ada Sinterklas bernama Dun Che Lao Ren. Anehnya, tahun 1970 Paus menghapus nama Sinterklas dari daftar orang suci karena kisahnya lebih banyak dongeng dan khayalan saja, meskipun ia dikenal sebagai uskup gereja Katolik.

Sinterklas Santa Claus

Meskipun kisahnya dihapuskan oleh Vatikan, saya tertarik untuk mengulik aktivitas Sinterklas dalam menyiapkan perayaan Natal. Sepertinya saya bisa belajar cara mengelola keuangan dari apa yang dilakukan Sinterklas ini.

1. Buatlah Daftar Kebutuhan Sebelum Berbelanja

Dalam kisah Sinterklas versi Belanda, De Goede Sint, dibantu oleh Zwarte Piet atau Piet Hitam yang mukanya berwarna hitam karena jelaga cerobong asap. Salah satu tugas Piet Hitam adalah menulis daftar hadiah yang dibutuhkan anak-anak. Saya seharusnya mulai mengikuti apa yang dilakukan Piet Hitam ini. Kalau ke mall biasanya tidak punya daftar belanja, pulang-pulang baru sadar ternyata apa yang saya beli bukan apa yang saya butuhkan, tapi apa yang saya pengen saja.

2. Belanjalah Sebelum Musim Natal Tiba

Dibantu oleh Nyonya Sinterklas dan para kurcaci, Sinterklas menyiapkan hadiah untuk anak-anak sepanjang tahun. Jadi setelah menerima daftar hadiah dari Piet Hitam, Sinterklas mulai membeli hadiah-hadiah tersebut. Sinterklas membeli hadiah itu jauh sebelum musim Natal tiba karena selain tidak takut kehabisan barang, biasanya harganya jauh lebih murah, kadang dikasih diskon besar-besaran. Jadi saya juga harus kayak Sinterklas, belanja hanya di saat diskon besar-besaran. 🙂

3. Kalau Bisa Buat Sendiri, Kenapa Harus Beli

Selain pintar berbelanja, Sinterklas juga membuat sendiri beberapa hadiah, tentunya dibantu oleh Nyonya Sinterklas dan para kurcaci. Hadiah yang paling banyak diminta oleh anak-anak adalah mainan, robot, boneka, lego, atau baju. Tidak semuanya harus dibeli, misalnya baju. Kalau gemar menjahit, baju karya sendiri tentu lebih berkesan dibanding dengan membeli baju jadi. Apalagi sekarang belajar menjahit bisa melalui internet, jadi bikin baju buat anak sendiri jadi lebih mudah.

4. Jangan Mengandalkan Uang Pemberian Orangtua

Sinterklas dilahirkan dari keluarga yang berada, namun ia tidak mengandalkan kekayaan orangtuanya untuk melakukan kegiatan sukarelanya. Meskipun tidak disebutkan dengan jelas bagaimana cara Sinterklas memperoleh uang untuk membeli hadiah-hadiah itu, Sinterklas dipercaya sebagai orang yang pintar mengelola keuangannya. Kalau tidak, tentu Sinterklas akan bangkrut karena semua uang yang diberikan orangtuanya tentu akan habis juga kalau ia ceroboh.

5. Jadilah Orang Dermawan yang Terselubung

Seperti yang diajarkan dalam Alkitab, Sinterklas selalu berusaha tidak terlihat saat memberikan hadiah. Suatu kali Sinterklas melemparkan uang dari cerobong asap dan uang tersebut masuk ke dalam kaos kaki yang digantungkan di dekat api pemanas. Apa yang dilakukan Sinterklas sungguh mulia, rasanya saya perlu berbagi dengan orang yang membutuhkan. Saya bisa membelanjakan uang dalam waktu yang cepat, namun kadang ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Sinterklas Santa Claus

Ternyata banyak hal tentang keuangan yang bisa saya pelajari dari Sinterklas. Tidak menutup kemungkinan juga masih ada beberapa hal lagi yang bisa kamu pelajari dari sosok Sinterklas. Oh iya, tulisan tentang Sinterklas ini semoga bisa jadi kado buat teman-teman yang merayakan Hari Natal ya. 🙂

5404 Total Views 4 Views Today

21 Comments

  1. point pertama boleh juga. meski tetep saja kalau udah sampai mall / supermarket. Belanja gak ngeliat daftar, apa yang enak dimata disikat apalagi kalau bawa anak, suka diluar dugaan dan prakiraan daftar belanjaannya 😀

  2. no.5 itu yg patut dipahami ya mas gie, apalagi kalau kita tahu, banyak orang memberi, tapi ingin namanya dikenang, ingin wajahnya dilihat dulu, dan ingin orang yg menerima mengucapkan terima kasih. Hingga inti dan makna pemberian itu hilang. kan sayang. 🙂

  3. Nah ini perlu dibaca sama ornag yg tertutup hatinya, yg antipati terhadap ajaran agama lain selain agamanya sendiri, yg menganggap agama lain itu SELURUHNYA salah..

    Padahal kalau kita mau membuka mata hati, semua agama khan mengajarkan kebaikan. Fokus kita ke situ, gak usah menyangkut pautkan sama siapa “Tuhan” mereka. Itu sudah masuk ranah “rahasia” yg gak perlu diperebatkan.

    Sekian.

    *tumben diriku komen serius ya*

  4. Betul banget kang, lebih baik buat sendiri daripada harus beli. Karena apapun yang kita buat sendiri lebih hemat dan juga hasil yang diberikan akan membuat hati senanga. Lagipula anak juga akan tahu kalau itu buatan kita sendiri 🙂
    Daripada beli, karena akan menggunakan banyak uang hahaha bukannya pelit, tapi kalau memang bisa DIY, kenapa harus beli?
    Just my two cents 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *